Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-30


__ADS_3

Saat ini kandungan Wina sudah berusia 8 bulan. Itu artinya 4 bulan sudah, Zain suaminya tidak mengabarinya, tidak juga menafkahinya. Seolah dia tidak pernah mengenalnya. Hanya sang mertua saja yang rutin meneleponnya. Seperti malam ini Wina sedang menerima telepon dari Mama Mertuanya.


"Hai sayang, gimana kabarmu, gimana baby, apa dia sehat?" tanya Mama Mirna.


"Wina baik Ma, baby juga sehat, Mama dan Papa gimana kabarnya?" tanya Wina kembali.


"Kami berdua sehat sayang, oh iya kapan kamu lahiran, mungkin kalau Mama tidak repot. Mama akan kesana" ucap Mama Mirna.


"Mungkin bulan depan lahiran Ma, Indonesia Amerika jauh Ma, kalau Mama repot tidak perlu kesini. Nanti akan Wina kirim fotonya" sahut Wina.


"Sayang, dia adalah cucu pertama Mama, dia sudah sangat lama kami nantikan, tentu kami ingin menggendongnya saat lahir nanti" ucap Mama Mirna.


Mendengar itu Wina rasanya ingin menangis, mereka saja yang hanya Kakek dan Neneknya begitu antusias menyambut kelahiran babynya, sedangkan suaminya, seolah tak peduli dengan apapun. Namun sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak menetes.


"Ya sudah terserah Mama dan Papa saja, nanti Wina kabari kalau sudah melahirkan, sudah dulu ya Ma, ini ada pasien" ucap Wina sebelum air mata itu meluncur di pipi mulusnya.


Papa dan Mama Zain sedih melihat keadaan anak dan menantunya. Ingin bertanya, tapi takut Zain tersinggung, sejujurnya mereka tidak ingin jika sampai Wina dan Zain berpisah bagaimana nasib anaknya nanti. Hingga akhirnya mereka nekat mendatangi rumah Zain, mereka ingin tahu kejelasannya. Begitu Zain masuk rumah, dia kaget melihat Papa dan Mamanya sudah menunggunya di ruang tamu.


"Zain Papa ingin bicara, duduklah sebentar" titah Papa Juan. Zain pun langsung duduk didepan mereka.


"Apa ada yang serius Pa," tanya Zain.


"Zain, kandungan Wina sudah 8 bulan, apa kamu tidak ada niat untuk menemani Wina melahirkan, seandainya kamu tidak mendapatkan cuti pergilah Nak, biar Papa yang mengurusnya" nasehat Papa Juan.

__ADS_1


"Iya Zain, kasihan istrimu, melahirkan itu tidak hanya sekedar mengejan saja, tapi juga bertaruh nyawa, meski dengan operasi sekalipun. Apalagi setelah melahirkan istrimu juga membutuhkan dukungan dari keluarga, agar setelahnya sang Ibu tidak mengalami sindrom baby blues. Mama tidak tahu apa masalah antara kamu dan Wina. Hanya saja jika kamu sudah merasa tidak cocok lagi dengan Wina, kembalikan dia pada orang tuanya secara baik baik, seperti halnya saat kamu meminta Wina pada orang tuanya" nasehat Mama Mirna.


Zain hanya diam mendengar nasehat orang tuanya. Meski Zain tidak pernah bercerita pada orang taunya, namun sebagai seorang Ibu dia dapat merasakan bahwa hubungan mereka sedang tidak baik baik saja.


Wina sendiri sudah ikhlas dengan apa yang terjadi padanya, hanya saja yang dia sesalkan, mengapa Zain tidak menceraikannya jika memang sudah tidak peduli padanya. Apakah kesalahannya terlalu besar sehingga Zain tidak mau membuka pintu maafnya padahal Wina tidak pernah berselingkuh. Terkadang dia bingung dengan jalan hidupnya yang harus mengalami hal yang seperti ini lagi, patah hati untuk kesekian kalinya.


Beruntungnya kedua orang tuanya selalu mendukungnya, jika dia sedang menginginkan sesuatu, Ayahnya selalu berusaha untuk memenuhinya. Bayi dalam kandungannya seolah mengerti dengan keadaan sang Ibu, dia tidak pernah rewel dan manja.


Klinik Wina saat ini sudah memiliki beberapa pasien tetap. Banyak lansia yang rutin berobat, juga Ibu ibu muda yang ber KB. Meski dengan perut yang membesar, tak membuat Wina malas bergerak. Beruntungnya pasien di kliniknya tidak terlalu membludak. Hanya saat saat tertentu saja yang ramai pasien, sehingga tidak membuat Wina terlalu kelelahan.


Apartemennya juga sudah laku. Uang yang dia dapat lumayan banyak, kalau dibuat beli mobil sejuta umat bisa dapat 10 kali. Entahlah, itu harga yang sebenarnya atau ada penambahan dari Direktur Mahendra. Yang jelas dia bersyukur mendapatkan banyak rezeki. Rencananya uang itu akan dia gunakan untuk masa depan anaknya nanti karena dia sudah tidak berharap lagi pada Zain.


Saat ini Wina berada di rumah sakit kota untuk melakukan USG. Dia begitu bahagia melihat perkembangan putrinya. Ya jenis kelamin bayinya saat USG adalah perempuan. Dia pun meminta Dokter untuk mencetak foto USG nya. Sebagai dokumen untuk diperlihatkan pada anaknya nanti. Wina memandangi foto USG anaknya dengan berderai air mata. Melihat itu, Ayah dan Ibu hanya bisa mengusap punggung putrinya yang bergetar.


Ibu Wina pun bertanya, "Sakit apa Bu putranya, mengapa menangis tersedu sedu."


Bapak dan Ibu tadi pun menjawab bahwa putranya mengalami luka serius saat ini kondisinya cukup kritis, hanya saja dokter bedah profesional saat ini sedang umroh sementara dokter penggantinya sedang sakit. Dia meminta rujukan ke rumah sakit ibukota, namun pihak rumah sakit tidak memiliki ambulan yang lengkap untuk membawa pasien kritis ke ibukota, mereka takut kalau anaknya meninggal di perjalanan.


Wina yang melihat itu pun terenyuh, dia pun menyuruh ibunya untuk menenangkan Bapak dan Ibu tadi sementara dirinya akan menghadap pimpinan rumah sakit agar diperbolehkan mengoperasi anak tersebut.


Pihak rumah sakit semula menolak Wina, mereka tidak percaya dengan Wina. Hingga saat dia menunjukkan ijazah dan surat ijin prakteknya yang selalu dia simpan di hp, pemilik rumah sakit pun geleng geleng kepala. Kenapa orang sehebat ini hanya membuka sebuah klinik kecil di tempat terpencil pula. Akhirnya operasi anak tadi di pimpin oleh Wina dengan dibantu oleh dokter bedah di rumah sakit itu.


Operasi memakan waktu kurang lebih 3 jam. Begitu selesai,.Wina merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Dokter anestesi yang melihat Wina meringis pun bertanya, "Dok, anda kenapa? Apa ada yang sakit?" tanyanya.

__ADS_1


"Tolong sepertinya saya akan melahirkan" lirih Wina.


Seisi ruangan dibuat heboh dengan kondisi Wina, dimana air ketubannya yang sudah merembes ke lantai operasi.


"Cepat panggil Dokter kandungan yang lagi praktek, Dokter Wina akan melahirkan" teriak salah satu perawat disana. Dokter pendamping pun memanggil dokter Dwi, dokter kandungan yang ada untuk membantu persalinan Wina. Sementara diluar, para orang tua sedang cemas menanti kabar dari ruang operasi. Ibu Mela dan Pak Bandi cemas karena sudah 3 jam Wina belum keluar juga, begitu juga dengan orang tua anak yang dioperasi tadi.


Mereka dikagetkan dengan teriakan Wina yang sedang mengejan. Pak Bandi dan Ibu Mela pun saling pandang, mereka berpikir apa Wina sudah melahirkan.


"Ayo Dok terus, tarik napas panjang lalu dorong sekuat tenaga" instruksi Dokter Dwi


Wina mencoba sekali lagi, dia mengambil napas panjang kemudian mengejan sekuat tenaga, namun sayang sepertinya tenaga Wina sudah habis untuk membantu operasi tadi.


"Dok, saya sudah tidak tahan" ucap Wina kala merasakan kedua kakinya bergetar.


"Pasang infus kemudian masukkan oxytocin" perintah Dokter kandungan tadi.


Perawat pun mulai memasang infus sesuai instruksi dokter tadi.


"Sudah Dok" lapor perawat itu.


"Dok, begitu terasa kontraksi tarik nafas dalam, hembuskan kemudian ulangi mengejan, ayo Dok, semangat" seru Dokter kandungan itu.


Hingga datang seseorang di sampingnya, dia memegang tangan Wina mencoba memberi kekuatan, kemudian menciumi seluruh wajah Wina lalu membisikkan kata, "Ayo sayang, kamu kuat, kamu hebat, dorong lagi, jangan takut aku akan selalu ada di sini" ucap lelaki itu memberi semangat.

__ADS_1


__ADS_2