
Sudah 2 hari Wina tidak sadarkan diri. Selama itu pula Zain selalu setia menemani sang istri. Zain selalu mengamati setiap menit perkembangan istrinya. Zain sendiri bingung secara medis kondisi istrinya baik baik saja, hanya mungkin merasa lemah karena kehilangan banyak darah kemaren. Tapi mengapa sampai detik ini istrinya belum bangun juga.
Setiap hari Zain selalu bercerita tentang perkembangan putrinya seolah istrinya itu sudah sadar. Hal itu ia lakukan untuk merangsang saraf otak sang istri. Wina memang mendengar semua perkataan suaminya, tapi untuk merespon kembali, tubuhnya tak berdaya. Matanya susah untuk terbuka.
Pagi ini Zain sedang menyeka tubuh istrinya. Zain tidak akan membiarkan orang lain merawat istrinya, sambil membasuh mukanya Zain bercerita, "Sayang kamu tahu nggak, hari ini putri kita pinter loh, dia sudah bisa minum susu dari botol, sebelumnya dia meminum susu dari selang yang dipasang di hidungnya, miris sekali ya sayang, aku tak tega melihatnya."
Ingin sekali Wina berteriak menanggapi ucapan suaminya, namun suaranya hanya tersangkut di tenggorokan. "Andai aku bisa, aku akan berlari kesana Oppa, akan aku beri dia ASI, katakan padanya aku sangat menyayanginya Oppa" rintih Wina di hatinya.
Wina hanya bisa meneteskan air matanya sebagai respon perkataan Zain. Melihat itu Zain pun ikut menangis. Zain mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya.
"Jangan menangis sayang, aku akan selalu berusaha yang terbaik untukmu dan putri kita" janji Zain berharap agar istrinya membuka mata.
Ayah dan Ibu Wina hanya bisa menangis melihat keadaan putri dan cucunya, karena lahir sebelum waktunya, cucu tercintanya harus berada di ruang NICU, sementara putrinya hingga saat ini belum sadarkan diri. Ayah dan Ibu setiap hari ke rumah sakit untuk membawakan makanan dan baju ganti untuk menantunya.
Papa dan Mama Zain juga sudah tiba di Indonesia, mereka membawa Dokter Anak khusus untuk cucunya. Papa dan Mama Zain bergantian dengan Ayah dan Ibu Wina menjaga cucu mereka karena Zain tak ingin digantikan saat menjaga sang istri.
Setiap malam di dalam sujudnya, Zain selalu berdoa untuk kesembuhan istri dan anaknya. Zain sadar mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan karena dia telah mengabaikan istri dan putrinya yang masih dalam kandungan selama beberapa bulan.
Wina saat ini berada di taman yang indah, dia bermain ayunan sambil menggendong putrinya. Hingga dia mendengar suara Zain memanggilnya. Wina pun mencari asal suara, namun tak kunjung ia dapati sosoknya.
"Sayang, kamu dengar itu suara Papa, tapi dimana ya Papa?" tanya Wina pada putri cantiknya.
Sang putri hanya berkedip, seolah mengerti apa yang diucapkan ibunya. Wina sudah berkeliling taman mencari suaminya, hingga dia kelelahan dan memutuskan untuk duduk di bawah pohon untuk menyusui putrinya.
Wina bercanda ria dengan putrinya, dia mencium dan menggelitik perut sang putri hingga terkekeh. Tiba tiba Wina melihat ada sebuah pintu yang memancarkan cahaya terang, "Sayang kita kesana ya, sepertinya tempat disana bagus" ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu itu. Wina dan putrinya sudah sampai di depan pintu, "Ayo kita masuk sayang" ucapnya.
Tiba tiba monitor jantung menunjukkan garis lurus. Tiiiittt. Zain langsung kaget kemudian berlari mendekati brankar istrinya. Dia lalu mengambil alat pacu jantung yang berada di samping Wina. Belum sempat dia menempelkan pada istrinya, Zain dibuat kaget kembali.
__ADS_1
"Dok, putri anda muntah darah" begitu kata perawat. Dadanya langsung sesak, tubuhnya limbung, dia bingung, andai saja dia punya ilmu membelah diri. Dia akan melakukannya. Dia akan memeriksa keadaan putri dan istrinya. Setelah menghela napas panjang, lakukan yang terbaik untuk putriku. Aku akan mengurus istriku terlebih dahulu.
"Bismillah, bangun ya sayang" ucapnya kemudian menempelkan alat itu di dada sang istri. Percobaan pertama tidak berhasil.
Please sayang, bangun, jangan tinggalkan aku," tangisnya sambil kembali memacu jantung sang istri.
Tampak gelombang pada mesin EKG, "Dok, denyut jantungnya sudah kembali" ucap perawat itu.
Zain langsung menjatuhkan tubuhnya, didalam sujudnya dia bersyukur, Allah masih mengembalikan istrinya.
"Pantau terus keadaan istri saya. Saya tinggal melihat keadaan putri saya sebentar" titah Zain pada perawat yang jaga.
"Bagaiman kondisi putriku?" tanya Zain pada dokter Anak yang mengatasi putrinya.
"Tidak perlu panik, dia hanya mengalami alergi susu sapi, dia mengalami iritasi pada hidung dan tenggorokannya. Itu yang menyebabkan dia muntah darah, semoga ibunya cepat sadar, supaya bisa menyusui bayinya" ucap Dokter itu.
Setelah melihat putrinya, Zain kembali ke kamar sang istri. Dirinya begitu lelah. Lelah hati dan pikiran. Zain pun tidur di ranjang sang istri untuk menghilangkan gundah di hatinya.
Di alam bawah sadar, Wina yang akan masuk ke dalam pintu bersinar itu harus jatuh bersama sang putri kala dirinya didorong oleh seorang lelaki. Wina langsung menjerit, "Nabila.."
Zain yang tertidur di samping istrinya pun kaget mendengar suara sang istri, "Sayang, kamu sudah sadar. Alhamdulillah," seru Zain.
"Oppa mana nabila?" tanya Wina.
"Nabila? Nabila siapa sayang?" tanya Zain kembali.
"Putri kita Oppa, tadi aku gendong dia, sekarang dia dimana?" tanya Wina.
__ADS_1
Zain tersenyum kemudian membelai rambut hitam istrinya, dia berkata,"Jadi kamu beri dia nama Nabila?"
Wina menganggukkan kepalanya, "Kamu suka?" tanyanya.
"Suka, bagus, siapa nama panjangnya?" cecar Zain.
"Nabila Zain Pratiwi, gimana menurut Oppa?" sahut Wina.
"Suka nama yang bagus. Saat ini putri kita sedang berada di NICU, kamu tahu kan kalau dia lahir sebelum waktunya, nanti kalau kamu sudah lebih baik, kita kesana ya" jelas Zain sambil menciumi kepala sang istri.
"Sekarang aku periksa kamu dulu ya" ucap Zain.
Begitu mengetahui keadaan istrinya sudah lebih baik, Zain memerintahkan perawat untuk melepaskan semua alat yang ada di tubuh istrinya.
"Maafkan aku, aku salah, kamu tahu begitu detak jantungmu berhenti, rasanya jantungku pun ikut berhenti, jangan tinggalkan aku lagi, aku tak bisa hidup tanpamu" ucap Zain mengecup tangan
Wina.
"Bohong, buktinya kamu baik baik aja tanpaku beberapa bulan yang lalu" sanggah Wina.
"Apa kau tak tahu? Hampir setiap malam aku tak bisa tidur karena merindukanmu" sahut Zain.
Wina hanya mencebikkan bibirnya, Zain yang gemas dengan kelakuan sang istri langsung membungkam bibir Wina dengan ciumannya.
Mereka saling berpagut guna melampiaskan rasa rindu yang ada. Wina dan Zain tertawa begitu terdengar suara suster menginterupsi kegiatan mereka.
"Maaf Dok, kami tidak sengaja, silahkan dilanjutkan kembali" ucapnya kemudian berlari meninggalkan kamar Wina.
__ADS_1