Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-29


__ADS_3

Zain adalah tipe pria yang amat posesif, jangankan memegang, bicara saja dirinya tak rela. Zain yang sudah tersulut emosi bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, dirinya langsung mengajak kedua orang tuanya untuk kembali ke Amerika. Dirinya takut orang tuanya mengetahui masalah rumah tangganya, jika mereka berdua bertemu Wina.


"Ma, Pa kita kembali sekarang" ajak Zain pada kedua orang tuanya.


"Loh kenapa buru buru Zain, bukannya kamu harus menemani istrimu sampai keluar dari rumah sakit baru kita kembali" usul Papa Juan.


"Zain ada operasi Pa, dan tidak ada yang bisa gantikan, jadi mau tidak mau Zain harus kembali" bohong Zain.


"Kalau gitu kita mampir ke rumah sakit dulu Zain sebelum berangkat" ajak Papa Juan.


"Tadi Zain sudah pamitkan sama Wina Pa, nanti Papa dan Mama telpon saja, oh iya kemana Ayah dan Ibu? tanya Zain ketika tak melihat kedua mertuanya.


"Mereka sedang ke pasar Zain, Wina tadi bilang ingin dibuatkan asem asem iga. Ya sudah nanti Mama telpon saja" jawab Mama Mirna.


Mereka pun membereskan semua barang barangnya. Setelah beres, mereka pun pergi meninggalkan apartemen. Kunci apartemen dititipkan Zain pada satpam yang berjaga.


Mama Mirna pun menelepon Wina, dirinya tak ingin pergi tanpa berpamitan pada Wina.


Kring....Kring...


"Ya, Nyonya" sapa Dokter Mary.


"Mary, kenapa telepon menantuku ada padamu" tanya Mama Mirna.


"Tadi saya pergi ke taman dengan Nona Muda, namun sewaktu saya tinggal sebentar, Nona Muda sudah tidak ada di taman, saya pikir beliau ada di dalam kamar, namun ternyata tidak ada, dan sewaktu saya akan pergi mencarinya telponnya berbunyi" jawab Dokter Mary.


"Ya sudah, sampaikan saja sama menantuku, kalau kami kembali dulu ke Amerika, nanti kalau ada waktu senggang kami akan mengunjungi Wina kembali, salam juga buat kedua orang tua Wina," ucap Nyonya Mirna.

__ADS_1


"Apa Tuan Muda ikut kembali Nyonya?" tanya Dokter Mary.


"Iya, Zain ada operasi besar, dan tidak ada yang gantiin makanya buru buru balik, kamu jaga Wina sampai keluar dari rumah sakit ya setelah kondisinya membaik baru kamu boleh balik" titah Nyonya Mirna.


"Siap Nyonya" jawab Dokter Mary.


Zain yang mendengar Wina belum kembali ke kamar, semakin bertambah emosi, dia berpikir kalau Wina masih dengan pria paruh baya yang memeluk dan mencium rambutnya tadi.


Wina sudah kembali ke ruangannya, Dokter Mary baru saja selesai berteleponan dengan Mama Mirna.


"Wina!! Kamu ini kemana saja, ini mertuamu telepon kamu tidak ada" oceh Dokter Mary.


"Maaf Dok, tadi saya habis bertemu dengan direktur Mahendra, pemilik rumah sakit tempat saya dulu bekerja, memang Mama bilang apa?" tanya Wina.


"Beliau saat ini sedang dalam perjalanan menuju pulang ke Amerika. Mereka tidak sempat pamit karena buru buru. Makanya mereka nelepon kamu" jawab Dokter Mary.


"Ohh, terus suamiku apa ikut pulang atau hanya mengantar Papa dan Mama ke bandara" tanya Wina.


Deg...


Wina merasa jantungnya diremas, sakit sekali, mengapa suaminya begitu tega padanya, dia merasa tidak berarti apa apa untuk Zain, sehingga suaminya pergi meninggalkannya tanpa pamit, apa pertengakaran tadi membuat dia sangat marah, tapi Wina merasa sudah menjelaskan semuanya. Wina bertanya dalam hati, "Tuhan, apakah ini adalah akhir dari rumah tangganya. Ditinggalkan suami dalam keadaan hamil hanya karena masalah sepele menurutnya. Beri hamba kekuatan Ya Rabb."


"Win, Nona, Halooo! kok malah bengong" seru Dokter Mary.


"Eh iya, mungkin belum atau lupa entahlah" lirih Wina.


Wina pun menelepon kedua orang tuanya memberitahukan untuk tidak datang ke rumah sakit, karena Wina akan segera pulang.

__ADS_1


"Wait wait, kenapa kamu bilang sama ayah kalau mau pulang, siapa yang izinin kamu pulang?" sergah Dokter Mary.


"Wina sudah merasa baik Dok, kalau hanya tidur saja, dirumah juga bisa" sanggah Wina.


Karena Wina yang terus memaksa akhirnya Dokter Mary mengijinkan dia pulang. Wina juga menyuruh Dokter Mary kembali ke Amerika. Kini mereka tengah membereskan barang Wina.


"Dok, nanti kalau Dokter kembali ke Amerika, tolong kasihkan amplop ini pada suami saya ya" ucap Wina sendu.


"Baik, apa ada lagi" tanya Dokter Mary.


"Tidak ada, Dokter tidak usah mengantar saya sampai apartemen, karena tiket untuk Dokter yang sudah saya pesankan sudah waktunya boarding. Terima kasih atas segalanya, salam untuk Mama dan Papa, katakan aku sangat menyayangi mereka. Selamat tinggal Dokter, semoga kita bisa bertemu lagi" ucap Wina sambil memeluk erat Dokter Mary.


Wina sudah memikirkan segalanya, dirinya tak mau lagi hidup bergantung pada suaminya, manakala suaminya sendiri tak menghiraukan keadaannya. Di dalam amplop itu ada surat dan beberapa kartu yang diberikan oleh Zain. Wina masih sanggup menghidupi buah hatinya.


Begitu sampai di lobby apartemen, kedua orang tua Wina sudah berada disana, mereka membantu Wina turun dari taxi. Begitu sampai di apartemennya, Wina merasakan kerinduan disana.


"Ayah, Ibu, Wina ingin Ayah berhenti bekerja. Wina ingin Ayah dan Ibu tinggal disini. Wina tidak ada yang menemani, apalagi saat ini Wina sedang hamil, bagaimana menurut Ayah?" tanya Wina.


"Ayah juga berpikir begitu Nak, kasihan kamu, mana lagi hamil, suami harus kerja di lain negara, makanya ayah sudah memutuskan untuk tinggal bersamamu disini" ucap Ayah.


Wina girang mendengar keputusan orang tuanya, dia lalu memeluk keduanya dengan berderai air mata. Orang tua Wina juga tidak tahu mengenai masalah rumah tangganya. Mereka hanya mengusap punggung putrinya yang sedang menangis tersedu sedu.


"Ayah, Wina akan jual apartemen ini, Wina ingin kita tinggal di desa ayah saja, nanti Wina akan buka praktek mandiri disana, boleh kan Yah?" tanya Wina.


"Apapun yang kamu inginkan sayang selama itu baik, Ayah akan selalu mendukungmu" ucap Ayah sambil membelai rambut putrinya.


Wina pun memberi tahu Direktur Mahendra tentang rencananya, dan Direktur Mahendra menyayangkan keputusannya padahal jika dia mau kembali bekerja padanya, posisi kepala rumah sakit akan diberikannya. Namun dia tahu betapa keras kepalanya Wina, jadi dia menuruti saja keinginan Wina itu. Direktur Mahendra pun membantu segala perijinan agar Wina bisa membuka praktek di kota Yogyakarta.

__ADS_1


Yogyakarta adalah kota pilihan Wina membesarkan buah hatinya. Kota yang kental dengan budayanya. Wina merasa nyaman dan damai saat berada disana. Di samping itu Wina juga tidak ingin Zain menemuinya setelah meninggalkannya tanpa kabar. Hatinya masih terlalu sakit mengingat sikap Zain yang menurutnya terlalu kekanakan, egois, dan tidak bisa menerima penjelasan orang lain.


Setelah semua perijinan selesai. Wina memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta. Apartemennya memang belum laku, namun dia sudah menyuruh Dokter Mahendra yang mengatur semuanya.


__ADS_2