
15 tahun kemudian.
Nabil sekarang sudah dewasa. Nabil mengikuti jejak kedua orang tuanya. Saat ini dia sedang kuliah di universitas kedokteran tempat Mommynya dulu.
Begitu juga dengan kedua putra dan putri Dion. Mereka merengek pada sang Papa agar diijinkan untuk kuliah di Baltimore tempat sang Mommy kuliah. Sebenarnya, Dion tak rela berjauhan dengan kedua buah hatinya, namun dia tidak mungkin membatasi mereka untuk meraih cita citanya. Dengan berat hati, Dion pun mengijinkan mereka kuliah disana.
Saat ini, kedua kakak beradik itu tengah memasuki kampus baru mereka. Pagi ini mereka akan mengikuti kegiatan MOS di kampusnya. Disini MOS tidak ada unsur pembulyan, mereka malah diajak berdiskusi mengenai kasus yang banyak terjadi saat ini, seperti pelecehan seksual dan sebagainya.
Mereka mulai membuat beberapa kelompok diskusi. Satu jurusan terbagi atas beberapa kelompok. Kebetulan Rania dan Nandio masuk dalam kelompok yang sama. Satu kelompok akan dibina oleh satu orang kating (kakak tingkat adalah sebutan untuk mahasiswa senior di kampus). Seorang gadis cantik berambut pirang yang akan menjadi kating Rania dan Nandio saat ini. Nandio langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kala melihat kating berambut Pirang dan bermata biru itu.
Setelah diskusi selesai, Nandio langsung mengejar gadis pujannya. Sementara Rania hanya tertawa geli, melihat saudara kembarnya yang selama ini dingin tak tersentuh, bisa juga mengejar ngejar seorang gadis.
"Kak, boleh kenalan nggak?" tanya Nandio berusaha berjalan sejajar dengan gadis itu.
"Bukankah tadi kita sudah berkenalan?" tanya gadis itu.
"Ya, tadi kan cuma saya yang tahu nama Kakak, sedangkan Kakak belum tahu namaku," alasan Nandio.
Gadis itu pun menghentikan langkahnya. Matanya menelisik wajah lelaki yang ada didepannya. "Oke, siapa nama Kamu?" tanyanya.
"Namaku Nandio Kak," jawab Nandio.
"Oke sekarang saya sudah tahu nama kamu kan, jadi sekarang saya permisi dulu ya, sampai jumpa nanti," ucap Nabil kemudian berlalu pergi meninggalkan Nandio seorang diri.
Nandio hanya bisa melongo, baru kali ini dia diabaikan oleh cewek. Biasanya merekalah yang heboh mengejar ngejarnya. "Awas kamu, suatu saat nanti, kamu pasti bisa aku taklukkan, jangan panggil namaku Nandio jika tidak bisa membuatmu bertekuk lutut, gadis cantik," gumam Nandio sambil memandangi wajah cantik gadis pujaannya.
Ya, gadis cantik pujaan hati Nandio adalah Nabil putri Wina. Nabil termasuk anak yang jenius, jadi di usia 15 tahun, Nabil sudah tamat SMU dan kini berkuliah di universitas John Hopskin semester akhir. Nabil juga sudah menjadi asistan dosen di kampusnya.
Tak terasa MOS sudah berakhir. Esok akan dimulai kuliah reguler seperti biasa. Karena keasikan nonton drakor, Rania terlambat bangun di hari pertama mereka kuliah. Sementara saudara kembarnya, jangan ditanya, dia tidak akan bangun, jika Rania tidak berteriak tepat di telinganya.
"Kak bangun, kita udah telat ini, nanti dosennya marah loh," ucap Rania sambil mencipratkan air di wajah Nandio.
__ADS_1
Nandio gelagapan kala wajahnya terkena air. "Raniaaaa, resek banget sih loe," oceh Nandio.
"Ayo cepat bangun, kita udah telat nih," oceh Rania tak mau kalah.
Nandio pun segera masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, mereka pun bergegas pergi ke kampus. Mereka berdua berlari tergopoh gopoh mencari ruangan tempat kuliahnya. Begitu mereka masuk, dosen sudah berada di dalam.
"Kenapa kalian terlambat," sentak Dosen cantik itu.
"Maaf, kami terlambat karena kami salah masuk bis," sesal Rania. Sementara Nandio, dia hanya tersenyum manis, berniat tebar pesona pada gadis pujaannya.
"Ya sudah kalian duduk, karena kalian terlambat, kalian akan saya beri hukuman, selepas kuliah nanti kalian temui saya di ruangan Dosen," titah Dosen cantik itu.
Mereka pun duduk di bangku paling depan. Rania fokus pada penjelasan Dosen, berbanding terbalik dengan saudara kembarnya. Dia malah asyik memandangi wajah cantik Dosen yang mengajarnya saat ini. Ditengah tengah lamunannya, Nandio merasakan sakit pada perutnya.
"Apaan sih loe," bisik Nandio pada saudara kembarnya.
"Dipanggil dosen tuh," bisik Rania.
"Nandio, kalau kamu tidak fokus belajar, lebih baik kamu keluar," sentak Nabil yang tahu, kalau Nandio hanya melamun saja.
Nandio pun menjawab semua pertanyaan Nabil, setelah mendapat contekan dari Rania saudaranya. Nabil kembali diam melihat Nandio bisa menjelaskan kembali apa yang dia bahas tadi.
Siang harinya, kuliah pertama mereka sudah usai. Menuruti perkataan dosennya tadi, Rania dan Nandio pun datang ke ruangan dosen cantik tadi.
"Permisi Bu," ijin Rania saat mereka akan memasuki ruangan.
"Masuk," titah Nabil.
Setelah memastikan mahasiswanya duduk. Nabil pun mulai angkat bicara, "Meskipun saya hanya sebagai asistan dosen, saya tetap tidak suka jika ada yang terlambat di mata kuliah saya. Jadi karena kalian sudah terlambat dihari pertama kuliah, maka sebagai hukumannya, kalian wajib membuat resume tentang sistem anatomi manusia, dan besok sudah harus ada di meja saya," titah Nabil dengan ekspresi sedatar mungkin.
Rania langsung melotot tak percaya, hanya karena terlambat, dia harus dihukum. Sementara Nandio malah tersenyum bahagia, itu artinya dia akan bertemu kembali dengan pujaan hatinya. Rania yang hendak protes langsung diseret keluar oleh Nandio.
__ADS_1
"Ihh, kakak kenapa malah ditarik, kan Nia pengem protes, masak terlambat dikit aja hukumannya banyak amat," gerutu Rania kesal.
"Sudah, nanti kakak beri contekan, nanti kamu rubah sedikit punyamu," ucap Nandio sambil memeluk bahu adiknya.
"Beneran ya? Awas kalau nggak," ancam Rania.
"Siip," ucap Nandio lalu meninggalkan kampusnya.
Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Mall, karena selain ingin jalan jalan, mereka juga ingin membeli kebutuhan pribadi beserta peralatan dapur untuk mereka memasak. Nandio sedang memilih peralatan kamar mandi, sementara Rania memilih kebutuhan dapurnya. Saat akan memilih sayuran, Rania melihat seorang pria tampan, sedang bertelepon sambil memilih sayuran. Sepertinya, lelaki itu kebingungan.
"Permisi, apa ada yang bisa kubantu?" tanya Rani memulai pembicaraan.
Pemuda itu tak suka dengan orang yang sok akrab, maka dari itu dia pun langsung pergi begitu saja.
"Huh, sombong sekali dia, sepertinya usianya masih dibawahku, awas saja, kalau ketemu lagi akan bikin malu kamu. Dasar cowok belagu," umpat Rania sambil menjulurkan lidahnya keluar.
"Sudah Dek? tanya Nandio.
"Sudah Kak," jawab Rania.
Mereka pun membawa belanjaan mereka ke kasir. Dan kebetulan mereka mengantri tepat di belakang lelaki yang kata Rania sombong tadi. Melihat itu, Rania langsung melancarkan aksinya, dia pun menaruh beberapa makanan yang dia bawa ke dalam trolly lelaki itu. Laki laki itu tidak menyadarinya, karena dia sibuk bermain hape.
Setelah sampai di kasir, pemuda itu kebingungan, mengapa belanjaannya jadi sebanyak ini, karena tak ingin malu dengan kasir, pemuda itu membayar saja semua belanjaannya.
Rania langsung mengejar pemuda itu. "Dek, tunggu," teriak Rania, karena tak dihiraukan, Rania pun menghadang pemuda itu.
Pemuda itu tidak akan berhenti kalau tidak dihadang oleh Rania didepannya. Setelah menetralkan nafas yang ngos ngosan, dia lalu menarik belanjaan pemuda itu.
"Hei, apa apaan kamu?" sentak pemuda tadi.
Rania langsung mengambil semua belanjaannya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu berlari meninggalkan pemuda tadi. Tak ingin kalah pemuda itupun berteriak, "Pencuri.... Pencuri,"
__ADS_1
"Rasain," ucapnya.
Sementara Rania terus melarikan diri, karena takut di pukuli massa.