Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-23


__ADS_3

Wina dan Zain sudah berada di ranjang mereka. Sebelum tidur mereka selalu melakukan pillow talk, menceritakan kegiatan mereka masing masing. Wina membuka kancing piyama Zain, dia menyandarkan kepalanya sambil menciumi dada Zain. Wina tidak sadar jika sedikit saja sentuhannya membangkitkan ribuan volt gairah di tubuh Zain. Apalagi Zain sudah puasa hampir 2 bulan.


"Sayang, kenapa kamu menggodaku, kamu tahu aku masih harus puasa 2 minggu lagi" rengek Zain sambil mengeratkan pelukannya untuk mengontrol gairah yang sudah mulai naik.


Ya setiap hari Zain melingkari kalendernya untuk menghitung kapan waktunya dia 'berbuka'. Wina yang merasa ada tonjolan di perutnya pun tersenyum.


"Apa Oppa sangat menginginkannya?" tanya Wina dengan suara mendesah.


"Sayang, kau tahu aku selalu menginginkanmu jika berada di dekatmu" lirih Zain sambil memejamkan matanya.


"Kalau begitu lakukanlah" perintah Wina.


"Apa sudah boleh sayang?" tanya Zain dengan wajah sumringah.


"Boleh, tapi pelan ya" ucap Wina.


"Yes akhirnya, Sayang nanti kalau aku terlalu kasar kamu ingetin ya, takutnya aku khilaf hehehe" seru Zain dengan wajah yang menggemaskan seperti anak kecil yang baru dapat permen.


Akhirnya Zain berbuka untuk pertama kalinya. Senyum bahagia tak lepas dari wajah Zain, seperti sudah melepaskan beban yang beribu ribu ton. Zain menutup tubuh polos Wina dengan selimut. Dia pun menciumi bahu putih Wina yang tak tertutup selimut itu.


"Oppa, bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Wina.


"Ingin apa hhhmmm?" tanya Zain sambil membelai punggung istrinya.


"Tapi janji, Oppa jangan marah" ucap Wina hati hati.


"Memangnya kamu ingin apa? Kenapa aku harus marah?" sahut Zain.


"Mmm, aku ingin berlibur ke Indonesia" lirih Wina.

__ADS_1


"What!, Sayang kandunganmu belum masuk trimester 2, perjalanan ke Indonesia paling sedikit membutuhkan waktu 29 jam, akan sangat beresiko untuk kandunganmu, kamu tidak ingin kan dia kenapa kenapa?" jelas Zain sambil mengusap perut istrinya.


"Kan kita bisa tanya dokter dulu, kalau memang tidak boleh ya aku gak akan memaksa, aku cukup tahu kondisiku saat ini" rengek Wina.


"Sayang, please tolong mengerti! Seandainya dokter pun mengizinkan, aku yang tidak boleh, aku khawatir, disana kamu sendirian karena aku tidak bisa ikut pergi menemanimu berlibur. Kita berlibur yang dekat saja ya. Hawai bagaimana,? ucap Zain mencoba membujuk istrinya.


Wina yang keinginannya tak terpenuhi pun langsung cemberut lalu tidur membelakangi suaminya. Zain menghela napas kasar, dia harus lebih bersabar menghadapi emosi istrinya yang mirip roller coster.


Keesokan paginya, Zain terbangun namun tak mendapati sang istri di sampingnya, mungkin Wina sedang menyiapkan sarapan, begitu pikirnya. Dia pun bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi dia langsung turun ke bawah, tapi istrinya masih belum terlihat. Dia pun menanyakan pada Bibi, kemana istrinya.


"Bi, Wina kemana?" tanya Zain.


"Nyonya tadi keluar Tuan, tapi gak bawa mobil" jawab Bibi.


"Kemana dia, apa dia masih marah gara gara semalam sehingga pergi tanpa pamit, awas saja, nanti malam aku hukum kamu" gumam Zain lalu pergi ke rumah sakit. Sepanjang jalan menuju rumah sakit Zain mencoba menelepon istrinya beberapa kali, namun yang dia dengar hanya suara operator. Kalau tidak ada jadwal operasi pagi ini, Zain pasti minta cuti untuk mencari istrinya. Namun apa daya tugas di depan mata sehingga dia memutuskan untuk mencari istrinya setelah operasi dan jadwal prakteknya.


Sebenarnya Wina juga gak ingin pergi tanpa pamit, namun entah mengapa sejak keinginannya ditolak semalam, hatinya dongkol sekali, ingin rasanya dia memukuli dan mencaci Zain. Maka dari itu dia memilih menghindar, agar tidak melampiaskan kemarahannya pada suami tercinta.


"Ah tenangnya, pasti si Oppa lagi menggerutu, ingin menghukumku hihihi.." kikik Wina membayangkan wajah kesal suaminya.


Saat matahari sudah berada di atas kepala, Wina pun mengirimkan makanan untuk suaminya, karena suaminya pasti belum sarapan. Dia menelepon salah satu restoran untuk mengantarkan makanan ke rumah sakit.


"Dokter, ini ada kiriman makanan" kata perawat yang membantu Zain.


"Dari siapa?" tanya Zain.


"Tidak tahu Dok, tadi kurirnya tidak bilang" jawab perawat tadi.


Zain yang sudah lapar pun langsung membuka paper bagnya. Dia langsung melahap semua makanan kesukaaannya itu. Dia tak peduli siapa yang memberikannya, yang penting dia kenyang.

__ADS_1


Setelah puas bermain air, Wina pun mengirimi Zain gambar dirinya saat di pantai



Melihat ada pesan masuk, Zain pun membukanya. Dia tersenyum melihat gambar yang dikirim istrinya. Dia mengira istrinya sudah tidak marah. Nanti setelah pulang dia akan membawakan sang istri bunga kesukaannya.


Zain sudah sampai di rumah, dia sudah membelikan mawar putih kesukaaan Wina. Namun saat melihat lampu kamar yang belum menyala, Zain cemas. Dan dia masih berpikir bahwa istrinya sudah tidur.


Klik..


Lampu sudah menyala, namun tidak ada seorang pun dikamar. Kondisi ranjang juga masih seperti saat dia pergi pagi tadi. Selimut dan pakaian masih berserakan di bawah. Itu artinya Wina belum pulang. Memang semenjak Zain menikah Bibi sudah tidak diperbolehkan Wina membersihkan kamar mereka.


Zain yang panik langsung turun ke bawah, dia berteriak memanggil ART nya.


"Bibi...!!" teriak Zain.


Bibi yang mendengar teriakan Tuannya pun langsung lari ketakutan meninggalkan pekerjaan yang dilakukanmya saat ini.


"Ya Tuan.." jawab Bibi terengah engah.


"Nyonya belum kembali" tegas Zain.


"Belum Tuan" jawab Bibi ketakutan.


Mendengar jawaban Bibi, Zain langsung pergi meninggalkan rumahnya. Dia akan mencari istrinya yang masih ngambek itu. Zain pun melajukan mobil dengan kencang menuju pantai terdekat sesuai dengan foto yang dikirim istrinya tadi. Zain tak mengira jika istrinya masih marah.


Begitu sampai di pantai. Zain pun bertanya pada resepsionis resort pantai dimana kamar istrinya. Begitu mendapatkan kartu akses kamar Wina. Zain langsung berlari menuju ke kamar.


"Hah hah hah, dasar Wina membuatku sampai ngos ngosan lari malam malam" gerutu Zain. Padahal gak ada yang nyuruh Zain lari lari ya..

__ADS_1


Ruangan sudah dibuka. Zain mendapati istrinya tertidur pulas berselimut tebal. "Hah, suami cemas setengah mati, eh dianya malah enak tidur" oceh Zain. Tapi yang di gerutui sedang tidur nyenyak, jadi mau ngomel apapun juga gak denger kan.


Zain menyibak selimut istrinya dengan kasar berharap Wina kaget kemudian terbangun setelah itu dia akan mengomeli istrinya panjang lebar, lalu menjewer telinga istrinya itu. Namun justru yang terbangun adalah sesuatu yang lain di bagian tubuh Zain saat melihat istrinya tidur memakai lingeri warna merah menyala dengan pose yang sangat menggoda. Hahaha Zain gak bisa marah ya....


__ADS_2