
"Tidak, aku tidak masuk ke kamar kakakmu, tadi malam aku lapar, terus aku makan di bawah, habis itu aku ketiduran di ruang tengah, kalau tidak percaya, kamu check aja di dapur, pasti ada bekas makananku," alasan Nandio.
Tanpa menjawab perkataan Nandio, Zico langsung turun ke bawah, dia melihat dapur, ternyata benar, ada bekas panci dan piring. Dia pun kembali lagi ke atas.
Sambil berkacak pinggang, dia berkata, "awas, kalau kamu bohong," ancamnya.
Zico pun kembali ke kamarnya, sementara Nandio, sedari tadi dadanya sudah dag dig dug, takut kalau Zico tidak percaya padanya, ternyata tidak. "Syukurlah" gumamnya dalam hati.
Nandio pun pergi ke ruang tengah, dia masih takut kalau sekamar dengan Zico, sepertinya, dia akan minta tidur di kamar tamu saja.
Di ruang tengah, Nandio langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya masih mengantuk, tak lama dia pun terlelap. Melihat calon kakak iparnya tidur di sofa ruang tengah membuat Zico kesal.
Ya, Zico tau semua kelakuan Nandio, hanya saja dia ingin melihat sampai sejauh mana usaha Nandio mengejar kakaknya. Zico juga sudah menyelidiki latar belakang Nandio. Bagi Zico,? Nandio cukup pantas bersanding dengan kakaknya.
"Ck, nyebelin banget sih nih orang, tidur sembarangan, awas kamu gue kerjain, baru tau rasa kamu," kesal Zico.
Zico pun menaruh garam di dalam mulut Nandio, kemudian pergi kembali ke kamar. Nandio yang sudah terlelap tak sadar jika di mulutnya penuh dengan garam. Karena merasakan getir di mulutnya, Nandio pun bangun.
"Ya Allah, kenapa asin banget, si**an, siapa yang mengerjaiku," gumam Nandio. Dia pun mencuci mulutnya di dapur.
Nandio hendak mendatangi kamar Zico, pasti calon adik iparnya ini yang mengerjainya. Saat naik ke lantai atas, dia melewati kamar Wina. Nandio mendengar suara tangisan dari dalam sana.
"Mama, Mama kenapa? Boleh nggak aku masuk?" tanya Nandio.
Wina pun membuka pintu kamarnya. "Ada apa?" tanyanya.
Melihat wajah sendu sang Mama membuat Nandio tidak tega. "Boleh masuk nggak?" tanya Nandio.
Wina pun membuka lebar pintu kamarnya. Dia sengaja tidak menutup kembali pintunya.
"Kenapa Mama nangis?" tanya Nandio.
"Tidak, Mama hanya sedih saja," jawab Wina.
"Ma, kenapa Mama nggak balikan aja sama Papa, dengan begitu kan aku bisa memeluk dan bermanja dengan Mama," ucap Nandio.
Wina tersenyum mendengar perkataan Nandio. "Kamu tahu, dulu, Papa kamu adalah orang yang paaaling Mama sayang, Papamulah yang mengajarkan cinta dan kasih sayang pada Mama. Tapi, sejak Mama menikah dengan Papanya Nabil, perasaan Mama sama Papa kamu itu hanya sebatas kakak dan adik, jadi tidak mungkin kami bersama. Kamu ini ada ada saja," kata Wina.
"Tapi Ma, Papa masih sangat menyayangi Mama, bahkan di kamar Mama foto Mama yang terpajang saat Mama masih sama Papa, bukan foto Mama Nia. Nandio juga nggak habis pikir, kenapa Papa sampai menikah dengan Mama Nia kalau ternyata Papa sangat menyayangi Mama," terang Nandio.
"Mana Mama tau. Oh iya kamu bener serius suka sama Nabil?" tanya Wina.
"Kok Mama tau? Tanya Nandio.
"Mama ini sudah banyak makan asam garam, dari cara kamu melihat Nabil, Mama tahu kamu menyukainya," kata Wina.
"Kalau kamu serius, bawa Papa kamu untuk melamar Nabil, Mama setuju," ucap Wina.
"Beneran Ma, serius?" tanya Nandio.
"Mama serius," jawab Wina.
__ADS_1
"Baiklah Ma, nanti aku akan suruh Papa kesini secepatnya, dia pasti kaget, siapa yang akan menjadi besannya kali ini," ucap Nandio.
Nandio pun menghubungi Papanya. Namun hingga dering ke 10, tidak ada jawaban. Mungkin Papa lagi meeting, pikirnya. Aku kirim pesan saja.
[To : Papa] Pa secepatnya Papa datang kesini, aku ingin melamar seorang gadis. Aku harus bergerak cepat, supaya dia tidak diambil orang.
Selepas meeting, Dion melihat gawainya. Matanya langsung membola melihat pesan yang dikirim oleh putranya.
"Dasar anak kurang ajar, kuliah belum lulus, sok sokan mau nikah, awas aja, aku ambil semua fasilitasmu," gerutu Dion.
Dion pun menelepon putranya. "Nandio, kenapa kamu harus cepat cepat menikah, apa kamu sudah menghamili anak orang?" tuduh Dion.
"Ya nggak lah Pa, Nandio ini kan anak baik, tidak mungkin berbuat seperti itu," sanggahnya.
"Terus kenapa buru buru, kenapa tidak nunggu kamu lulus kuliah. Hah," geram Dion.
"Mama Mertua yang minta Pa, aku hanya mengikuti apa kata Mama Mertua saja," jawab Nandio.
"Apa mertuamu itu matre sehingg anaknya disodor sodorkan sama kamu, karena tau kamu anak orang kaya," tuduh Dion.
"Papa jangan sembarangan bicara, bahkan kekayaan Papa tidak ada seujung kuku harta mereka," sanggah Nandio.
"Papa kesini aja, Papa pasti suka setelah melihat wajah menantumu," canda Nandio.
"Baik, Papa akan kesana secepatnya, Papa ingin lihat, apa mereka pantas bersanding dengan kita," sinis Dion lalu menutup sambungan teleponnya.
"Bukan dia yang tidak pantas Pa, tapi aku yang tidak pantas," gumam Nandio.
Wina pun keluar dari ruang kerja suaminya. "Ada apa?" tanyanya.
"Besok atau lusa Papa sudah sampai disini," kata Nandio.
"Kamu tidak bilang kan sama Papamu, siapa Mama," tegas Wina.
"Tidak Ma," balas Nandio.
"Bagus, kita bikin surprise untuk Papamu," kata Wina.
"Bukan hanya surprise Ma, Papa pasti langsung shock berat ketika tahu Mama yang akan jadi besannya," ujar Nandio.
"Kita lihat seperti apa ekspresinya," gumam Wina.
Dion langsung memesan tiket pesawat hari itu juga. Dia tidak sabar ingin melihat calon besannya yang matre itu. Masa anak belum lulus kuliah disuruh menikah yang benar saja, begitu pikirnya.
Hampir 20 jam perjalanan Dion tempuh untuk bisa sampai ke rumah calon besannya. Dion dijemput oleh putranya dan langsung dibawa ke rumah Wina, sesuai dengan arahan Mamanya.
"Ini benar rumahnya Di?" tanya Dion tak percaya melihat rumah megah dihadapannya.
"Bener Pa, ayo kita masuk," ajak Nandio.
Mereka pun masuk ke dalam. Dion sungguh mengagumi bentuk bangunan dan arsitektur rumah calon besannya, benar benar berkelas, pikirnya.
__ADS_1
Di ruang tamu, Dion disambut oleh Zico, yang menggantikan ayahnya sebagai kepala keluarga.
"Selamat Datang Om, nama saya Zico, saya adalah adik dari calon istri anak Om," sapa Zico.
Melihat wajah pemuda di hadapannya ini, Dion merasa tidak asing, tapi dia lupa dimana mereka bertemu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Dion.
"Belum Om," jawab Zico.
"Seperti tak asing," gumam Dion yang masih bisa didengar oleh Zico. Zico hanya tersenyum saja.
Dion pun menyenggol lengan Nandio, kemudian berbisik, "mana anaknya?"
Tak lama setelah itu, Nabil datang dengan membawa nampan berisi cemilan dan minuman. Setelah menaruhnya di meja, Nabil pun mencium tangan Dion.
"Selamat datang Om, saya Nabil," sapanya.
Dion terpesona dengan wajah Nabil, wajahnya khas orang Asia tapi bermata biru, membuat dia terlihat sangat cantik dan menawan, ditambah postur tubuhnya yang tinggi dengan badan yang proporsional. Pantas saja putranya tergila gila, bahkan ingin segera menikahinya. Jangankan Nandio, dirinya juga mau kalau gadis itu mau dengannya. Dion segera menyingkirkan pikiran gilanya.
"Nabil, kuliah semester berapa?" tanya Dion basa basi.
"Sudah lulus Om, hanya tinggal mengambil gelar saja," jawabnya sopan
"Jurusan apa?" tanya Dion lagi.
"Kedokteran Om," jawab Nabil diiringi senyum manis.
Melihat senyumannya membuat Dion sampai tak sanggup melepaskan tatapannya dari gadis cantik itu.
"Kedokteran?" tanya Dion yang baru sadar dengan jawaban Nabil.
"Berarti umurnya beda jauh dong sama Nandio," ejek Dion.
Melihat kakaknya seolah diremehkan membuat Zico meradang, dia harus menyumpal mulut orang tua ini.
"Usia kakakku dengan putra Anda tidak beda jauh, hanya beberapa bulan terlahir lebih dulu, namun karena kakakku ini jenius, makanya dia bisa cepat lulus," sinis Zico.
Mendengar kata jenius, mengingatkannya pada Wina, mantan kekasihnya yang jenius, bisa lulus kedokteran bersamaan dengan dirinya. Melihat adanya aura yang panas, membuat Nandio harus mengalihkan pembicaraan.
"Mama mana sayang?" tanya Nandio pada Nabil.
"Mama masih ada sedikit urusan diluar, mungkin sebentar lagi sampai," jawab Nabil.
Dion sudah mulai berpikiran buruk, di bayangannya, mertua putranya ini adalah wanita sosialita yang gayanya selangit.
"Asaalamualaikum semua," sapa Wina.
"Waalaikumsalam," jawab mereka.
Mulut Dion memang mengucapkan salam, tapi suara lembut yang sudah dia hapal diluar kepala itu yang membuat dia shock. Dion pun menoleh ke arah pintu. Matanya langsung membola melihat wanita anggun yang sedang berjalan kearahnya.
__ADS_1
Dion langsung berdiri, dan berlari mendekatinya. Dia peluk erat tubuh wanita pujaannya itu. "Sayang, kakak kangen banget sama kamu," racaunya diringi isak tangis.