Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-08


__ADS_3

Di Belahan Negara Amerika


Sebulan berada di Baltimore, pertama Wina disibukkan dengan mencari tempat tinggal yang nyaman untuknya, hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah rumah yang disewakan dekat dengan kampusnya. Rumah itu sangat sederhana, hanya ada 1 kamar tidur, ruang tengah yang jadi satu dengan ruang tamu, juga dapur.


Kemudian Wina mencari profesor yang akan membimbingnya untuk melakukan riset di program doktoralnya. Hanya ada 1 profesor yang free. Dia adalah seorang profesor muda, Zain namanya. Dia adalah keturunan Indonesia Amerika, ayahnya warga asli Amerika bernama Juan, sedangkan ibunya orang Jawa asli bernama Mirna. Dia masih single, tampan namun sangat dingin, dan agak killer menurut mahasiswa seniornya. Mungkin itu yang menyebabkan para mahasiswa takut dibimbing olehnya. Meski begitu banyak juga yang mengidolakannya, tapi itu tak berati untuk Wina, tujuannya hanya ingin cepat lulus saja. Setelah itu, barulah dia memulai risetnya. Meskipun dia agak kesusahan menyesuaikan diri dengan masyarakat dan iklim setempat, untungnya dia bisa survive. Disana Wina sibuk dengan kegiatan risetnya sehingga tidak ada waktu untuk mengingat luka di hatinya. Profesor Zain membimbingnya dengan telaten, walaupun irit sekali bicara.


Beberapa bulan mengenal Wina, Zain sangat mengagumi kecerdasan dan kepribadian Wina, baginya Wina adalah gadis yang unik, dikala mahasiswi lain mengejar ngejar dirinya dengan alasan bimbingan, Wina tidak. Saat para wanita menatapnya dengan tatapan memuja, dia tidak menemukan itu pada tatapan Wina, akhirnya dia mulai menyelidiki asal usul gadis itu. Dan ternyata, Wina adalah anak dari pegawai papanya yang bekerja di sebuah hotel di LA. Diapun menelepon ayahnya mengutarakan niatnya ingin membina rumah tangga dengan gadis pujaannya tersebut, Zain memang mahir bahasa indonesia, karena dirumah mereka selalu berkomunikasi dalam bahasa indonesia.


"Halo pa, gimana kabar papa dan mama?" tanya Zain.


"Hai son, papa dan mama baik, gimana kabarmu, ada angin apa sehingga anak papa yang selalu sibuk ini menelpon papa?" tanya papa Juan.


"Papa, aku ingin papa mengatur perjodohan untukku dengan anak pegawai papa yang ada di hotel LA" ucapnya to the point.


"Ho ho ho, ternyata anak papa sedang jatuh cinta rupanya, baiklah sebelum papa mengatur perjodohanmu, papa akan menyelidiki dulu gadis yang beruntung itu, apakah dia layak atau tidak menjadi menantu papa" goda papa Juan.


"Kupastikan dia sangat layak pa" ucap Zain dengan senyumnya.


Setelah menyelidiki semuanya, Papa Juan pun mengutarakan niatnya pada Pak Bandi, ayah Wina. Sementara Pak Bandi sendiri merasa minder berbesanan dengan pemilik hotel tempatnya bekerja. Setelah beradu argumen cukup panjang akhirnya Pak Bandi menyerah, namun dia tak berani mengambil keputusan, dia akan merundingkan dahulu bersama istri dan anaknya. Dan pak Juan menyetujuinya.


"Bu, tadi ayah dipanggil oleh atasan" ucap Pak Bandi pada Mela istrinya.


"Kenapa yah? Apakah ayah dipecat? Apa ayah telah melakukan kesalahan? tanya ibu Mela cemas.


"Tenang bu, tidak terjadi apa2, hanya saja beliau ingin menjodohkan anaknya dengan putri kita" ucap pak Bandi menenangkan istrinya.


"Apa kita pantas yah? Kita ini hanyalah perantau disini, dan kita tidak memiliki apa2." ucap ibu Mela insecure.


"Ayah juga sudah bilang begitu bu, tapi beliau tidak mempermasalahkan itu, dia suka dengan kecerdasan dan kepribadian putri kita" sanggah pak Bandi.


"Kalau gitu kita bicara pelan2 sama Wina, takutnya dia memiliki kekasih, dan kalau memang belum kita serahkan keputusan sama Wina, ingat jangan memaksanya" ancam ibu Mela.

__ADS_1


"Iya bu, besok ayah akan mengajukan cuti, kita pergi ke Baltimore untuk membicarakan hal ini pada Wina" ucap pak Bandi.


Setelah mempersiapkan semuanya. Sabtu ini ayah dan ibu Wina pergi ke Baltimore. Mereka datang tanpa memberi tahu Wina. Mereka sampai disana saat hari telah sore. Wina yang melihat kedatangan orang tuanya langsung berlari keluar,


"ayah, ibu, kenapa datang kemari tidak bilang, tau gitu kan Wina jemput" ucap Wina sambil menyalimi tangan kedua orang tuanya.


"Ayah tidak ingin merepotkanmu sayang, ayah tau kamu sangat sibuk" balas ayah Wina.


"Ayo yah, bu, kita masuk ke dalam, Wina akan memasak menu spesial untuk makan malam kita nanti" ucap Wina semangat.


Setelah mereka masuk, Wina pun mulai menyiapkan masakan spesial khas Indonesia untuk kedua orang tuanya. Wina melarang mamanya membantunya memasak. Dia menyuruh mereka berdua untuk istirahat di ruang tengah sambil menunggu masakan matang.


"Wina, setelah makan nanti ayah ingin bicara serius denganmu" ucap ayah Wina.


"Iya papa, nanti setelah makan kita bicara di ruang tengah" balas Wina.


"Ihh kau ini, sudah beberapa kali di ingatkan panggil ayah, jangan papa, kita ini orang Indonesia asli lebih cocok panggil ayah" protes ibu Wina.


"Sudah, jangan berdebat, kita makan" perintah ayah.


Kami semua makan dengan tenang, setelah makan. Ayah menunggu Wina di ruang tengah. Wina masih harus membereskan sisa makanan mereka dulu. Begitu selesai Wina langsung duduk di samping ayah,


"Ada apa yah? tanya Wina


"Kemaren, ayah dipanggil atasan ayah, Pak Juan namanya, beliau ingin menjodohkanmu dengan putranya, ayah tidak memaksamu untuk setuju, tapi kalau kamu memang belum memiliki kekasih, ada baiknya dipertimbangkan, umurmu juga semakin bertambah, kalau menunggu kamu selesai S3 takutnya kelamaan" ucap ayah bijak.


"Saat ini Wina memang sedang tidak memiliki kekasih yah, tapi untuk mencari pendamping hidup, Wina tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, Wina ingin menikah sekali seumur hidup" ucap Wina.


"Bagaimana kalau kalian bertemu dulu untuk saling mengenal, jikalau tidak cocok, perjodohan ini tidak perlu dilanjutkan" usul ayah.


"Baiklah, terserah ayah saja, ayah atur saja waktunya, kalau bisa sabtu atau minggu saja" ucap Wina.

__ADS_1


Mendengar jawaban putrinya, pak Bandi tersenyum bahagia, sudah lama beliau ingin melihat putrinya menikah. Pak Bandi lalu menelepon atasannya, beliau mengatakan kalau Wina ingin berkenalan dulu dengan putra Pak Juan. Pak Juan pun mengundang Wina dan keluarganya makan malamdi rumah putranya yang ada di Baltimore hari minggu besok.


"Wina, Pak Juan mengundang kita makan malam dirumah putranya hari minggu besok, ternyata putranya memiliki rumah disini, besok kamu dandan yang cantik, kalau perlu beli baju di butik sama ibumu" kata ayah.


"Wina sudah cantik ayah jadi tidak perlu dandan, untuk baju, besok kita cari baju di butik dekat sini, biar senada" ucap Wina.


Keesokannya, mereka pergi mencari baju yang senada, dan Wina memilih gaun pendek selutut dengan motif bunga warna salem. Sedangkan untuk ibunya, gaun panjang warna salem menjadi pilihannya. Dan untuk ayah, dia hanya membelikan kemeja lengan panjang warna senada. Mereka kembali setelah mendapatkan apa yang diinginkan.


Malamnya, setelah semua siap, mereka berangkat menuju rumah putra Pak Juan. Disana mereka disambut oleh Pak Juan dan istrinya, sedangkan lelaki yang akan dijodohkan dengan putrinya belum terlihat.


"Selamat malam, maaf kalau kami terlambat," ucap Pak Bandi.


"Belum, kami juga masih menunggu Zain, putera kami," ucap Pak Juan.


Mendengar nama Zain, pikiran Wina melayang pada sosok profesor pembimbingnya. Tapi ditepisnya, tidak mungkin mereka adalah orang yang sama, begitu pikirnya. Wina pun menyalami Bapak dan Ibu Juan. Melihat perilaku Wina yang sopan, Bu Mirna langsung menyukainya, karena jaman sekarang jarang anak yang masih hormat pada orang tua.


Tak lama setelah perkenalan, datanglah pemuda tinggi nan rupawan mengucapkan salam. Pak Juan langsung berdiri menyambut kedatangan putranya,


"Zain, perkenalkan ini Pak Bandi, chef executive ayah di hotel, dan ini putrinya Wina yang akan kami jodohkan denganmu" ucap Pak Juan sambil menggiring putranya mendekat.


Zain menyalami kedua orang tua Wina, sementara Wina berdiri mematung, dia kaget setengah mati, kenapa orangnya sama, dan jikalau memakai baju santai begini, Prof Zain terlihat sangat menawan, begitu pikirnya. Hingga Pak Bandi menyenggol lengan Wina barulah dia sadar, dan mengulurkan tangannya, "Wina," sapanya.


Mereka makan malam sambil mengobrol santai, sedangkan Zain beberapa kali terlihat mencuri pandang pada Wina, dan ketika Wina menatapnya, Zain pun tertunduk malu.


"Ahhh Prof Zain, ekspresimu menggemaskan sekali, kamu seperti anak abege yang baru jatuh cinta saja," teriak Wina dalam hati, ketika melihat wajah Zain yang merona setelah mereka beradu tatapan.


Kedua orang tua yang melihat kelakuan anak2 mereka malu2 kucing tersenyum bersama. Dalam tatapannya, Pak Juan seolah berucap pada Pak Bandi, sepertinya mereka cocok. Sementara Pak Bandi hanya mengangguk saja.


Sepulang dari rumah putra Pak Juan, ayah Bandi menasehati Wina,"Sayang, sebaiknya kalian berteman dekat dulu, jangan langsung ditolak, meskipun kamu tidak menyukainya, ayah rasa dia pemuda yang baik."


"Iya ayah, akan Wina pikirkan, kebetulan beliau adalah profesor pembimbing Wina di kampus, mungkin sekalian pendekatan dan bimbingan," ucap Wina.

__ADS_1


Bapak Bandi dan Ibu Mela berharap, putrinya akan menemukan jodohnya dalam waktu dekat.


__ADS_2