
"Mamaa" Rania langsung beehambur memeluk Wina. Sementara Nabil, dia bingung kenapa Rania memanggil Mommy dengan sebutan Mama.
Wina membalas pelukan Rani, meski sebetulnya, Wina tak tahu siapa gadis yang sedang memeluknya ini. Setelah puas memeluk Wina, Rania pun melepaskan pelukannya.
"Mama, kami seneng banget bisa ketemu sama Mama, setiap saat, aku selalu membayangkan bisa memeluk Mama," seru Rania.
"Mama?" tanya Wina kebingungan.
"Iya Mama," seru Rania.
"Tunggu tunggu, seumur umur, saya cuma menikah satu kali dan itu hanya dengan Papanya Nabil, kenapa kamu memanggil saya Mama?" tanya Wina.
Rania kecewa dengan reaksi Mamanya, kenapa Mamanya tidak mengakuinya. Rania pun menangis. Huaa Huaa
Wina malah bertambah bingung. "Sayang, jangan menangis, sini duduk dulu, coba kamu ceritakan, apa kamu punya foto Mama dan Papamu?" tanya Wina. Rania pun mengangguk.
"Coba tunjukkin," titah Wina. Rania pun membuka galerinya, dia kemudian menunjukkan foto Wina dan Dion saat masih berpacaran dulu.
"Astaghfirullah, Kak Dion," dengus Wina.
"Oke, sekarang Mama ceritakan, kalian dengarkan baik baik, Dulu Mama memang pernah berpacaran dengan Papamu, tapi Papamu menikah sama Mama kamu dan Mama menikah dengan Papanya Nabil, sampai disini ada pertanyaan?" tegas Wina.
Kedua kakak beradik itu kaget mendengar cerita Mamanya. Kenapa Papanya membohongi mereka hingga sampai saat ini. Apa maksud Papanya.
"Apa Mama tahu siapa Mama kami?" tanya Rania. Wina pun menganggukkan kepalanya.
"Siapa Ma?" tanya Rania.
Wina pun tersenyum, "nama Mama kamu persis seperti namamu. Mamamu adalah sahabat Papamu sejak masih SMA, namanya Nia. Mamamu meninggal setelah melahirkan kalian," cerita Wina.
__ADS_1
Pecah sudah tangis Rania, dia tidak menyangka bahwa Mamanya sudah meninggal. Nandio pun memeluk adiknya. Sama, hatinya juga sakit mendengar kenyataan ini, dan anehnya Papanya menutupi semua informasi tentang Ibunya.
"Apa Mama tahu dimana makamnya?" tanya Rania.
Wina pun menggelengkan kepalanya. "Maaf," lirihnya.
Semua orang di ruangan itu, hanya diam, mereka sibuk dengan pikiran masing masing.
"Ma, meski Mama bukan Mama kandungku, apa boleh kami tetap menganggapmu Mama?" tanya Rania.
"Tentu sayang, kalian adalah teman Nabil, yang pastinya juga akan menjadi putra dan putriku," jawab Wina.
Meski kecewa dengan Papanya, setidaknya Rania dan Nandio masih bisa menganggap Wina Mamanya, mereka akan bertanya pada Papanya saat pulang nanti.
Akhirnya mereka hanya bercerita sambil bercanda. Wina sedikit terhibur dengan adanya kedua anak Dion. Tiba tiba Wina berkata, "Kalian nggak usah pulang, tidur disini aja biar ramai, nanti Nandio tidur dengan Zico, terus Rania tidur sama Nabil. Tapi semisal kalian tidak suka. Kalian boleh tidur di kamar tamu.
Ucapan Wina bagaikan angin segar, buat Nandio, kapan lagi dia bisa memandang wajah gadis pujaannya itu siang dan malam. Nandio dan Rania langsung mengangguk menyetujui permintaan Wina.
Saat makan malam, Zico terlihat tidak welcome melihat kedua saudara kembar itu. Sebenarnya, Zico tak rela satu kamar bersama Nandio, tapi karena tak ingin membantah perintah Mamanya, dia menurut saja.
Di kamar Zico. Nandio terlihat mengagumi interior kamar Zico. Dia sangat senang dan betah berada di kamar ini.
"Nggak usah norak, seperti tidak pernah lihat kamar bagus saja," ejek Zico. Nandio hanya memberengut tanpa menjawab.
"Kamu tidur disitu aja," titah Zico sambil menunjuk sofa hitam di ujung kamarnya.
"What! Jangan begitu lah Dek, kalau aku tidur disitu kakiku nanti tertekuk, aku pasti tidak akan bisa tidur semalaman," keluh Nandio.
"Mau tidur disini atau pulang ke asrama," ancam Zico.
__ADS_1
Takut mendengar ancaman calon adik iparnya, Nandio memilih mengalah. Lebih baik dia tidak bisa tidur, daripada tidur di asrama. Kan lumayan, kalau Zico sudah terlelap, dia bisa menyelinap ke kamar Nabil.
"Awas, jangan menyusup ke kamar kakakku, kalau tidak ingin aku gantung sekarang juga," ancam Zico.
"Darimana dia tahu, kalau aku akan menyusup ke kamar Nabil, apa dia seorang cenayang," pikir Nandio.
Zico pun merebahkan tubuhnya di ranjang, melihat betapa nyamannya posisi Zico saat ini, membuat Nandio merasa iri. Ingin rasanya dia berguling guling di ranjang empuk itu. Nandio pun mencoba tidur dengan duduk.
Hingga hampir pukul 2, Nandio belum bisa memejamkan matanya. Dia melihat Zico sudah tidur, dia pun memutuskan untuk keluar.
"Ahh aman," gumam Nandio setelah berhasil keluar dari kamar Zico.
Karena perutnya terasa lapar, dia pun menuju dapur, Nandio memcari mie instan. "Dimana ya, apa mereka tidak pernah makan mie," gumamnya.
Nandio pun membuka seluruh lemari yang ada di pantry itu. Hingga diujung lemari, akhirmya dia menemukannnya. Nandio pun memasak mie itu ditambah telur dan sayur. Hhmm nikmat. Nandio pun menghabiskan mie yang dia buat tadi.
Setelah kenyang, dia pun menonton tivi di ruang tengah, dia pun memindah mindahkan semua chanel tivi, namun tak ada yang acara yang ramai. Maklum saja ini tengah malam, yang ramai saat ini hanya para makhluk halus.
Merasa tidak ada yang menarik perhatiannya, Nandio pun naik ke kamarnya. Diujung tangga, dia melihat foto keluarga Nabil. Ada Mamanya, Papa Zain, Nabil dan Zico. Keluarga yang harmonis, pikirnya. Sejak kecil, dia memimpikan memiliki keluarga yanh bahagia seperti keluarga Nabil. Tapi takdir berkata lain. Dia tidak mengenal Ibunya sejak dia masih bayi. Dia pun kembali naik, saat melewati kamar Nabil, Nandio menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan aman, Nandio pun memasuki kamar pujaan hatinya.
Dia melihat Nabil sedang tertidur nyenyak, berpelukan dengan Rania. Nandio pun merebahkan tubuhnya disamping Nabil, meski dengan ruang yang sempit, dia masih bisa memeluk gadis pujaannya itu. Dasarnya Nabil adalah tipe orang yang susah bangun, jadi saat dihimpit Nandio, dia tidak terbangun sedikitpun. Entah karena lelah, atau mengantuk, tak lama setelahnya, mata Nandio pun terpejam. Nandio tidur dengan nyenyak. Bagaimana tidak nyenyak, tidur dengan memeluk gadis pujaannya.
Nandio terbangun kala mendengar suara berisik di luar, untungnya Nandio adalah orang yang gampang bangun, mendengar suara berisik sedikit saja, dia terbangun. Dia pun melihat jam dinding. "Mampus aku, bisa bisa aku digantung beneran sama Zico," gumamnya.
Nandio langsung pergi meninggalkan kamar Nabil. Setelah menutup pintu kamar Nabil, Nandio hendak melangkah, namun suara serak dan berat, menghentikannya.
"Habis darimana kamu?" bentak Zico. Nandio tidak berani berbalik, dia hanya berdiri mematung.
"Jawab Si**an," bentak Zico.
__ADS_1
Nandio pun membalikkan badannya, dia bingung mau menjawab apa, dia tidak mungkin kan mengaku barusan tidur di kamar Nabil. Otaknya terasa buntu mencari jawabannya.
"Apa kamu habis dari kamar kakakku?" teriak Zico.