
Para tamu yang hadir heboh dengan berita pingsannya pengantin wanita. Mereka semua ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Terutama Dewi, begitu mendengar sahabatnya pingsan, dia langsung berlari ke arah kerumunan.
"Minggir minggir, tolong kasih jalan" ucapnya membelah kerumunan orang.
"Dok, gimana keadaan Wina," tanya Dewi.
"Sepertinya Wina kelelahan, saya sudah hubungi supir, akan saya bawa dia ke rumah sakit untuk tahu pastinya" ucap Zain lalu menggendong istrinya untuk dibawa ke mobil menuju rumah sakit.
Melihat putranya pergi membawa istrinya ke rumah sakit, Papa Juan pun meminta maaf pada para tamu yang akan membubarkan diri. Setelah mereka semua pergi meninggalkan hotel Papa Juan dan Mama Mirna serta Pak Bandi dan Ibu Mela menyusul ke rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit, Zain berteriak memanggil dokter dan perawat. Mereka membawa brankar untuk Wina lalu didorong kedalam ruang UGD.
"Bapak tunggu disini dulu, biar kami yang menangani didalam" perintah perawat itu.
Tak ingin menimbulkan keributan, dia pun menunggu di luar. Sambil mondar mandir, dia pun berdoa semoga istrinya baik baik saja. Begitu pintu dibuka, Zain langsung menghampiri perawat tadi, "Gimana istri saya, sus? Tanya Zain.
"Bapak suaminya? Kami merujuk Ibu untuk dibawa ke dokter kandungan. Kebetulan sekarang ada dokter yang sedang praktek, namanya dokter Silva, nyonya akan kami bawa kesana" jelas perawat itu.
Zain yang tak tenang, mengapa istrinya dibawa ke dokter kandungan, apakah Wina memiliki riwayat tumor atau kista, segala pikiran buruk hinggap di kepalanya tentang keadaan istrinya dan itu menambah kegelisahannya. Dia pun segera ikut perawat tadi ke ruang dokter kandungan.
"Dok, pasien dari ugd, kondisinya pingsan, dengan tensi rendah 90/70, denyut jantung 86" ucap perawat tersebut begitu memasuki ruangan.
"Bawa ke ruang USG" perintah dokter.
Didalam ruangan, dokter sedang melenggak lenggokkan alat transducer di perut istrinya. Zain bukan tidak mengerti hanya saja dia menunggu keterangan dari dokter. Setelah selesai, dokter pun berbicara dengan Zain.
"Pak, istrinya sedang hamil 5 minggu,"
" Apa Dok, hamil!" saking senangnya Zain langsung memotong perkataan dokter Silva.
"Benar, istri anda sedang hamil, namun kondisi istri Bapak sangat lemah, saya sarankan untuk dirawat di rumah sakit terlebih dahulu" ucap Dokter Silva.
__ADS_1
"Berikan yang terbaik untuk istri saya Dok" ucap Zain dengan wajah berseri.
Mereka pun membawa Wina ke ruang rawat VVIP. Begitu sampai didalam Zain langsung duduk disamping istrinya. Sambil menggenggam dan menciumi tangan Wina, dia bergumam, "Sayang, apa kamu tidak sadar kalau kamu sedang hamil, pantas saja akhir akhir ini kamu sering marah gak jelas, ternyata ini penyebabnya."
Rombongan para orang tua sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ke tempat Wina dirawat.
"Sayang bagaimana, kondisi istrimu" tanya Mama Mirna begitu mereka membuka pintu.
"Baik Ma, Wina hanya kelelahan saja, tensinya juga rendah, dokter menyarankan rawat inap agar bisa memantau perkembangan janinnya" jelas Zain.
"Apa? Janin!! Berarti istrimu lagi hamil? Tanya Mama Mirna karena takut salah dengar.
"Iya Ma, Wina hamil 5 minggu" ucap Zain.
"Alhamdulillah, Jeng kita akan dapat cucu" seru Mama Mirna sambil memeluk Ibu Mela.
"Alhamdulillah, akhirnya apa yang kita impikan tercapai ya Jeng" sahut Ibu Mela.
"Ya nanti setelah mengantar Mama pulang, Pak Rudi biar kembali lagi kemari, mengantar bajumu" sahut Mama Mirna.
Setelah mengetahui keadaan Wina, mereka berempat pun memutuskan untuk pulang, esok saja mereka akan kembali membawakan makanan dan baju ganti untuk putra dan menantunya.
Setelah berganti baju, Zain pun tidur di samping istrinya. Ranjang VIP sangat besar, jadi muat untuk 2 orang. Keesokannya, Wina sudah sadar. Dia melihat tangan kirinya terpasang jarum inpus, dia pun menghela napas, dia sudah tahu berada dimana. Lalu dia melihat suaminya yang tertidur sambil memeluk tubuhnya.
Wina pun membelai wajah Zain dengan tangan kanannya. Lalu menciumi hampir seluruh wajah Zain, mulai dari dahi, pipi, hidung terakhir bibirnya. Zain yang terusik pun membuka matanya, "Sayang, kamu sudah sadar, apa yang kamu rasakan, hhmmm?" tanya Zain setelah dibangunkan istrinya.
"Aku kenapa Oppa, kenapa harus menginap di rumah sakit" tanya Wina.
"Kita akan menjadi orang tua sayang, kamu jangan terlalu lelah, karena disini ada Zain junior" ucap Zain sambil mengelus perut istrinya.
Sebenarnya Wina sudah curiga kalau dirinya sedang hamil, hanya saja untuk melakukan tes Wina takut kecewa, karena sering kali melakukan tes namun hasilnya negatif. Elusan tangan Zain di perutnya menenangkan Wina, dia pun tersenyum. "Aku suka wajah Oppa" lirihnya sambil memegang dagu Zain. Zain pun mengecup bibir merah istrinya, merasa tak puas Zain pun memberikan ******* kecil, hingga Zain dikagetkan dengan teriakan para orang tua yang datang berkunjung.
__ADS_1
"Ya ampun Zain, dasar kamu tidak tahu tempat, di rumah sakit masih aja mesum" seru Mama Mirna saat membuka pintu kamar.
Wina yang malu karena kepergok mertua dan ayahnya saat bermesraan dengan suaminya, hanya menyembunyikan wajahnya pada dada Zain.
"Mama seperti tidak pernah muda saja," oceh Zain.
Sementara Ayah dan Ibu Wina hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala. Mereka membawa makanan untuk sarapan bersama. Wina yang memang sudah lapar pun berbisik pada Zain, "Oppa, aku lapar, tapi aku pengen makan disuapi Oppa."
Mendengar permintaan istrinya, Zain tersenyum, "Ma, sini sarapannya biar kusuapin Wina" pinta Zain pada Mamanya.
"Kamu makan aja dulu Zain, biar Wina Ibu yang suapi" suruh Ibu Mela.
"Jangan Bu, biar Wina saya suapi, ini dedeknya lagi pengen makan bareng katanya" jawab Zain.
Mereka pun makan bersama. Hingga tak lama perawat pun datang memberitahukan akan ada dokter yang memeriksa.
"Selamat pagi Nyonya Wina, gimana keadaannya hari ini? Apa masih lemas, pusing, atau merasa mual barangkali?" tanya dokter.
"Tidak ada Dok, saya merasa lebih baik sekarang ini" jawab Wina tersenyum manis.
Lalu Zain pun bangkit dari ranjang kemudian membiarkan istrinya diperiksa.
"Untuk sementara semuanya sudah bagus, kalau sudah tidak pusing dan mual besok sudah bisa pulang, tapi Ibu harus bed rest dulu ya sampai janinnya kuat baru boleh beraktivitas seperti biasa, usahakan jangan terlalu lelah. Dan yang paling penting jangan dulu berhubungan suami istri sampai trimester kedua, kalau begitu kami permisi" nasehat dokter sebelum meninggalkan ruangan.
"Ingat Zain, P-U-A-S-A" goda Papa Juan.
Zain hanya memberengut mengingat nasehat dokter yang terakhir. Dirinya sudah candu terhadap tubuh istrinya bagaimana mungkin dia sanggup untuk berpuasa selama 2 bulan.
"Sabar," ucap Ayah Bandi sambil mengusap usap bahu menantunya.
Sementara Papa Juan tesenyum lebar melihat ekspresi putranya.
__ADS_1