Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-36


__ADS_3

Selamat Jalan Nia...


Proses pemakaman berlangsung cepat. Semua orang hadir di pemakaman Nia, termasuk kakak Nia. Setelah Pak Kyai mengucapkan doa, Dion duduk di samping nisan istrinya. Dia mengusap nisan istrinya itu.


"Selamat Jalan sayang, istirahat yang tenang. Terima kasih telah mencintaiku, merawatku, dan selalu mendampingiku tanpa lelah meski aku selalu acuh padamu. Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu, selalu menyakiti kamu. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami siaga untukmu, hingga saat melahirkan pun aku masih bekerja. I always Love You" lirih Dion dengan terbata bata karena menahan tangisnya.


Semua pelayat telah pergi meninggalkan pemakaman, tinggal Dion beserta Papa dan Mamanya. Dion masih menangis di pinggir makam sang istri. Papa Dion memeluk putranya dari samping, mencoba menenangkan putra semata wayangnya.


"Kita pulang ya sayang, kita masih harus ke rumah sakit, kita tanya dokter, apakah sudah bisa menjemput si kembar" ucap Mama Dion mengingatkan.


Seketika itu Dion terdiam, dia sampai lupa jika masih ada si kembar yang harus dia jaga dan dia rawat. Dion pun berdiri. Sebelum pergi meninggalkan makam, Dion mencium dan mengusap makam sang istri.


"Jangan khawatir, aku akan menjaga dan merawat putra dan putri kita dengan baik, aku pergi" ucap Dion kemudian berlalu pergi.


Sampai di rumah sakit, Dokter mengatakan mereka masih belum bisa membawa si kembar pulang, mereka harus menunggu keadaan si kembar benar benar stabil.


Malam ini, adalah malam pertama Dion tanpa Nia. Hari Dion terasa hampa. Dion selalu dihantui oleh perasaan bersalah karena meninggalkan Nia bekerja, harusnya Dion tidak bekerja, sehingga Nia bisa melahirkan dengan selamat.


Dion tidak bisa membayangkan, bagaimana dia bisa menjalani kehidupan mereka kedepannya tanpa Nia. Dan malam ini Dion tidur sambil mendekap baju Nia, menghirup sisa sisa aroma wangi khas tubuh Nia, untuk mengurangi rasa rindu pada sang istri yang ternyata sangat dia cintai.


Keesokannya, Dion pergi ke makam Nia terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor. Dan sorenya baru dia melihat kedua buah hatinya yang masih berada di rumah sakit. Sebenarnya Dion masih dalam masa cuti, namun Dion memilih untuk tetap bekerja, karena jika tidak ada aktifitas, dia akan selalu mengingat Nia.


"Hai sayang, aku datang lagi, dan aku tidak akan bosan untuk terus datang, kamu tahu Ni, ternyata aku sangat mencintaimu, aku baru menyadari rasa ini saat kamu sudah pergi meninggalkanku. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan kamu selama ini. Maafkan aku sayang, hiks hiks" tangis Dion di samping makam istrinya. Setelah berdoa dan menaburkan bunga Dion pergi meninggalkan makam.


Setelah 3 Hari berada di rumah sakit, akhirnya Dion bisa membawa pulang kedua bayinya. Papa dan Mama Dion juga tinggal di rumah Dion untuk membantu merawat kedua cucunya dibantu oleh dua orang baby sitter.

__ADS_1


Acara aqiqah untuk kedua bayinya dibarengkan dengan tahlilan 7 hari meninggalnya Nia. Dion mengundang anak yatim, untuk bersama sama mendoakan mendiang istri dan kedua anaknya.


Dion memberi nama putranya Nandio Putra Pratama dan putrinya Rania Putri Pratama. Nama itu adalah nama pilihan Nia, begitu mereka mengetahui memiliki bayi kembar. Wajah Rania sangat mirip dengan ibunya, hanya bentuk bibir yang mengikuti Dion. Sementara Nandio adalah fotokopi Dion.


Setelah pembacaan yasin dan tahlil, dilakukan pemotongan rambut putra dan putrinya, Dion kembali menangis melihat putri cantiknya. Pasalnya, Dion seolah melihat istrinya di wajah Rania. Papa Juan mengelus elus punggung Dion, "Sudah, jangan menangis lagi, kita semua juga merasa kehilangan Nia. Ikhlas ya, doakan Nia semoga tenang disana.." nasehat Papa Dion.


Dion hanya mengangguk. Dunia seolah berputar. Kepalanya berdenyut denyut. Dirinya limbung, tak kuasa untuk menahan tubuhnya. Dion memutuskan untuk merebahkan tubuhnya sejenak.


"Ma, Pa, aku ke dalam dulu ya, nitip Rania," ucap Dion sambil tertatih tatih berjalan ke kamar.


Sesampainya di kamar, Dion mencoba memejamkan matanya. Namun bayangan Nia selalu menghantuinya. Dion menangis dalam tidurnya.


Terdengar bunyi ketikan di pintu kamar Dion, Dion pun mengucek matanya, "Jam berapa ini?" gumamnya. Dion pun bangkit lalu membuka pintu kamarnya.


"Pa,Ma, ada apa?" tanya Dion bingung melihat Papa dan Mamanya menggendong kedua anaknya yang sedang menangis.


"Ya sudah, kita bawa ke rumah sakit Ma," ucap Dion.


Begitu sampai di ruang IGD, Dion langsung memanggil Dokter.


"Dok, tolong anak saya," pinta Dion.


Dokter pun memeriksa kedua bayi itu. Hasil pemeriksaan sementara, kedua baby itu tidak cocok susu formula.


"Gimana keadaan anak saya Dok?" tanya Dion begitu Dokter jaga keluar.

__ADS_1


"Begini Pak, kemungkinan anak Bapak tidak cocok dengan susu formulanya sehingga menyebabkan mereka muntah muntah. Apakah ASI ibunya tidak keluar?" tanya Dokter itu.


Wajah Dion langsung muram, dia teringat istrinya,"Istri saya sudah meninggal Dok," lirih Dion.


"Maaf, saya tidak tahu, kalau begitu begini, untuk sementara akan kami ganti susu formulanya dengan susu anti alergi, apabila keadaannya masih seperti ini, maka saya sarankan anda mencari donor asi untuk kedua anak Bapak," jelas Dokter itu.


Begitu selesai diberi obat, kedua bayi Dion diperbolehkan pulang. Hanya saja jika kondisinya masih sama, terpaksa harus dirawat inap dan mencari donor asi.


Dion sangat lega, karena kedua anaknya diperbolehkan pulang.


"Ma, Pa malam ini, biar mereka tidur di kamarku" lirih Dion.


Karena pengaruh obat, kedua bayi itu tertidur tenang hingga pagi.


Paginya, Dion mendapati kulit kedua anaknya merah merah, Dion yang panik, langsung memanggil mamanya.


"Ma, lihatlah, badan Rania sama Nandio merah merah" ucap Dion khawatir.


"Mungkin susu yang diberi semalam masih belum cocok, kita coba bawa lagi ke dokter ya, sekarang kamu mandi, lalu sarapan baru kita akan ke dokter" ucap sang Mama.


Selesai mandi, Dion bertambah panik kala melihat kedua buah hatinya seperti kesulitan bernafas. Dion langsung berteriak memanggil mamanya.


"Ma, cepat kita bawa Rania dan Nandio ke dokter, sepertinya mereka sesak nafas" seru Dion.


Mereka bertiga langsung pergi ke rumah sakit yang semalam mereka datangi. Begitu masuk UGD, Dokter sudah mengetahui yang dialami pasien. Dokter pun menyarankan untuk rawat inap, agar bisa dipantau perkembangannya.

__ADS_1


"Bapak, kami mohon maaf, sepertinya susu yang semalam saya resepkan masih belum cocok untuk bayi anda, saya sarankan Bapak segera memcari donor asi" jelas Dokter itu setelah selesai memeriksa pasiennya.


Dion pun dilanda kebingungan, kemana dia akan mencari donor asi untuk kedua buah hatinya. "Tuhan, bantu aku" pinta Dion.


__ADS_2