
Di Amerika
Wina yang sedang menginginkan orek tempe kering, teri kering dan daging serundeng menelepon sahabatnya supaya dikirimkan ke amerika. Wina pun mengaktifkan nomor lamanya. Begitu nomor dipasang langsung muncul panggilan video call dari nomor tak dikenal. Wina pun memencet tombol warna hijau.
Wina bingung melihat balita seusia putrinya menangis tersedu sedu. Dia pun membiarkannya terlebih dahulu. Tak lama kedua balita itu memanggilnya "Mama."
Wina berpikir itu adalah anak Dewi sahabatnya yang sedang memainkan hape mamanya. Wina pun menjawab, "Ya Sayang."
Namun yang terjadi mereka malah mwnangis kembali, Wina bertambah bingung, hingga dia memutuskan untuk menenangkan mereka.
"Sayang, kenapa menangis, hmm?" tanya Wina pada kedua bocah itu.
"Kami kangen" ucap mereka kompak.
"Kangen?" tanya Wina kebingungan, pikirnya, "Mengapa anak Dewi kangen dengannya, apa Dewi sering bercerita tentangnya."
"Iya Mama, kita kangen, kapan Mama pulang ke Indonesia?" tanya mereka.
Wina mengira Dewi menyuruh anaknya memanggilnya Mama, jadi dia tidak protes. "Kalau pulang ke Indonesia, Mama belum tahu sayang, nanti Mama tanya dulu sama Om ya" jawab Wina lembut.
"Iya Mama, cepet pulang ya! Supaya kita bisa main sama sama" rengek mereka.
"Iya sayang, nanti kalau Mama pulang, pasti Mama main ke rumah kalian. Oh iya nanti bilang sama Mama Dewi ya, Mama Wina minta dibelikan orek tempe kering, teri medan kering, sama daging srundeng, nanti alamatnya Mama kirim sekaligus nomor telpon Mama yang disini. Bilang Mama Dewi, suruh hubungi di nomor yang baru ya, sudah dicatat sayang, pesenan Mama tadi" pinta Wina.
Saking senengnya berbincang dengan Mamanya, mereka tidak paham jika Wina selalu menyebut nama Mama Dewi, mereka pikir Mama Dewi adalah Oma mereka.
"Ya Ma, nanti kami sampaikan sama Mama Dewi. Pesenan Mama sudah kami catat di kepala kami. Ma boleh tidak jika kami kangen, kami telpon lagi?" sahut Rania.
"Boleh dong sayang, tapi nanti telponnya di nomor Mama yang baru saja ya," ucap Wina.
"Oh iya, apa Mama telpon berniat mengucapkan selamat ulang tahun pada kami?" tanya Rania polos.
"Oh iya Mama lupa, maaf ya Selamat Ulang Tahun Anak Cantik, Selamat Ulang Tahun Anak Ganteng, semoga kalian selalu sehat, tambah pinter, dan sayang sama orang tua. Ngomong ngomong kalian minta kado apa dari Mama, biar Mama kirimkan dari sini" ucap Wina.
Kedua bocah itu girang akan mendapat kado dari Mamanya, pasalnya selama 3 tahun ini Mamanya tidak pernah memberikan kado apapun.
"Sebenarnya kami tidak menginginkan apa apa, kami cuma ingin bertemu Mama, jadi apapun yang Mama berikan kami terima dengan senang hati" ucap Rania yang diangguki oleh sang kakak.
"Oh, kalian sweet banget sih, baiklah nanti akan Mama kirimkan, kamu kirim saja alamat rumah kamu di nomor Mama yang baru ya, sudah dulu ya sayang, Mama mau ke rumah sakit, Bye sayang" ucap Wina.
__ADS_1
"Bye Mama, we love you" ucap keduanya.
"Love you all" jawab Wina lalu menutup sambungan telponya.
Rania dan Nandio melompat lompat kegirangan, "Kak, sekarang kita tidur, berati besok besok kalau mau nelpon Mama mesti jam segini ya, supaya bisa nyambung" oceh Rania.
Nandio hanya mengangguk, lalu berbaring ke ranjangnya. Malam ini mereka tidur dengan hati yang gembira.
Keesokannya, Dion sudah mempersiapkan kue ulang tahun untuk kedua buah hatinya, namun hingga pukul 08, putra dan putrinya belum ada yang turun.
"Ina, kemana Rania dan Dio?" tanya Dion pada babysitternya.
"Mereka belum bangun Tuan" jawab Ina.
"Aneh, biasanya jam segini mereka sudah ribut" gumam Dion. Dia lalu pergi ke kamar kedua buah hatinya.
"Sayang, ayo bangun kenapa jam segini belum bangun, katanya mau tiup lilin sama sama. Ini udah jam 8, Papa harus berangkat nih" ucap Dion sambil menciumi keduanya.
"Masih ngantuk Papa, tiup lilinnya nanti saja sepulang Papa kerja" rengek Rania.
"Oke, tapi sekarang bangun dulu, sarapan, setelah itu boleh tidur lagi ya" titah Dion.
Dion hanya geleng geleng kepala, "Ya sudah, nanti saya suruh mbak Ina kesini, kalau begitu Papa pergi dulu ya" ucap Dion lalu pergi meninggalkan kamar keduanya.
"Ina, kamu bawa sarapan mereka ke kamar. Mereka masih ngantuk katanya, saya tinggal berangkat dulu" ucap Dion pada babysitternya.
"Iya Tuan" jawab Ina.
Siang ini, Dion hendak pergi meeting di luar, karena mendapat telpon dari putrinya, Dion urung meninggalkan ruangannya.
"Ya sayang?" sapa Dion sambil merebahkan diri di kursi kebesarannya.
"Papa, nanti pulangnya jangan lupa belikan adek, orek tempe kering, teri medan, sama daging serundeng" titah sang putri.
Dion yang kebingungan mendengar permintaan putrinya pun melongo, "Sayang, ngapain kamu makan makanan seperti itu, itu semua makanan pedas, nanti kamu sakit perut loh" ucap Dion.
"Pokoknya Papa harus bawa semua pesanan adek, kalau tidak, adek akan marah loh. Titik" ancam Rania sambil mengembungkan pipinya.
Dion tertawa melihat wajah putrinya saat mengancam, terlihat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
"Papa, kenapa malah tertawa?" teriak Rania dengan mata yang melotot.
Matanya yang sipit, namun dipaksa melotot, terlihat imut sekali, namun karena tak ingin putrinya marah, Dion pun menghentikan tawanya.
"Oke, nanti akan Papa belikan, spesial buat putri tercinta Papa" ucap Dion.
"Oke Papa, makasih, I love you Papa" seru Rania.
" Sama sama sayang, I love you more sweaty" balas Dion.
Karena hendak meeting, Dion pun menyuruh sopirnya untuk mencarikan makanan yang diinginkan putrinya.
"Pak, habis antar saya, tolong belikan orek tempe kering, teri medan, sama daging srundeng, ini uangnya, dan jangan kembali sebelum dapat semua barangnya" titah Dion.
"Siap Tuan" sahut Sopir itu.
Meski harus berkeliling kota Jakarta, akhirnya sopir itu menemukan semua pesanan Tuannya. Dia pun langsung membawanya ke rumah majikannya, mengingat saat ini hari sudah malam.
"Tuan, ini pesanannya" ucap sang sopir sambil menaruh 1 kardus kecil.
"Kenapa banyak sekali Pak?" tanya Dion bingung.
"Hehehe, Anu Tuan, tadi stok di toko tinggal itu, jadi saya borong aja, takut besok besok, Tuan suruh saya beli lagi" jelas sopir Dion.
"Ya sudah, terima kasih" jawab Dion.
Dion pun memanggil putrinya. Mendengar teriakan sang Papa, Rania dan Nandio pun turun.
"Ada apa Pa?" tanya mereka.
"Ini pesanan kalian, mau dimakan sekarang atau ditaruh di kulkas dulu?" tanya Dion.
Mereka berdua sangat senang mendapatkan apa yang diinginkan oleh sang Mama. Rania pun berlari menuju kamarnya. Tak lama dia kembali menyodorkan hapenya.
"Buat apa Papa kamu kasih hape?" tanya Dion.
"Itu Pa, alamat Mama ada disana" jawab Nandio.
Dion yang sedang minum pun tersedak mendengar perkataan putranya, "Mama?" sembur Dion.
__ADS_1