Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-51


__ADS_3

Zain masih dalam mode pura pura tidur, supaya Wina tidak curiga. Wina pun berlari mengecek kunci pintu kamarnya. Ternyata masih terkunci.


"Apa aku lupa ngunci pintu ya? Ya Tuhan, kenapa sekarang aku jadi pelupa, gimana caranya supaya aku tidak lupa, dan dia, ingin sekali kugetok kepala orang ini, seenaknya aja main peluk," gumam Wina.


Wina lalu keluar menuju kamar putrinya, dia pun membangunkan putrinya. Setelah memastikan putrinya terbangun, dia mulai menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Sementara didalam kamar, Zain terkekeh, "bukan kamu yang pelupa sayang, tapi aku yang menerobos masuk."


"Sayang," panggil Zain saat mereka sedang sarapan bersama.


"Ya Kak," jawab Wina.


"Dulu itu, kamu selalu memanggilku Oppa, baru setelah Nabil lahir, panggilan kamu berganti menjadi Papa," ucap Zain.


"Ya terus?" tanya Wina.


"Ya gantilah, panggil Oppa atau Papa gitu," jawab Zain.


"Tapi aku nyaman dengan panggilan itu Kak, kalau Kakak keberatan, aku panggil nama saja bagaimana?" usul Wina.


"Tidak, tidak, aku tidak mau, ya sudah senyaman kamu aja" putus Zain.


Zain pun mengeluh sendiri, sepertinya aku harus bekerja ekstra keras untuk mengembalikan ingatannya. Namun, Zain tidak ingin patah semangat, dia akan terus berusaha mengembalikan ingatan istrinya.


Setiap ada kesempatan, Zain selalu berusaha


mencari celah agar bisa berdekatan dengan Wina. Seperti saat ini, Wina sudah tidur di kamarnya, setelah tragedi lupa kunci pintu hingga 2x, akhirnya dia membiarkan suaminya tidur di sampingnya.


"Kak," panggil Wina saat sang suami hendak memejamkan matanya.


Zain sudah semangat, dia kira Wina mengajaknya olahraga malam. "Ya sayang," jawab Zain.


"Bagaimana kita bertemu, dan berapa lama kita menikah, coba ceritakan versi dirimu," pinta Wina.


Zain mendengus kecewa, sepertinya melakukan olahraga malam dengan istrinya, adalah hal yang mustahil untuk saat ini. Zain pun menceritakan saat mereka bertemu pertama kali, hingga perjodohan yang akhirnya menikah, Zain tidak menceritakan tentang penculikan Wina yang dilakukan oleh Dion.


Wina agak sedikit ragu dengan perkataan suaminya, namun untuk saat ini dia memilih diam, karena seingatnya dulu dia berpacaran dengan Dion, dan mengapa mereka bisa putus, dia akan mencari tahu besok.


"Oh iya, meskipun kakak sudah boleh tidur disini, bukan berati kakak bisa dekat dekat dengan Wina, ini guling pembatasnya. Awas! Jangan melampauinya, kalau tidak ingin aku suruh tidur di luar," ancam Wina.


Mendengar ancaman menakutkan dari sang istri, Zain pun menurut, dia tidak mungkin bisa jauh dari istrinya. "Asiap," jawabnya.


Keesokannya, Zain sudah berangkat ke kantor. Ya, Zain sekarang menggantikan Papa Juan mengurusi hotelnya, karena Papa Juan sudah ingin pensiun. Zain juga tidak bekerja di rumah sakit, karena takut tak ada waktu untuk anak dan istrinya.

__ADS_1


Karena si baby sedang tidur, Wina mencoba mengaktifkan kartu lamanya. Dia pun mencoba menelepon Dion. Rania yang melihat hape Papanya berbunyi pun mengambilnya, kemudian mengangkatnya.


"Hallo cantik," sapa Wina begitu sambungan video tersambung.


Rania yang melihat wajah Mamanya pun menangis kencang. Wina kebingungan dengan tangis balita di hadapannya.


"Sayang, kenapa menangis, coba cerita sama Tante," bujuk Wina.


Rania malah menangis lebih kencang, mendengar kalimat terakhir Wina. Dion yang baru keluar dari kamar mandi pun kaget, melihat putrinya menangis kencang.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Dion.


"Mama," teriak Rania.


"Mama?" ucap Dion tak percaya. Rania pun memberikan hapenya pada Papanya. Dion pun kaget melihat wanita pujaannya berada di layarnya.


"Sayang," kaget Dion.


"Hai Kak," sapa Wina.


"Kenapa dedeknya menangis?" tanya Wina pada Dion.


Dion pun mendudukkan Rania di ranjang, lalu memberi pengertian putrinya, "Sayang, Papa ngomong dulu sebentar ya sama Mama, nanti gantian kamu yang ngomong," bujuk Dion.


"Sayang, maaf, mereka menganggap kamu sebagai Mamanya, karena Mamanya meninggal usai melahirkan mereka" jelas Dion.


"Jadi, Kak Dion sudah menikah dan memiliki anak ya," lirih Wina kecewa.


"Maaf sayang, sejak kamu menikah dengan Zain, aku putus asa, hingga aku pun menikahi Nia sahabatku, bahkan kamu juga yang menjadi ibu susu untuk kedua buah hatiku, karena mereka alergi susu formula. Maka dari itu aku menyuruh mereka memanggilmu Mama," jelas Dion panjang lebar.


Wina hanya ber- ohh ria. Dia akan terus menggali informasi dari Dion. Setelah mengobrol banyak dengan Dion dan putra putrinya, Wina menutup sambungan teleponnya. Nanti dia akan menyocokkan cerita Dion dan Dewi sahabatnya. Wina kemudian menelepon Dewi sahabatnya.


Dewi bersorak kala dihubungi oleh sahabat lamanya yang sudah lama hilang ditelan bumi. Wina pun menceritakan kecelakaan yang menimpanya, termasuk amnesia yang dialaminya.


"Jadi loe nggak ingat sama sekali soal kehidupan sebelum kamu kecelakaan?" tanya Dewi.


"Gue nggak ingat Wi, rasanya gue bingung ama kehidupan gue," lirih Wina.


"Terus loe maunya apa?" tanya Dewi.


"Kamu ceritain semua yang terjadi sampai gue bisa kuliah disini, please," pinta Wina.


Dewi pun menceritakan semua kisah Wina, mulai dari Dion yang berselingkuh hingga dirinya yang terpaksa pergi jauh untuk menghilangkan sakit di hatinya.

__ADS_1


"Jadi begitu, pantes aja pas suami gue cerita gue dijodohin, gue agak curiga kenapa gue mau aja dijodohin kalau gue punya pacar" gumam Wina.


Hingga mereka bercerita ini dan itu untuk melepas rindu. Setelah puas bercerita dengan Dewi. Wina merasa lega. Dia sudah mengetahui semua cerita hidupnya.


Mulai saat ini, Wina akan mencoba menerima takdirnya, dia sudah tidak canggung lagi saat berdekatan dengan suaminya. Selain itu dia juga mulai membuka hatinya untuk suaminya.


Setiap minggu, Wina selalu melakukan terapi dengan psikiater, namun kali ini, dia didampingi oleh suaminya. Begitu juga sebaliknya, saat Zain melakukan terapi berjalan, terkadang Wina ikut mendampingi.


...****************...


6 bulan telah berlalu. Perjuangan Zain untuk mengembalikan ingatan Wina sudah mulai berhasil. Ingatan Wina sudah hampir 70% kembali. Zain juga sudah bisa berjalan normal kembali. Kehidupan mereka sudah seperti sedia kala. Si kecil sudah mulai belajar merangkak, membuat Wina harus ekstra keras menjaganya


Namun, Zain tidak tahu jika Wina sudah mendapatkan kembali ingatannya. Wina berencana akan mengejutkannya saat ulang tahun Zain minggu depan.


Wina sudah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk memberikan jatah untuk suaminya, karena selama ini mereka belum pernah melakukannya. Sehari sebelum ulang tahun Zain, Wina pergi ke salon bersama Nabil. Wina berencana akan membuat kejutan kecil untuk Zain.


Malam hari tepat pukul 12 Malam, Wina mengambil kue ulang tahun yang telah dia siapkan. Setelah itu dia mengganti pakaiannya dengan lingeri warna maron kesukaan Zain.


Wina pun menangis di dalam selimut. Zain terbangun mendengar tangisan istrinya.


"Kenapa sayang?" tanya Zain.


"Oppa jahat," lirih Wina.


Zain bingung dibuatnya, tiba tiba saja istrinya menangis dan berkata dirinya jahat. Zain pun membelai rambut istrinya. "Sayang, coba katakan Papa salah apa?" tanya Zain.


"Kenapa Oppa tidak cerita kalau kak Dion pernah menculik Wina, karena dia tidak rela Wina menikah dengan Oppa?" ketus Wina.


"Sayang, ini maksudnya apa?" tanya Zain bingung, Zain berpikir Wina akan meminta cerai supaya bisa kembali pada mantan pacarnya itu.


"Sayang, please jangan ungkit ungkit lagi masa lalu, karena untuk bisa sampai titik ini, kita banyak melewati berbagai kerikil tajam," lirih Dion mencoba menahan emosi di dadanya.


"Tapi, aku bersyukur Oppa yang menikahiku," seru Wina. Zain langsung menghela nafasnya, dia sudah berpikir yang tidak tidak tentang ucapan istrinya.


"Dan sekarang, Happy Birthday for the best husband," seru Wina sambil membawa kue ulang tahun tadi ke hadapan Zain.


Zain pun tersenyum bahagia, "Kamu ingat, kalau hari ini ulang tahunku?" tanya Zain. Wina pun mengangguk.


"Ayo tiup lilinnya, jangan lupa make a wish," titah Wina. Setelah meniup lilinnya, Zain pun berdoa untuk istri dan anaknya.


"Sekarang hadiah untuk Oppa," ucap Wina. Wina pun berdiri, kemudian membuka kimononya. Zain menelan salivanya, dadanya naik turun melihat pemandangan indah di hadapannya. Ingin rasanya dia menerkam istri mungilnya saat ini. Namun dia tak berani melakukan itu.


Wina lalu mendekat dan mengalungkan tangan di leher suaminya."Happy Birthday My Love, sekarang ijinkan istri cantikmu ini memimpin permainan," bisik Wina tepat di belakang telinga Zain.

__ADS_1


__ADS_2