
"Pencuri.... Pencuri," teriak pemuda tampan itu sambil terkikik.
"Rasain, emang enak, ngerjain orang," gumam pemuda itu.
Rania terus berlari menghindari kejaran Security Mall. Dia bersembunyi di dalam toilet wanita.
"Hah sialan, niatnya ngerjain malah dikerjain, awas, aku balas suatu saat nanti," gumam Rania dengan nafas ngos ngosan.
Rania pun mengabari saudara kembarnya, kalau dia ada di dalam toilet wanita. Nandio pun menunggu adiknya di luar. Dia pun mengirim pesan pada Rania kalau dia sudah ada di depan toilet. Setelah memakai hoodienya, Rania pun keluar.
"Kenapa tadi lari lari, apa kamu sakit perut?" tanya Nandio khawatir.
"Iya Kak, tiba tiba perut aku sakit," jawab Rania.
Mereka pun kembali ke asrama kampus. Mereka beruntung, pihak kampus menfasilitasi mereka dengan asrama selama 2 tahun. Jadi tidak perlu mencari rumah untuk tempat tinggal.
Di saat menaiki bus, Nandio melihat gadis pujaannya tengah duduk manis, di kursi bagian depan. Nandio pun memberi kode pada saudara perempuannya untuk duduk di bangku belakang saja.
"Permisi, Kak," ucap Nandio sopan. Nabil hanya menganggukkan kepalanya.
Jantung Nandio berdebar kencang saat duduk di dekat gadis pujaannya. Dia ingin mengajak ngobrol, tapi bingung apa yang mau dia obrolkan.
"Kak, tinggal dimana?" tanya Nandio memulai pembicaraan.
"Di asrama," jawab Nabil singkat.
"Apa kakak tidak berasal dari sini?" tanya Nandio kembali.
"Dari sini, cuma lebih senang tinggal di asrama," jawab Nabil.
"Kak, sudah punya pacar belum?" tanya Nandio sedkit berani.
"Kuliah saja yang benar, tidak perlu memikirkan percintaan sebelum kamu berhasil," nasehat Nabil.
Nandio mati kutu, dia bingung akan bertanya apa lagi. Hingga dia pun memutuskan untuk mendengarkan musik sambil memandangi wajah cantik gadis di sampingnya. Ketika Nabil melihat kearahnya, Nandio langsung memejamkan matanya.
Tiba tiba bus yang mereka tumpangi, berhenti mendadak. Tubuh Nandio dan Nabil berdempetan, kepala Nandio menempel di bahu Nabil. Bau parfum Nabil menyeruak di hidung Nandio, tiba tiba, Nandio ingin sekali mencium pipi Nabil.
Nandio langsung menegakkan tubuhnya. Dia harus bisa menahan dirinya, agar gadis cantik ini bisa bertekuk lutut di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf," sesal Nandio. Nabil hanya mengangguk.
Nandio mengusap wajahnya kasar. Selain harus menetralkan detak jantungnya yang seakan mau keluar, Nandio juga harus menekan gejolak lainnya akibat mencium parfum Nabil.
Untungnya, bis mereka sudah berhenti. Setelah turun dari bis, Rania langsung merangkul Nabil dari belakang sambil mengedipkan mata pada kakanya Nandio. Nabil pun langsung menoleh ke samping.
"Sorry Kak, kenalkan namaku Rania, aku adalah adik dari laki laki yang tadi duduk di sebelah Kakak saat di bis," jelas Rania.
"Nabil," balas Nabil.
"Lain kali jangan langsung memeluk orang, karena belum tentu mereka senang dengan yang kamu lakukan, terutama cewek asli sini. Kamu bisa dibully habis habisan oleh kelompoknya jika mereka tidak suka denganmu," nasehat Nabil.
"Oke Kak, makasih," sahut Rania.
Mereka berjalan menuju kamar mereka. Namun Rania ngotot ingin masuk ke kamar Nabil. Akhirnya dengan berat hati Nabil mengijinkan Rania masuk ke kamarnya.
"Silahkan masuk Rania, anggap saja kamar sendiri, maaf jika tempatnya sedikit berantakan" ucap Nabil saat mereka memasuki kamarnya.
"Wah, tempatnya rapi gini kok dibilang berantakan sih, aku suka kok," seru Rania.
"Syukurlah, kalau kamu suka, oh iya kamu mau minum apa?" tanya Nabil.
Nabil pun membawakan susu putih beserta camilan buatan sang Mommy. "Ayo, dicoba, ini buatan Mommy ku loh," ucap Nabil membanggakan Mommy nya.
Mendengar cerita Nabil, wajah Rania langsung murung, dia teringat sang Mama yang sampai saat ini entah dimana keberadaannya. Nanti jika dia sudah ada waktu luang, dia akan mencari alamat rumah sang Mama, yang pernah dia tulis saat mengirim kado ulang tahunnya.
Melihat wajah murung gadis di depannya. Nabil pun merasa tidak enak, "Maaf, jika perkataanku menyinggung kamu," sesal Nabil.
"Tidak Kak, hanya saja aku teringat dengan Mamaku," jawab Rania.
"Memangnya Mamamu kemana?" tanya Nabil.
"Papa dan Mamaku berpisah saat aku masih bayi, aku hanya tau wajahnya dari foto yang dikasih oleh Papa. Pernah juga dia beberapa kali meneleponku. Hingga usiaku 18 tahun, terhitung hanya 4 atau 5 kali Mama meneleponku," cerita Rania sendu.
Nabil merasa kasihan dengan Rania, hingga ia memeluk gadis ceria tapi rapuh di hadapannya.
"Maaf, Kakak tidak tahu, kamu boleh menganggap Mommyku sebagai Mamamu, asal jangan kau ambil saja," ucap Nabil.
"Benarkah?" tanya Rania tak percaya.
__ADS_1
"Boleh, suatu saat jika aku pulang ke rumah, kau boleh ikut," ajak Nabil yang seolah memiliki adik baru.
Rania pun girang, karena dia mendapatkan teman dan saudara baru. "Kak, kenapa sewaktu di kampus, Kakak galak sekali," protes Rania.
Nabil tertawa mendengarnya, "Kamu tahu, sebagai asistan dosen killer, aku dituntut untuk bisa disiplin dalam segala hal, jika kamu melanggar ya aku hukum, meski kamu adalah adikku sendiri," jelas Nabil.
Rania menganguk anggukkan kepalanya. Dia senang ternyata, jika diluar, asisten dosennya ini sangat ramah, berbeda saat mereka di kampus.
"Kak, semisal aku ada kesulitan, boleh nggak aku minta diajarin kakak?" tanya Rania hati hati.
"Boleh, asal aku ada waktu," ucap Nabil lembut.
Mereka pun berbincang sambil menikmati cemilan buatan Wina dengan arah pandangan tertuju pada televisi yang ada di kamar Nabil.
Drtt drtt drtt
Nabil melihat hapenya, tertera disana My Lovely Dad, hingga Nabil meminta ijin mengangkat telepon terlebih dahulu.
"Yes Dad," jawab Nabil.
"Sayang, kapan kamu pulang, Mommy sudah kangen sekali sama kamu," suara rengekan wanita yang melahirkannya terdengar disana.
"Maaf Mommy, aku sibuk, mungkin minggu depan aku bisa pulang," jawab Nabil.
"Oke Mommy tunggu ya. Awas! Kalau kamu ingkar, Mommy akan menjodohkanmu dengan anak teman Papi," kekeh Wina.
"Please Mommy, don't do that, oke aku akan pulang minggu depan," janji Nabil.
"Oke Girl, Daddy tunggunya, we miss you so much," yang ternyata sudah berganti suara Daddynya.
"I miss you to Dad," ucap Nabil.
Saat Nabil sedang sibuk bicara dengan orang tuanya. Rania pun mengelilingi kamar Nabil. Di dekat ranjang, dia menemukan foto Nabil berpelukan mesra dengan lelaki yang kemaren mengerjainya. Rania mengira lelaki ini adalah pacar Nabil. Rania pun mendengus, "Sepertinya kamu kalah cepat Kak," lirihnya.
Rania pun melihat sekelilingnya, dia mencari tempat yang aman dan tak terlihat untuk menjalankan rencana gila sang kakak.
Setelah berbicara dengan orang tuanya. Nabil pun kembali ke sisi Rania. "Minggu depan aku pulang, apa kamu mau ikut?" tanya Nabil.
"Mau mau," jawab Rania semangat. Rania pun mengirim pesan pada Kakaknya, agar menyiapkan segala sesuatunya, karena minggu depan dia kembali mendatangi calon kakak iparnya.
__ADS_1