Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-46


__ADS_3

Melihat wajah pujaan hatinya, Dion langsung mengambil hape sang putri, lalu membawanya ke kamar. Tak lupa dia mengunci kamarnya, agar sang putri tidak mengganggunya. Rania pun kesal, karena dia masih ingin bicara dengan sang Mama.


"Sabar, mungkin Papa juga kangen sama Mama, yuk kita main bareng," bujuk sang Kakak yang tidak tega melihat wajah sedih Adiknya.


Di kamar, Dion sedang menjelaskan pada Wina supaya Wina tidak salah paham."Sayang, maafkan putra dan putriku, mereka selalu memanggil Mama pada setiap perempuan di sekitarku" terang Dion.


"Jadi mereka itu anak anak Kakak?" tanya Wina.


"Iya, kamu kan tahu kalau Mama mereka sudah meninggal sejak mereka bayi, bahkan aku sampai harus mencari donor asi. Dan sekarang mereka begitu merindukan Mamanya, hingga setiap wanita yang mereka temui, mereka panggil Mama" jelas Dion.


"Tidak apa Kak, aku tahu bagaimana perasaan mereka, beri saja mereka pengertian perlahan, lalu ajak mereka ke makam Mamanya" ucap Wina bijak.


"Iya, akan aku jelaskan pelan pelan. Oh iya makasih ya kadonya, pasti mahal, maaf ya jadi merepotkan" ucap Dion.


"Sama sama Kak, aku senang kok, hitung hitung sebagai ganti Kakak yang rela mencarikan makanan yang aku inginkan" ucap Wina.


Wajah Dion bersemu merah mendengar ucapan Wina. Dion pun bertanya ini dan itu, untuk mengalihkan perhatian Wina supaya tidak lekas menutup telponnya. Cukup lama mereka berbincang, dan baru berhenti kala Rania yang berteriak menggedor gedor pintu Dion.


"Papa, kenapa lama sekali ngomong sama Mama, Rania juga kangen pengen ngomong sama Mama. Gantian dong! Duak duak" suara teriakan beserta tendangan kaki Rania menggema di depan kamar Dion.


"Kenapa putri Papa teriak teriak, ini bukan hutan" omel Dion.


"Mana hapenya? Rania mau telpon Mama" tanya Rania. Dion pun mengembalikan hape putrinya.


"Yah, sudah mati" gumam Rania.


Rania pun kembali menelepon nomor Mamanya, namun hingga dering keempat masih belum terjawab. Mata Rania sudah berkaca kaca, tangisnya akan pecah. Dion yang tak tega melihat putrinya kecewa pun membujuknya.

__ADS_1


"Sayang, mungkin Mama sudah tidur, perbedaan antara disini dengan ditempat Mama itu lama. Jadi kalau disini jam 11 siang, disana sudah jam 11 malam. Dan itu waktunya tidur sayang" jelas Dion sambil menunjuk arah jam dinding, berharap sang putri tidak menangis.


Dan terbukti, Rania pun kembali ceria, lalu mengajak kakak dan Papanya bermain. Dion lega, akhirnya Rania sudah melupakan keinginannya.


Semenjak tahu kalau nomor yang sering menghubunginya adalah milik Dion, Wina sengaja menjaga jarak. Dia pun mengganti nomor telponnya.


...****************...


Bulan telah berganti tak terasa kandungan Wina sekarang memasuki usia 7 bulan. Mereka sudah mulai membeli baju dan perlengkapan bayi yang lain. Dari hasil USG jenis kelamin bayi mereka adalah laki laki. Hingga Wina harus membeli banyak baju bayi, karena tidak mungkin memakaikan kepunyaan Nabil dulu yang kebanyakan berwarna pink.


"Sayang, udah ya belanjanya! Nih liat, kaki kamu bengkak kan" ucap Zain sambil memijit kaki istrinya.


"Tapi Pa, sepatu sama kaos kakinya belum, tadi yang dipilih cuma baju ama selimut aja" rengek Wina.


"Besok kita kesini lagi, kasihan kamu nanti kecapekan. Nurut ya!" titah Zain.


Wina hanya memberengut kesal. Semenjak hamil yang kedua ini, Zain memang overprotektif pada Wina. Dia tak ingin kejadian Nabil dulu terulang kembali. Apalagi yang kedua ini diprediksi jagoan, sesuai dengan keinginannya. Maka dari itu dia menjaga Wina sebaik mungkin, meski kadang berlebihan menurut Wina.


Suatu malam, wanita berperut buncit itu sedang mengelus perutnya. Entah mengapa seharian ini perutnya terasa kencang, padahal perkiraan melahirkan masih 1 bulan lagi. Dia meringis, karena tendangan dari bayi dalam perutnya. Dia pun miring ke samping sambil menutupi tubuh polosnya usai bermain dengan sang suami


"Kenapa sayang, apa ada yang sakit?" tanya Zain pada Wina kala melihat sang istri meringis kesakitan.


"Iya Pa, pinggangku sakit, terus perutku mules, seperti orang yang mau melahirkan" jawab Wina.


"Kita ke dokter sekarang ya!" titah sang suami.


Zain langsung memakaikan dress sang istri. Belum juga berangkat, Zain sudah dikejutkan dengan teriakan Wina yang mengatakan bahwa air ketubannya sudah pecah. Zain pun panik. Dia lalu menggendong istrinya untuk dibawa ke dalam mobil. Saking paniknya, dia sampai lupa jika dia masih belum memakai bajunya sesudah ritual malam tadi.

__ADS_1


"Pa! Ke rumah sakitnya pakai baju dulu" ucap Wina ditengah sakitnya.


"Ya Tuhan," ucap Zain lalu berlari ke kamar dan memakai bajunya.


Zain langsung tancap gas, begitu sudah selesai berpakaian. Karena rumah sakit tempat Wina melahirkan agak jauh, Zain pun melajukan mobilnya dengan kencang. Dia tak ingin istrinya melahirkan di dalam mobil.


Di belakang mobil, Wina meringis menahan sakit pada perutnya. Dia hanya fokus untuk mengurangi rasa sakitnya.


Sambil menyetir, Zain pun menghubungi pihak rumah sakit, untuk menyiapkan segalanya. Dia akan menghubungi Mama dan Papanya agar menemani Nabil di rumah. Karena fokus mencari nomor telepon sang Papa, Zain tidak melihat jika ada truk yang berjalan tak tentu arah. Hingga saat dia sadar tabrakan sudah tak terelakkan lagi.


Bruak. Bruak. Sreeeeet. Aaahh.


Mobilnya menghantam badan truk hingga terguling lalu terseret sejauh 1 kilo meter. Zain masih dalam keadaan setengah sadar, setengah sadar, dia pun mencoba mengangkat kakinya, namun tak bisa, hanya sakit yang dia rasakan, sepertinya dia patah tulang.


Dia lalu melihat kondisi istrinya istrinya sudah bersimbah darah, dengan sekuat tenaga, dia turunkan sandaran kursinya, kemudian mencoba memindahkan tubuhnya ke kursi belakang, agar bisa menyelamatkan istri dan anaknya.


"Aahh, Ya Allah, sakit sekali" rintihnya. Usahanya kali ini gagal. Zain pun berteriak meminta tolong, namun sepi, tidak ada orang yang lewat, karena hari sudah lewat dini hari. Dia pun mencari ponselnya, namun tak terlihat di sekitarnya. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mencoba kembali.


"Ya Allah, bantu aku" lirihnya. Dengan menghentakkan tangannya sekuat tenaga, dia mencoba memindahkan tubuhnya.


Berhasil. Tapi dia masih belum sampai di badan istrinya. Zain pun mencoba menggeser tubuhnya kembali. Sakit di kakinya tak dia rasakan.


"Sayang, bangun" lirih Zain sambil memeriksa denyut nadi sang istri.


"Masih ada" lirihnya.


Zain melihat beberapa orang diluar. Dia pun berteriak minta tolong. Orang orang pun berusaha membuka pintu mobil Zain, namun sayang pintu tidak bisa dibuka akibat benturan yang keras. Mereka terus berusaha untuk membukanya, jika dipecah kacanya Zain khawatir pecahan kacanya akan mengenai istrinya. Sementara bau bensin sudah menyengat di dalam, Zain takut jika mobil akan meledak.

__ADS_1


"Ya Allah, jika memang ini sudah waktuku, aku ikhlas, tapi aku mohon selamatkan anak dan istriku" pintanya sebelum menutup mata.


Hingga tak berapa lama pintu sudah bisa dibuka, beberapa tenaga medis mulai mengeluarkan tubuh Wina. Setelah meletakkan tubuh Wina diatas brankar, tak lama ledakan hebat terjadi. Duar.... Duar.


__ADS_2