Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-19


__ADS_3

Seringnya mengalami kesakitan saat berhubungan dengan Dion membuat Nia mengalami trauma. Nia sering kali ketakutan jika Dion akan tidur dengannya. Sementara Dion tidak pernah paham dengan ketakutan Nia. Melihat Nia selalu menjerit dan menangis saat berhubungan membuat gairahnya semakin tinggi. Tak jarang Nia selalu pingsan saat berhubungan.


Semenjak mengalami trauma Nia menjadi takut bertemu dengan Dion. Nia baru akan turun setelah Dion pergi ke kantor. Nia juga akan langsung mengurung diri di kamar saat Dion sudah pulang. Dion yang tak pernah melihat Nia pun bertanya pada Bi Inah ART nya, "Bi, apakah Nia tidak pernah keluar dari kamarnya."


"Keluar Tuan, kalau Tuan sudah berangkat nona turun untuk sarapan, dan akan masuk lagi ke dalam kamar saat sore hari" jawab Bi Inah.


"Biasanya ngapain aja Bi Nia kalau di rumah?" tanya Dion.


"Terkadang menonton TV di ruang tengah, kalau tidak berenang ya biasanya pergi Tuan" jawab Bi Inah.


"Baiklah Bi, tolong saya bikinkan teh jahe ya nanti antarkan ke ruang kerja saya, makasih ya Bi" ucap Dion.


"Sama sama Tuan" jawab Bibi lalu pergi ke dapur.


Sebelum masuk ke ruang kerjanya, Dion mampir ke kamar Nia terlebih dahulu untuk melihat keadaannya. Begitu pintu kamar dibuka, terlihat Nia sedang bergelung selimut. Dion mendekat, menempelkan tangannya di dahi Nia. Merasakan suhu tubuh Nia normal, Dion pun keluar dari kamar Nia. Sebenarnya Nia belum tidur, dia hanya takut diajak berhubungan badan dengan Dion. Melihat pintu terbuka Nia langsung menutup matanya agar Dion mengira dia sudah tidur.


Sebenarnya Nia bisa saja pergi dari rumah Dion dan menggugat cerai, namun Dion selalu memperlakukan dia dengan baik, hanya saat berhubungan saja dia kasar padanya. Dan lagi rasa cintanya terhadap Dion sangat dalam membuat dia memilih bertahan meski harus mengalami sakit, dia berharap seiring berjalannya waktu Dion bisa berubah.


Dan jauh di lubuk hati Dion pun ada rasa sesal karena memperlakukan Nia dengan kasar, hanya saja saat melihat Nia, rasa marah karena tidak bisa memiliki Wina selalu timbul hingga ia melampiaskan padanya dan lagi melihat Nia menangis dan berteriak kesakitan membuatnya puas.


Keesokannya saat Dion pulang bekerja, Dion masih tidak melihat Nia, biasanya dia akan menunggu di depan pintu menyambutnya. Sebelum masuk ke kamarnya, dia ingin melihat Nia, dia juga ingin minta maaf atas perilaku kasarnya.


"Ni, kamu udah tidur belum?" tanya Dion saat duduk di ranjang Nia.


Mendengar suara Dion jantung Nia berdebar kencang, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, dia takut Dion mengajak berhubungan. Melihat keringat di dahi Nia, Dion mengira Nia kepanasan, dia lalu membuka selimut yang membungkus tubuh Nia.

__ADS_1


Sreet.


Terlihat lah tubuh mulusnya, karena Nia hanya memakai gaun tidur satin pendek tanpa lengan. Dion yang melihat pemandangan indah di depannya pun menelan saliva. Hasratnya tiba tiba saja bangkit. Nia yang tahu Dion mulai berhasrat perlahan mundur, dia pun merapatkan selimut ke tubuhnya sambil berkata, "Please Dion aku gak mau, aku lelah Dion, besok saja kita melakukannya ya." Dion yang sudah terbakar gairah pun tak peduli, hingga akhirnya dia harus memaksa Nia kembali berhubungan tanpa melakukan pemanasan.


"Please Dion, Stop it, sakit Dion," racau Nia sambil menangis.


Suara Nia bagaikan ******* yang mengalun indah di telinga Dion membuatnya bertambah semangat melakukannya sambil menjambak dan memukul Nia. Sayangnya semangat Dion membuat Nia semakin kesakitan dan itu semakin memperburuk trauma yang dialami Nia.


Setelah kejadian malam itu, Nia jarang keluar kamar, dia juga jarang makan. Sepertinya Nia mengalami depresi. Bi Inah yang tahu nonanya jarang makan merasa kasihan, dia pun melapor pada Tuannya.


"Tuan, sudah 2 hari ini nona jarang makan," ucap Bi Inah pada Dion.


"Kenapa tidak diantar ke kamarnya, Bi. Lain kali kalau Nia tidak turun ke bawah untuk maka, Bibi antar ke kamarnya," perintah Dion.


Bi Inah pun membawa makanan ke kamar Nia.


"Non makannya dimakan dulu, apa mau Bibi suapin" tanya Bi Inah.


Nia hanya melirik saja, kemudian kembali melamun. Bi Inah takut terjadi apa apa dengan nonanya, dia pun kembali ke bawah dan melaporkan pada Tuannya.


"Tuan, nona tidak mau makan, hanya melamun saja" ucap Bi Inah.


"Haahh dasar Nia, merepotkan saja, baiklah Bi nanti aku keatas" kata Dion.


Dion pun ke kamar Nia. Melihat Dion datang Nia kembali ketakutan sambil berteriak, "Dion jangan, please, aku gak mau Dion, sakit ,jangan, sakit."

__ADS_1


Dion yang bingung dengan keadaan Nia langsung mendekat dan memeluknya, "Sssttt, tenang Nia, tenang, aku gak bakalan sakitin kamu, aku cuma duduk saja, liat." Dion berusaha menenangkan Nia dengan memeluk sambil mengusap usap punggungnya.


Nia sedikit lebih tenang, saat melihat Dion tak mengajaknya berhubungan. Dion pun menyeka air mata yang menetes di pipi Nia.


"Sekarang makan ya, aku suapi" ucap Dion lembut lalu mengambil nasi yang dipiring kemudian mulai meyuapi Nia.


"Aaakk" seru Dion.


Dion lega setelah Nia mau membuka mulut, dia takut kalau Nia sakit jika tak mau makan. Dia akan dimarahi kakak Nia kalau sampai terjadi apa apa dengan Nia. Kakak Nia adalah mantan mafia, dia malas berurusan dengannya.


"Kenapa nggak mau makan, hhmmm?" tanya Dion pada Nia sambil menoel dagunya.


"Lagi malas aja Dion," lirih Nia.


"Apa mau disuapin terus, hhmm?" tanya Dion sambil menggoda Nia.


"Nggak usah Di, nanti kalau gak malas juga makan" ucap Nia.


Dion terus bercerita sambil menyuapi Nia. Melihat makanan yang dipiring sudah habis, Dion merasa senang. "Nah, pintar makannya sudah habis, aku turun dulu bawa ini ke dapur ya" ucap Dion.


Dia lalu turun ke bawah dan meletakkan piring di dapur lalu pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Begitu sampai di kamar Dion langsung merebahkan diri di kasurnya. Tak lama Dion sudah terbang ke alam mimpi.


Melihat sikap manis Dion tadi, Nia merasa Dion seperti memiliki kepribadian ganda. Disaat biasa, dia bisa sangat lembut padanya, meskipun kadang juga bersikap acuh, namun saat berhubungan dia selalu berlaku kasar.


Nia tidak sadar jika Dion menderita 'sadomasokisme' atau yang biasa disebut aktivitas seksual yang melibatkan penyiksaan pada pasangan. Dion selalu merasa puas melihat Nia tersiksa dan menangis kesakitan saat berhubungan. Tidak ada yang tahu tentang penyakit Dion ini, hanya Dion dan dokternya saja yang tau. Kasihan kamu Nia... dan beruntungnya kamu Wina gak jadi sama Dion...

__ADS_1


__ADS_2