Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
S2-DKH4


__ADS_3

"Nabila Zain Pratiwi, maukah kamu menjadi istriku?" tanya Nandio.


Nabil langsung tertawa melihat tingkah konyol lelaki di hadapannya ini. Baru kenal udah ngajak nikah aja. "Memangnya dia mau kasih aku makan apa, cinta," begitu pikiran Nabil.


"Candaan kamu, nggak lucu tau," ucap Nabil sambil geleng geleng kepala.


"Aku serius Nabil, selama ini tidak pernah ada gadis yang bisa menggetarkan hatiku seperti saat pertama kali aku melihatmu," ucap Nandio serius.


Nabil pun menghela nafasnya, "Apa kamu pikir menikah itu mudah, kamu bahkan belum menamatkan pendidikanmu," jawab Nabil tak kalah serius.


"Apa kamu pikir aku tidak bisa menghidupimu, aku punya perusahaan meski aku hanya lulusan SMU, aku kuliah disini hanya untuk menemani Rania," balas Nandio.


"Heh, perusahaan milik Papamu saja kau banggakan, dan satu lagi, aku ini bukan wanita yang gila harta, jadi tak perlu kamu banggakan kekayaan orang tuamu disini," remeh Nabil.


Nandio emosi kala mendengar perkataan gadis pujaannya, dia merasa diremehkan sebagai seorang lelaki. Nandio pun bangkit mendekati Nabil. Dan tanpa permisi, Nandio langsung menyerang bibir Nabil. Nabil mencoba berontak dengan memukul dada bidang Nandio. Lelaki tampan itu langsung memegang tangan Nabil supaya dia tidak bisa bergerak. Nandio terus menyerang bibir Nabil dengan brutal.


Sementara Nabil yang mendapat serangan mendadak, tubuhnya seolah limbung, darahnya berdesir, jantungnya berdetak kencang kala Nandio terus mengeksplore bibirnya.


Nabil baru pertama kali merasakannya, dan tak dapat dia pungkiri, dia pun terbuai dengan apa yang dilakukan Nandio. Tubuhnya terasa lemas hingga dia tak sanggup untuk berontak lagi.


Egh...


Suara erangan Nabil malah membuat gairah Nandio semakin memburu, kala Nabil mengijinkan dia untuk melakukan lebih jauh. Nandio terus menyesap, merasakan manisnya bibir Nabil.


Dia tahu kalau ini adalah yang pertama untuk Nabil. Terbukti dengan sedikitnya respon yang Nabil berikan, saat Nandio mulai menjelajah bibirnya. Dan Nandio bersyukur untuk itu, karena dialah yang pertama kali merasakan manisnya bibir Nabil.


Nandio terpaksa melepaskan bibir Nabil, ketika Nabil mulai kehabisan nafas. Dia pun mengusap bibir gadis pujaannya itu. Dia lalu menempelkan dahinya pada dahi Nabil.


"Sebelum kamu menolakku, harusnya kamu bertanya pada hatimu, apakah jantungmu berdetak kencang saat berdekatan denganku?" tanya Nandio.


"Jawaban kamu dan reaksi tubuhmu saat aku menciummu berbanding terbalik Nona. Kamu belum tahu siapa aku, dan saat kamu tahu, kamu pasti akan menyesal telah menolakku," sambung Nandio kemudian pergi meninggalkan kamar Nabil.


Selepas kepergian Nandio, Nabil meraba bibirnya, ada rasa yang tidak bisa dia ungkapkan saat Nandio menciumnya tadi. Nabil pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku pasti sudah gila," gumam Nabil berusaha menghilangkan bayangan ciuman tadi.


Namun sayang, hingga menjelang dini hari, Nabil masih tidak bisa tidur, karena membayangkan kegiatannya bersama Nandio. Saat dia mencoba memejamkan matanya, sambil membayangkan menghitung domba, namun justru bayangan ciuman pertamanya terlintas jelas. Hingga pukul 03 pagi, Nabil baru bisa tertidur.


Esoknya, Nabil pun bersiap meninggalkan asrama, sebelumnya dia ingin berpamitan dulu pada Rania, gadis yang selalu membantunya. Nabil pun menghubungi Rania, namun hingga dering kelima tidak terjawab.


Nabil pun memutuskan mendatangi kamar Rania. Tak lama setelah mengetuk pintu kamar, sosok lelaki yang semalam membuatnya tidak bisa tidur membukakan pintu untuknya.


Nabil pikir, Nandio akan meminta maaf dan memohon kembali untuk bisa mempertimbangkan keputusannya. Namun yang terjadi lelaki yang sudah menggetarkan hatinya itu malah dingin dan cuek terhadapnya.


"Masuk," ucap Nandio kala mendapati Nabil yang hanya diam termenung.


Ada rasa kecewa saat Nandio tidak banyak berkata. Tak lama setelah itu, datang Rania dengan wajah ceria menyambutnya.


"Kakak, kemana aku akan menemuimu kalau aku lagi kangen sama Kakak? Kenapa Kakak harus pindah sih?" rengek Rania.


"Kan kita masih bisa ketemu di kelas Biologi, kamu lupa ya kalau aku masih jadi dosen kamu, dan sepertinya akan tetap menjadi dosen kamu," ucap Nabil disertai senyum termanis.


"Belum sih, tapi Kakak harap seperti itu," ucap Nabil optimis.


"Yah, aku kira Kakak akan sudah beneran jadi dosen," ucap Rania lesu.


"Sudah nggak usah sedih, kalau kamu rindu, kamu bisa datang ke rumahku, nanti aku kasih alamatnya," ucap Nabil sambil melirik ke arah Nandio, namun yang dilirik sedikitpun tak menoleh.


Setelah berpamitan pada Rania, Nabil langsung pulang. Di rumah, dia sudah disambut oleh Mommynya di teras depan rumah.


"Mommy, I miss you so," ucap Nabil lalu berhambur memeluk sang Mommy.


"Sayang, I miss you to," ucap Wina membalas pelukan sang putri.


"Ayo masuk, kita makan siang bersama," ajak Wina.


Di Asrama Kampus.

__ADS_1


"Kak, ini alamat rumah Kak Nabil," ucap Rania sambil menunjukkan pesan di hapenya.


"Ya sudah, nanti malam aku kesana," balas Nandio.


"Mau ngapain Kakak kesana malam malam?" tanya Rania.


"Ya mengintai lah," jawab Nandio malas.


"Ya ampun Kak, aku kira metode pendekatan kamu sudah lain karena dia pindah, eh ternyata masih sama," celetuk Rania.


"Gue mau pindahin kamera yang kamu pasang di kamar asrama ke rumahnya," jawab Nandio.


"What! Kamu gila ya Kak, bisa digebukin satpam kamu kalau nekat menerobos kamarnya," sahut Rania.


"Sudah, kamu tenang aja, aku jamin nggak bakalan deh ketauan, trust me," ucap Nandio sambil mengedipkan matanya kemudian pergi keluar.


"Dasar laki laki aneh," umpat Rania.


Malam telah tiba, Nandio sudah sampai di depan rumah Nabil. Dia sedang mengintai layaknya detektif profesional. Entah kebetulan atau memang rejeki Nandio, Nabil sedang termenung di balkon kamarnya.


Saat ini, Nabil sedang gegana alias gelisah galau merana. Dia memikirkan tentang sikap Nandio yang teramat cuek untuk orang yang sudah berani melamar seorang wanita. Apa mungkin lamaran itu hanya sebatas main main, begitu pikir Nabil. Hingga hawa dingin mulai menusuk tulang, Nabil pun masuk ke dalam kamar.


"Gotcha, rupanya dewi fortuna berpihak padaku. Thanks God," ucap Nandio.


Setelah memastikan semua aman, dia pun melompat pagar rumah Nabil. Nandio adalah atlit bela diri, sehingga mudah baginya untuk melewati pagar rumah Nabil. Dia lalu melemparkan tali yang sudah diberi pengait pada balkon kamar Nabil. Nandio pun berjalan di dinding dengan berpegangan pada tali yang dia lemparkan tadi.


Akhirnya, Nandio sampai di balkon kamar Nabil dengan selamat. Dia pun memasuki kamar Nabil yang untungnya tidak dikunci. Melihat gadis pujaannya tertidur pulas. Nandio pun ikut berbaring di sampingnya. Dia lalu memeluk Nabil dari belakang.


"Mulai malam ini, di setiap malamnya, kamu akan tidur di pelukanku," kekeh Nandio sambil membelai dan mencium rambut indah Nabil.


Satpam rumah, biasanya akan berkeliling saat tengah malam. Saat melakukan tugasnya, dia kaget saat mendapati tali yang terhubung dengan kamar putri majikannya.


"Apa ada pencuri," gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2