
Rombongan pesawat jet sudah mendarat di Indonesia. Papa Juan adalah mantan mafia, anggotanya masih banyak meski sudah tidak aktif lagi. Tapi karena kasus penculikan calon menantunya, ia kerahkan semua anggotanya untuk membantunya saat ini. Bagi mereka tidak sulit menemukan keberadaan Dion saat ini.
Begitu mendarat mereka langsung menuju ke villa Dion. Mereka takut kalau Dion berbuat yang tidak baik pada Wina. Mereka sampai di villa saat subuh, namun mereka tidak langsung masuk. Mereka harus melihat dahulu berapa orang yang jaga diluar dan didalam.
Wina sudah sadar, ketika membuka mata dia melihat ruangan yang terasa asing. Dia pun bergumam, "Dimana ini, kenapa mirip kamar hotel."
"Nona sudah sadar, mari saya bantu berpakaian" ucap pelayan itu.
"Kamu siapa?" tanya Wina.
"Saya Marie, saya yang bertugas untuk melayani anda Nona, sekarang Nona harus segera mandi lalu ganti baju" jawab pelayan itu.
"Kenapa harus ganti baju" sanggah Wina.
"Hari ini kan anda akan menikah, jadi saya harus membantu anda ganti baju, periasnya sebentar lagi akan datang" balas Marie.
Wina pikir dia akan menikah dengan Zain, dia pun mengomel sendiri, "Dasar oppa, katanya cuma tunangan, kenapa sekarang jadi langsung nikah, mentang mentang kaya seenaknya saja ganti ganti acara, dan lagi kenapa ayah setuju setuju saja." Lalu Wina pun masuk ke dalam kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, Wina melihat perias sudah datang. Wina lalu dirias oleh MUA tadi, dasarnya Wina udah cantik, dirias sedikit aja jadi makin cantik. Apalagi ditambah kebaya warna putih dengan ekor menjuntai sampai ke tanah menambah kecantikan dan keanggunannya.
"Nona tunggu disini dulu ya, nanti kalau sudah terdengar kata 'Sah' baru Nona keluar menemui Tuan Dion" ucap Marie.
"Tunggu kenapa jadi Dion, bukannya aku akan menikah dengan Zain" protes Wina
"Maaf nona Tuan kami adalah Tuan Dion, dan saat ini dibawah sedang berlangsung akad nikah Nona dengan Tuan Dion" sanggah Marie.
__ADS_1
"Dimana ini" tanya Wina
"Anda berada di villa milik Tuan Dion di daerah Puncak" jawab Marie.
Hancur sudah hati Wina mendengar pernyataan Marie tadi. Dia ingat kemaren dia akan pergi ke bandara untuk menjemput paman dan bibinya. Lalu saat berada di dalam taksi tiba tiba dia tertidur dan terbangun sudah berada di dalam kamar ini. Itu berati Dion menculiknya.
Wina menangis sejadi jadinya, memikirkan bagaimana nasib ke depannya nanti bersama Dion, sedangkan luka di hatinya belum sembuh akibat pengkhianatan Dion. Marie yang melihat sang Nona menangis tersedu sedu pun bingung hingga ia memutuskan untuk memeluk Wina sambil menenangkannya, "Sudah Nona, jangan menangis, saya tidak tahu masalah Nona dengan Tuan Dion, tapi segala yang terjadi pastilah ada maksud dan tujuan dari sang Pencipta, sekarang Nona jangan nangis lagi ya nanti riasannya rusak" ucap Marie sambil mengusap usap bahunya.
Setelah mendengar ucapan Marie, Wina pun berhenti menangis, walaupun hatinya masih kacau setidaknya dia merasa lebih tenang. Perias pun kembali memperbaiki riasan luntur akibat tangisan Wina tadi.
Begitu terdengar kata 'Sah' Wina kembali menangis. Marie pun kembali memeluknya mencoba menguatkan, setelah agak tenang barulah Wina dibawa keluar oleh Marie. Mereka tidak tahu jika sebelumnya terjadi baku hantam di bawah sana. Setelah duduk di samping suaminya, Wina pun melihat calon suaminya, begitu melihat suaminya tersenyum, dia kembali menangis tersedu sedu. Sang suami pun memeluknya, "Kenapa malah menangis hhmm, bukankah ini hari bahagia kita" tanya sang suami.
Wina pun bertanya, "Oppa dimana Dion, bukankah seharusnya dia yang menikahiku, dan kenapa oppa bisa ada disini?."
"Bukan aku malah senang kalau memang oppa yang menikahiku, tadi Marie bilang Dion yang akan menikahiku" sanggah Wina sambil menggenggam tangan Zain.
"Kita lanjutkan dulu acaranya, baru setelah itu akan aku ceritakan," ucap Zain.
"Silahkan dipasangkan cincinnya, kemudian dicium tangan suaminya" ucap Pak penghulu.
Zain langsung memasangkan cincin tunangan mereka pada jari manis Wina, begitupun sebaliknya. Lalu Wina mencium tangan Zain kemudian Zain mencium kening Wina. Setelah penandatanganan berkas berkas mereka pun berfoto bersama.
Setelah Pak penghulu meninggalkan rumah, Zain menyuruh Win duduk disampingnya. "Sini sayang, aku akan menceritakan kejadian sebenarnya" ucap Zain sambil menggenggam tangan Wina.
Flashback
__ADS_1
Begitu 2 pengawal didepan gerbang berhasil dilumpuhkan Zain beserta kru nya bisa masuk ke dalam. Di depan pintu masuk masih ada 2 pengawal lagi. Zain pun mengalihkan mereka dengan melempar batu ke arah selatan, begitu mereka menoleh kesana, Zain langsung membekap mereka berdua dengan sapu tangan bius.
Didalam rumah Dion sudah siap menjabat tangan Pak Penghulu untuk melaksanakan akad nikah, alangkah murkanya Zain melihatnya, dia langsung menarik Dion dan memukulnya membabi buta. Pak Penghulu yang melihatnya ketakutan, dia tidak berani melerai.
Setelah Dion tak berdaya, Zain menyuruh anak buahnya untuk membawanya. Kemudian dia memberitahukan Pak Penghulu duduk permasalahannya. Pak Penghulu pun meminta Zain menghubungi ayah Wina apabila ingin pernikahan ini dilanjutkan.
Zain pun menelepon Ayah Wina dan menceritakan kejadian disini. "Bagaimana ayah, apa boleh saya menikahi Wina saat ini, maaf jika pernikahan ini harus terjadi seperti ini, tapi ini demi kebaikan Wina, Zain takut kejadian ini akan terulang kembali jika Zain tidak menikahi Wina saat ini" seru Zain meyakinkan.
Setelah berembuk dengan istrinya, akhirnya Ayah Wina menyetujui keinginan Zain. Dia pun menyerahkan hak wali sepenuhnya kepada Pak Penghulu disana. Hingga terjadilah pernikahan itu.
Wina yang menangis bahagia pun memeluk suaminya. "Sudah jangan menangis lagi, sekarang kita pergi dari sini, kita menginap di hotel sementara, atau kamu mau bulan madu disini dulu sebelum kembali ke Baltimore" goda Zain.
Mendengar kata bulan madu Wina tersipu malu, dia pun berkata"Kita pulang saja Oppa, kasihan ayah dan ibu disana, nanti kita bulan madu setelah acara resepsi saja."
Rombongan Zain cs pun pergi meninggalkan villa, mereka memilih menginap di villa dekat situ untuk menghindari kelelahan. Begitu masuk kamar, Zain langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
"Kau tau sayang, aku tidak tidur sejak dari Baltimore" ucap Zain sambil memejamkan matanya.
"Kenapa tidak tidur Oppa, harusnya di pesawat kau gunakan untuk beristirahat" balas Wina.
"Bagaimana aku bisa tidur sayang, memikirkan dirimu dibawa oleh cecunguk sialan itu, gimana kalau kamu diapa apakan olehnya" seru Zain.
"Ya sudah sekarang Oppa tidur, akan memelukmu, tapi aku ganti baju dulu" ucap Wina sambil berlalu ke kamar mandi.
Mendengar perkataan istrinya, Zain pun tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa memiliki pujaan hatinya.
__ADS_1