Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-40


__ADS_3

Hari sudah hampir petang, Zain baru teringat istrinya saat dia sudah selesai praktek. Zain pun langsung menghubungi sang istri. Dia bingung kenapa sampai sekarang istrinya itu belum menghubunginya.


"Kamu dimana sayang, angkat dong" gumam Zain yang khawatir karena sang istri tak kunjung mengangkat telponnya.


Zain langsung menuju ke rumahnya, berharap istrinya sudah sampai di rumah. Melihat keadaan rumah yang sepi, Zain mulai khawatir. Dia langsung berlari menuju kamarnya.


Klik


Zain baru saja menyalakan lampu kamarnya. Kosong. Tidak ada siapapun disana. Zain langsung berlari ke bawah memanggil ART nya.


"Bibi" teriak Zain.


"Ya Tuan" jawab Bibi.


"Dimana Nyonya?" tanya Zain.


"Nyonya belum pulang sejak pergi dengan Tuan tadi pagi" jawab Bibi ketakutan.


Deg..


Zain yang khawatir akan keadaan istrinya langsung menelepon sang Papa.


"Pa, suruh orang melacak keberadaan Wina, sejak tadi siang dia belum pulang" ucap Zain begitu telepon terjawab.


Papa Juan tertawa terbahak bahak melihat kelakuan putranya.


"Memangnya kenapa dengan istrimu? Apa kalian habis bertengkar sehingga dia kabur?" goda Papa Juan.


"Kami tidak pernah bertengkar Pa, tadi Nabila habis imunisasi, aku tidak bisa mengantarkannya karena masih ada praktek, dia pulang naik taksi, tapi sampai sekarang masih belum pulang, aku khawatir terjadi apa apa sama dia Pa" curhat Zain.


"Mungkin dia lagi pengen jalan jalan sendiri, sesekali biarkanlah dia menikmati waktunya sendiri" nasehat Papa Juan.


"Tapi tidak biasanya dia begini Pa, dia selalu bilang kemanapun dia pergi" risau Zain.


"Ya sudah, kamu tunggu kabar dari Papa" ucap Papa Juan.


Sementara itu, di sebuah rumah mewah terlihat lelaki berdiri sambil menikmati wajah cantik sang mantan.


"Hai sayang, gimana kabarmu?" tanya Dion.

__ADS_1


Wina yang melihat Dion pun emosi, "Kenapa kakak tega ngelakuin ini sama Wina. Apa salah Wina hingga kakak tega menculik Wina" geram Wina.


"Sabar sayang, kita masuk dulu ya, nanti kamu dengarkan aku baik baik" ucap Dion.


Wina pun digiring oleh beberapa bodyguard Dion ke kamar. Wina sudah mencoba untuk berontak, namun tenaganya masih kalah dengan mereka.


"Dudukkan disana" perintah Dion.


Setelah para bodyguardnya pergi, Dion mengunci pintunya. Wina yang mulai ketakutan pun menangis tersedu.


"Kak, apa yang mau kakak lakuin, kenapa pintunya dikunci" sergah Wina.


Dion lalu mendekati Wina. Merasa dirinya terancam, Wina pun mundur perlahan.


"Kak, stop please" lirih Wina dengan air mata tak berhenti mengalir.


Sesampainya di depan Wina, Dion pun berlutut. Wina yang risih akan sikap Dion pun kembali mundur, namun dirinya sudah mentok di dinding.


"Sayang, aku gak akan melakukan hal yang tidak baik terhadapmu, yang kuminta cuma satu, mau ya jadi ibu susu anakku? Kasihan mereka, dari lahir mereka sudah ditinggalkan oleh ibunya. Bukan aku tak mencari pendonor, yang datang banyak, namun semua tidak cocok denganku, seandainya kamu jadi aku, kamu pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk anakmu, begitupun aku" jelas Dion panjang lebar.


"Jadi yang buat iklan donor asi itu kakak" tanya Wina.


"Dia cuma bilang udah ketemu sama kamu dan gak setuju aku jadi pendonornya" jelas Wina.


"Please ya sayang mau ya, kamu kan dokter pasti tahu bagaimana pentingnya asi untuk bayi" pinta Dion.


"Sebenarnya bukan aku tidak mau, tapi semua tergantung keputusan suamiku. Kalau memang suamiku melarang, pasti dia memiliki alasan untuk itu. Dan aku harap kakak bisa menghargai keputusan suamiku. Kenapa malah pake cara seperti ini? Yang ada malah suamiku dendam ama kakak" jelas Wina.


Berbagai macam rayuan Dion keluarkan untuk meluluhkan hati Wina. Pada dasarnya, hati Wina selembut sutra, hingga akhirnya dia luluh juga.


"Oke sekarang, kakak telpon suamiku dulu, kakak bilang kalau kakak minta ijin dulu, setelah itu suruh dia jemput kesini sekarang juga, baru nanti aku donorkan asiku" tegas Wina.


Dion mencoba menelepon Zain, meski awalnya terjadi adu mulut diantara mereka, namun akhirnya Zain menyetujui istrinya menjadi pendonor asi untuk anak Dion, dengan syarat Wina hanya boleh memompa asinya, bukan menyusui langsung.


Dion begitu gembira mendengar ucapan Zain yang menyetujui Wina menjadi pendonor asi bayinya. Dion pun menyuruh orang untuk membeli pompa asi dan memberikannya pada Wina.


Du lain tempat, Zain sudah uring uringan karena Dion selalu mengusik kehidupannya. Dia pun memutuskan untuk meninggalkan negara ini supaya Dion tidak lagi mengganngunya.


"Pa siapkan jet pribadi kita, besok aku akan kembali ke Amerika" putus Zain.

__ADS_1


Papa Juan hanya menyanggupi saja keinginan putranya, dia tidak mau terlalu ikut campur urusan anaknya.


"Besok, kamu tunggu di bandara" ucap Papa Juan.


Zain sudah siap untuk menjemput istrinya. Dia membawa sebuah truk kecil untuk mengangkut kulkas yang penuh dengan asi beku. Dirinya sudah sangat geram dengan kelakuan Dion yang selalu berbuat semaunya. Begitu sampai pada alamat yang diberi Dion, Zain langsung turun mencari keberadaan istrinya.


"Dion, mana istriku?" teriak Zain begitu sampai di dalam rumah Dion.


Wina yang mendengar suara suaminya langsung keluar dari kamar. Melihat wajah suaminya, Wina langsung berhambur memeluk suaminya.


"Pa, aku takut," lirih Wina.


"Jangan takut sayang ada aku disini, kamu tidak apa apa kan?" tanya Zain dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Gak apa Pa, kita pergi sekarang ya" ajak Wina.


"Ayo kita pulang" ucap Zain.


Tidak ada drama adu otot antara kedua lelaki itu. Begitu melihat istrinya, Zain langsung pergi meninggalkan rumah itu. Dion sendiri bingung, kenapa suami Wina tidak emosi, biasanya begitu melihatnya langsung saja main tonjok.


"Pa, tumben Papa tidak marah" tanya Wina saat mereka sudah berada di mobil.


"Apa tadi kamu sempat menyusui bayi itu?" bukannya menjawab, Zain malah bertanya kembali.


"Belum Pa, kenapa?" tanya Wina.


"Hehehe bagus, kamu tahu asi yang berada di dalam kulkas itu?" sahut Zain.


"Ya mana Mama tau Pa," balas Wina.


"Isi dari kulkas itu bukanlah asi mu, melainkan asi dari orang suruhanku, dan dialah nanti yang akan terus mensuplai kebutuhan anak Dion. Sampai matahari terbit dari barat sekalipun aku tidak akan rela kalau kamu menyusui putranya" jelas Zain.


"Wah, Oppa memang terbaik," pekik Wina kegirangan.


"Oh iya sayang, besok kita akan berangkat ke Amerika. Aku tidak rela jika hidup kita yang damai harus diganggu oleh tikus itu" jelas Zain.


"Kemana Oppa pergi, aku akan ikut, karena aku tidak bisa hidup tanpa Oppa cause You are my sunshine" ucap Wina sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Sudah pandai merayu rupanya" ucap Zain sambil memegang dagu istrinya.

__ADS_1


__ADS_2