
Dion sedang menemani kedua buah hatinya yang saat ini sedang bersekolah, ya usia kedua anaknya tidak beda jauh dengan putri Wina. Rania memiliki wajah dan sifat yang ceria sama seperti ibunya. Sedangkan sang putra, entah mirip siapa, sifatnya sangat dingin, cuek, dan irit bicara. Hanya wajahnya saja yang mirip Dion.
"Hai sayang, gimana sekolahnya hari ini?" tanya Dion.
"Seru Pa, tadi di sekolah disuruh bercerita tentang my family, mereka semua bercerita Papa dan Mama mereka, terus kami bingung, bagaimana ceritanya" oceh Rania dengan wajah sendu.
"Maafkan Papa ya," sesal Dion.
"Papa, dimana Mama? Kenapa Mama tidak pernah pulang?" tanya sang putri dengan mata berkaca kaca, sementara sang putra hanya diam menyimak pembicaraan mereka.
Dion pun bingung menjawab pertanyaan sang putri, selama ini mereka tidak pernah bertanya soal Mamanya. Kalau berterus terang Mama mereka telah tiada, mereka pasti sedih. Dan Dion tidak menginginkan hal itu. Dion pun mencari beberapa foto di hapenya, lalu menunjukkan pada putrinya.
"Ini Mama," jawab Dion memperlihatkan foto seorang wanita cantik sedang tersenyum manis memakai baju putih kebesarannya. Ya, Dion mengenalkan Wina sebagai ibu kandung mereka, karena Dion pikir Wina menyusui kedua putranya, berati Wina adalah ibu susu mereka.
"Papa, kenapa Mama tidak pernah pulang? Apa Mama tidak menyayangi kita?" tanya sang putri.
"Tidak, Mama sangat menyayangi kalian, saat ini Papa dan Mama sedang berada dalam masalah yang hanya dialami oleh orang dewasa, maka dari itu, Mama tidak bisa berada disini bersama kita" jelas Dion.
"Aku pengen ketemu Mama, bisakah Papa telepon Mama supaya kami bisa mendengar suaranya" pinta sang putri.
"Saat ini Mama sedang bekerja sebagai dokter relawan, yang tugasnya di pelosok desa, jadi tidak ada sinyal telepon disana, kalau kakak dan dedek kangen sama Mama tinggal lihatin aja potonya" jelas Dion.
"Jadi Mama seorang Dokter?" tanya sang putri.
"Iya, dulu sebelum menikah, Mama bekerja di sebuah rumah sakit disini. Dan sekarang, Mama ditugaskan menjadi relawan di sebuah desa yang sangat membutuhkan seorang Dokter" jelas Dion.
"Kapan kita bisa bertemu Mama?" tanya Rania.
"Nanti ya, ada saatnya kita pasti bertemu" ucap Dion.
Meski tak puas dengan jawaban ayahnya, namun Rania mengangguk lalu kembali ke kamarnya. Didalam kamar, kedua kakak beradik itu pun bicara.
"Kak, kenapa aku tidak mirip dengan Mama, coba kau perhatikan foto Mama" kata Rania sambil menunjukkan foto Mamanya.
__ADS_1
"Mungkin kau tertukar sewaktu di rumah sakit" goda sang kakak.
"Huaa, Kakak jahat!" ucap Rania dengan wajah penuh air mata.
"Sudah, jangan menangis, mungkin kamu mirip dengan nenek buyut dari Mama, atau dari Papa," ucap Nandio menenangkan adiknya.
Rania masih sesenggukan sambil memandangi foto sang Mama. Sang kakak pun memeluk adiknya dengan sayang. Meski terkesan dingin, namun Nandio sangat menyayangi adiknya.
Didalam kamarnya, Dion merenungkan perbuatannya, dia tahu kalau yang dia lakukan itu salah, tapi itu semua dia lakukan demi perkembangan psikis si kembar agar tidak mengalami perundungan karena tidak memiliki Ibu.
"Maafkan aku Nia, aku terpaksa membohongi mereka, nanti jika mereka sedikit dewasa, akan aku ajak mereka ke tempatmu," gumam Dion.
Selama 3 tahun menduda, Dion disibukkan dengan mengurus kedua buah hatinya, meski ada babysitter yang membantu, namun Dion selalu meluangkan waktu untuk keduanya baik itu sebelum berangkat kerja atau setelah pulang kerja. Dion tak ingin kedua buah hatinya kekurangan kasih sayang.
Kedua orang tuanya sering menjodohkan Dion dengan wanita pilihan mereka, namun semuanya tidak ada yang cocok dengan kedua buah hatinya.
...****************...
"Ya sayang" jawab Dion.
"Minggu depan kan ulang tahun adek sama kakak" ucap Rania.
"Ya terus?" tanya Dion.
"Adek ama kakak gak pengen dirayain seperti biasanya, adek cuma pengen ketemu Mama. Paling tidak, adek bisa dengar suara Mama, please Pa" iba Rania.
Dion bingung menghadapi kedua buah hatinya, haruskah dia jujur, tapi dia tidak tega mematahkan harapan kedua buah hatinya.
"Kita coba hubungi ya, barangkali bisa" ucap Dion. Mereka lalu mencoba melakukan video call ke nomor Wina dulu, namun sayang hanya suara operator saja yang terdengar.
"Nah, gak bisa kan" putus Dion. Kedua balita itu tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
"Besok kita coba lagi, ya" bujuk Dion.
__ADS_1
Mereka kompak mengangguk, lalu pergi ke kamar masing masing. Dion pun pergi ke kamarnya. Setelah melihat ranjangnya, Dion langsung merebahkan tubuhnya, lelah hati dan pikiran menjadi satu membuat dia merasakan sakit di kepalanya. Hingga lama kelamaan Dion pun tertidur.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam, namun dua kakak beradik ini belum tidur. Mereka berdua masuk ke kamar sang Papa, mereka sengaja menunggu sang Papa sudah tertidur pulas supaya bisa melancarkan aksinya.
Mereka langsung mengambil hp sang ayah, "Yah, dipassword kak," ucap Rania pelan.
"Tempelkan di jarinya" usul sang Kakak.
Rania pun menempelkan jari sang ayah di layar hape. "Bisa kak" serunya.
Mereka lalu mencari nomor yang tadi dia hubungi. Setelah mencatat nomornya, lalu mereka kembalikan lagi ke tempatnya.
Sejak mendapatkan nomor itu, kedua kakak beradik itu setiap hari mencoba menelepon nomor itu, namun selalu operator yang menjawab. Meski harus kecewa berulang kali, namun mereka tetap berusaha.
Besok, adalah hari ulang tahun mereka, namun hingga saat ini, nomor Mamanya masih belum bisa di hubungi. Hingga saat tengah malam Rania menangis dalam doanya berharap doanya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
"Ya Allah, tidak ada yang kakak dan adek inginkan selain bertemu Mama, adek sangat ingin mendengar suaranya, sekaliii saja, tolong kabulkanlah" pintanya.
Selesai dalam doanya, Rania tidak bisa tidur, tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Waktu sudah di angka 2 pagi, tapi matanya masih belum bisa dia pejamkan. Hingga akhirnya, Rania mencoba melakukan video call dengan sang Mama.
Rania berteriak gembira saat tak terdengar suara operator. Mendengar teriakan adiknya, Nandio terbangun. "Ada apa dek, kenapa kamu teriak teriak, ini sudah malam" ucap sang Kakak sambil mengucek matanya.
"Ini kak, telpon Mama bisa nyambung" seru Rania. Nandio pun bangkit mendekati adiknya, supaya bisa ikut melihat wajah sang Mama.
Hingga dering ketiga barulah muncul gambar wanita cantik yang selalu dirindukannya siang dan malam.
Wanita itu kebingungan begitu melihat seorang balita cantik sedang menangis tergugu sedang meneleponnya. Wanita itu pun membiarkan balita itu menangis, dia menunggu hingga balita itu berhenti menangis.
"Ma-ma" ucap Rania dan Nandio dalam isakannya.
"Ya sayang," jawab Wanita itu dengan suara lembut.
Mendengar suara lembut sang Mama, mereka berdua menangis dengan saling memeluk, akhirnya Tuhan mengabulkan doanya, di pergantian malam ulang tahunnya, mereka bisa melihat dan mendengar suara Mamanya.
__ADS_1