
Untuk sementara ini, Nandio menghentikan aksinya, dia sudah bosan bermain kucing kucingan dengan pengawal dan calon Papa mertuanya. Nandio mengubah strategi pendekatannya, sekarang dia akan melakukan pendekatan secara virtual.
Setiap hari Nandio selalu mengirim pesan receh pada Nabil. Mulai dari perhatian dari gombalan dia kirimkan setiap harinya. Nabil yang awalnya cuek tak mau menanggapi, akhirnya luluh juga. Seolah ada sesuatu yang hilang jika dia tidak mendapatkan pesan rayuan dari Nandio.
Hingga akhirnya Nabil pun membuka hatinya. Seperti pagi ini, bangun tidur, Nabil sudah dihadiahi rayuan gombal mahasiswanya.
"Cintaku, sudah cukup kamu pergi dari asrama, jangan pernah pergi lagi, karena bagiku, sedetik tak melihatmu bagai 1000 tahun lamanya."
"Please, jangan tolak cinta adek, aku tau kita gak seumur, tapi bolehkan aku seumur hidup denganmu*."
"*Semalam aku tidak bisa tidur, karena bayanganmu selalu aja menghiasi pikiranku"
Kapan kita bisa bertemu I miss You so
Dia hanya tertawa membacanya. Sejak lamaran dadakan waktu itu, mereka memang belum bertemu lagi. Padahal dulu, tiap malam dikelonin ya. Nabil aja yang nggak tahu.
Akhir akhir ini, Nabil merasa tidurnya kurang nyenyak. Padahal sebelumnya dia bisa tidur dengan nyaman, seolah ada yang mendekapnya. Tidurnya terasa tidak ada kenyamanan.
Nabil pun membalas pesan Nandio.
"Kita bertemu di taman dekat asrama"
Nandio melompat kegirangan setelah Nabil membalas pesannya. Dia harus menyiapkan pakaian terbaik untuk bertemu dengan gadis pujaannya. Nandio membawa bunga dan coklat kesukaan Nabil, dia tahu dari Rania adiknya semua makanan kesukaan Nabil.
Nandio sudah berada di taman, menunggu gadis pujaannya. Namun hingga 1 jam menunggu, Nabil belum datang juga. Nandio masih setia menunggu. Nandio pun menelepon nomor Nabil, tapi hanya operator yang menjawab.
1 jam kemudian Nabil masih belum juga datang. Nandio merasa Nabil hanya mempermainkannya. Setelah dilambungkan setinggi langit, tapi kemudian dijatuhkan kembali.
Nandio membuang semua bunga yang dia beli. Dan berjalan pulang ke asrama. Hatinya sakit, dia merasa seperti layang layang yang ketika sudah terbang tinggi namun talinya putus di tengah jalan. Ternyata sesakit ini kalau cinta bertepuk sebelah tangan.
Nandio pun mnegecek hapenya, barangkali ada pesan yang terlewat. Ternyata nihil. Bahkan dia tak meminta maaf karena telah mengingkari janjinya. Apa aku yang terlalu tinggi mengharapkannya, begitu pikir Nandio. Karena merasa suntuk Nandio pun memilih tidur.
__ADS_1
Di Rumah Wina.
Pagi ini Zain tengah lari pagi bersama Zico putranya. Mereka sudah mengelilingi taman sebanyak 2x. Saat mereka tengah bersenda gurau, tiba tiba dada Zain terasa sesak. Zain pun mencoba menarik nafas panjang, barangkali bisa membuka jalan oksigen yang seolah terhambat masuk ke dalam paru parunya. Zico yang melihat Daddynya seperti kesulitan bernafas pun panik.
"Dad, are you okey?" tanya Zico. Zain hanya menganggukkan kepalanya.
Tiba tiba, Zain merasakan sakit pada dadanya. "Zico, kenapa dada Daddy tiba tiba sakit, rasanya sesak sekali," keluh Zain dengan suara yang terbata bata.
"Kita pulang ya Dad," ajak Zico.
Zain sudah tak sanggup untuk menjawab, dia hanya mengedipkan matanya saja. Zico lalu memapah Daddynya ke mobil. Dia mendudukkan Daddynya perlahan. Kemudian melajukan mobilnya secepat dia bisa.
Karena tak ingin terjadi apa apa, Zico langsung membelokkan mobilnya ke rumah sakit yang terlihat olehnya saat perjalanan. Mereka telah sampai dirumah sakit. Zico langsung berteriak memanggil Dokter kala mendapati sang Daddy yang sudah menutup matanya.
Zain langsung ditangani oleh Dokter. Tak berapa lama, Dokter pun keluar, "bagaimana keadaan Ayah saya Dok?" tanya Zico.
"Diagnosa sementara, Bapaknya terkena serangan jantung mendadak, untuk memantau keadaanya, pasien kami taruh di ruang ICU," jawab Dokter itu.
Zico pun kaget, karena setaunya Daddy adalah orang yang rajin berolahraga, dan selalu makan makanan yang sehat, tapi kenapa bisa terkena serangan jantung.
Deg
Jantung Wina berdetak kencang mendengar kabar dari putranya. Kenapa suaminya yang selalu hidup sehat bisa terkena serangan jantung. Wina adalah seorang dokter, dia tahu secara pasti bagaimana orang bisa terkena serangan jantung. Dan semua itu tidak ada pada suaminya.
Nabil hendak berangkat untuk ketemuan dengan Nandio. Dia sudah turun ke bawah. Melihat putrinya sudah rapi, Nabil langsung mengajak sang putri ke rumah sakit.
"Mom, kenapa tarik tarik Nabil?" tanya Nabil yang bingung dengan Mamanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Daddy terkena serangan jantung," tukas Wina.
Nabil langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit tempat Daddynya dirawat. 15 menit kemudian, Nabil sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung berlari ke ruang ICU. Disana sudah ada Zico yang menunggu didepan ruangan.
__ADS_1
"Gimana keadaan Daddy?" tanya Wina pada Zico putranya.
"Papa masih didalam, kata Dokter Papa terkena serangan jantung mendadak" jawab Zico.
"Zico, kamu hubungi Opa Juan, suruh ke rumah sakit sekarang," titah Wina.
Wina pun langsung berlari masuk ke dalam ruang ICU, setelah memakai baju steril, dia mendekati sang suami. Wina membelai wajah tampan suaminya, dia memegang tangan suaminya yang terasa dingin. Dia ciumi tangan suaminya diiringi isak tangis.
Mendengar tangisan istrinya, Zain membuka matanya. Dia mengusap air mata Wina. Wina mendongak melihat wajah sayu suaminya.
"Jangan menangis," lirih Zain.
"Mana yang sakit Pa?" tanya Wina. Zain pun menunjuk pada dadanya.
"Papa pasti sembuh, Wina yakin itu," ucap Wina.
Zain hanya tersenyum. Nafasnya semakin sesak, nyeri di dadanya semakin hebat. Namun dia ingin melihat anak dan istrinya, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Di-ma-na a-nak a-nak?" tanya Zain dengan terbata bata.
Wina pun memanggil kedua buah hatinya ke dalam. Zain memegang tangan kedua buah hatinya beserta tangan istrinya. Dengan nafas yang tersengal sengal, Zain mencoba berbicara.
"Ka-li-an ha-rus sa-ling men-jaga, Pa-pa sa-yang ka-lian se-mua," ucap Zain.
Mereka semua menangis sambil menggelengkan kepala. "Papa jangan berkata seperti itu, Papa pasti sembuh," isak Nabil.
"Zi-co te-rus-kan usa-ha Pa-pa," lirih Zain. Zico hanya menangis.
Zain lalu mengusap kepala istrinya. "A-ku cin-ta ka-mu, te-ri-ma ka-sih su-dah me-ne-ma-ni-ku, bim-bing aku," pinta Zain.
Wina ingin menolak kenyataan ini, namun sebagai Dokter, dia tahu bahwa serangan jantung mendadak sangat fatal akibatnya. Dan dia tahu batas waktu suaminya tinggal sebentar lagi.
__ADS_1
Wina pun membimbing suaminya menyebut asma Allah. Meski dengan nafas berat dan suara terbata bata, Zain bisa melafalkannya. Hingga monitor jantung menunjukkan garis lurus.
Tiiit Tiiit