
Kedua orang tua Memey membawa beberapa foto pernikahan, termasuk buku nikah, juga foto foto kelahiran Nabil. Mereka ingin mengenalkan lewat foto terlebih dahulu, sebelum membawa Nabil dan si kecil ke rumah sakit.
"Ini foto pernikahan kamu, dan ini foto putri pertama kamu, ini juga buku nikah kamu, maaf untuk foto putra bungsu kamu, Ibu belum sempat fotokan, karena saat itu kami sibuk merawat kamu," sesal Ibu Mela.
Wina pun memandangi foto pernikahannya, dia berusaha mencari kepingan memori di dalam otaknya. Namun malah sakit yang dia dapatkan. Wina pun meringis kesakitan. Ayah dan Ibu Wina langsung mengambil semua foto foto itu. Namun malah didekap erat oleh Wina.
"Sayang, jangan terlalu dipaksa, pelan pelan saja," nasehat Ayah Bandi.
Wina pun menangis, "Kenapa Wina tidak ingat sama sekali Yah, dan setiap mencoba mengingatnya, kepala Wina bertambah sakit," lirih Wina.
"Pelan pelan sayang," ucap Ayah Bandi.
Setelah tangisnya sedikit reda, Wina kembali melihat foto putrinya, dia sangat lucu, ada perasaan hangat saat Wina melihat gambar putrinya.
"Ayah, bawa keduanya kemari," titah Wina.
Ayah Bandi pun menelepon Papa Juan, dia menyuruhnya untuk membawa Nabil dan si kecil ke rumah sakit. Nabil sangat antusias saat diberi tahu sang Mommy ingin bertemu dengannya. Papa Juan langsung mengantarkan Nabil dan si kecil ke rumah sakit.
"Mommy," Nabil langsung berhambur memeluk Mamanya saat tiba di ruangan Wina.
Wina pun menyambut pelukan sang putri. Melihat perban di kepala Mamanya, Nabil pun menyentuhnya.
"Apa ini sakit Mom?" tanya Nabil.
"Tidak sayang, sudah sembuh kok," jawab Wina.
Wina pun melihat bayi yang sedang digendong oleh wanita paruh baya di depannya. Melihat ekspresi Wina, Mama Mirna yakin, Wina tidak mengenalinya. Dia pun memperkenalkan dirinya.
"Sayang, Mama ini adalah mertuamu, lalu ini putra keduamu, dan itu adalah Papa mertuamu, kamu," jelas Mama Mirna.
Wina pun mengangguk, lalu merentangkan tangannya. Mama Mirna yang paham pun membawa cucu keduanya ke pangkuan Wina. Wina menangis haru, melihat bayi tampan yang saat ini digendongnya.
"Siapa namanya Ma?" tanya Wina.
Mama Mirna menghela nafas, "Kami belum memberinya nama, kami menunggu kamu sadar," ucapnya.
Wina pun melihat buku nikah yang dibawakan Ibunya tadi. Dia lalu tersenyum, "Bagaimana kalau namanya Zico Putra Zain?" usul Wina.
Mereka semua saling pandang, kemudian mengangguk bersamaan. "Nama yang bagus," puji Papa Juan.
__ADS_1
Wina pun mencoba memberinya asi kala Zico menangis kencang. Dan ternyata, si kecil tidak menolaknya.
"Mommy, where's Daddy?" tanya Nabil.
Wina bingung menjawab pertanyaan putrinya, dia menatap Mama Mertuanya, hingga Papa Juan pun angkat bicara.
"Daddy, saat ini lagi berobat di luar kota, nanti kalau sudah sembuh pasti kembali" jawab Papa Juan.
"Kenapa harus di luar kota, apa disini dokternya tidak bagus?" tanya Nabil.
"Bagus, hanya saja disana lebih bagus" jawab Papa Juan.
"Semoga Daddy cepet sembuh, supaya bisa berkumpul sama kita lagi" doa Nabil.
"Aamiin" sahut semua orang kompak.
Kondisi Wina saat ini sudah lebih baik, meski dia masih belum ingat semua, namun orang tua beserta mertuanya selalu membimbing dan mensupport dirinya.
Saat ini, Wina sudah berada di rumah. Rumah dia dan Zain. Wina mulai melihat setiap bagian di rumah itu. Namun anehnya tidak ada kepingan memori yang dia dapatkan.
Di Kota Lain.
"Sudah lebih baik, hanya saja masih sedikit nyeri, dan berapa lama aku bisa sembuh?" sahut laki laki itu.
"Untuk operasi tulang, membutuhkan waktu sekitar 1 bulan, setelah itu Anda bisa mencoba berjalan dengan bantuan kruk. Sedangkan untuk operasi luka bakar sekitar 4-6 minggu," jelas Dokter itu.
"Ya Allah kenapa lama sekali, ini sudah lebih dari seminggu aku disini, bagaimana dengan nasib anak dan istriku saat itu, " gumamnya.
Ya, laki laki itu adalah, Zain. Dia diselamatkan oleh seorang Dokter lalu dibawa ke rumah sakit tempat dia praktek. Dan disinilah ia sekarang. Zain mengalami patah tulang kaki dan luka bakar sedikit parah yang mengharuskan ia melakukan bedah plastik.
Satu bulan kemudian
Zain sudah mulai belajar berjalan dengan bantuan tongkat kruk, dia berusaha cepat sembuh, supaya bisa menemui istri dan anaknya.
Zain pun menghubungi sang Papa, dia bukan tak tahu sang Papa mencarinya, hanya saja dia tak ingin kedua orang tuanya tahu keadaan dia yang sebenarnya.
"Sus, boleh pinjam hape? Saya ingin menelepon ayah dan istriku," pinta Zain pada perawat yang sedang mengganti cairan infusnya.
"Boleh Tuan, ini, nanti kalau sudah selesai, Tuan pencet saja tombol itu, saya akan datang kesini" ucapnya seraya menyodorkan hape berlogo buah itu.
__ADS_1
Papa Juan sedang memimpin rapat saat itu, jadi dia men-silent hapenya. Hingga dering ke 10, masih juga belum diangkat. Zain pun mengirimkan pesan singkat.
[To : +1443xxxxx] Pa ini Zain, kalau Papa sudah gak sibuk telpon nomor ini.
30 menit berlalu, namun belum ada jawaban dari pesan yang sudah dia kirim ke Papanya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meneleponnya kembali. Dering ke tujuh baru terjawab.
"Halo Papa" sapa Zain.
"Ya, ini siapa?" tanya Papa Juan.
"Pa, ini Zain, saat ini Zain berada di rumah sakit New York, kalau Papa tidak sibuk tolong jemput Zain, Oh iya Pa, Zain minta nomor Wina yang baru soalnya Zain lupa," pinta Zain.
"Ya Allah Zain, kamu masih hidup Nak, Alhamdulillah, kami sudah putus harapan saat tidak menemukanmu di mobil saat kecelakaan" seru Papa Juan girang.
"Ya Pa, Zain paham, maaf Zain baru bisa menelepon sekarang, ada beberapa hal yang tidak bisa Zain ungkapkan lewat telepon karena mungkin akan mengagetkan Papa," ucap Zain.
"Ya sudah, Papa kesana sekarang, kamu share lok saja," ucap Papa Juan.
Saking senangnya mendengar suara putra semata wayangnya, Papa Juan sampai lupa kalau Zain sedang menunggu nomor telepon Wina. Papa Juan langsung pergi menuju rumah sakit tempat Zain dirawat.
3 jam kemudian, Papa Zain sampai di rumah sakit itu. Dia langsung pergi menuju ke ruangan Zain. Betapa kagetnya Papa Juan, melihat keadaan putranya.
"Zain," lirih Papa Juan ragu.
"Ya Pa," sahut Zain.
Papa Juan baru yakin setelah mendengar suara sang putra. "Kenapa bisa begini?" tanya Papa Juan.
Zain pun menceritakan semua kejadiannya, termasuk kondisinya saat ini. Begitu pun sebaliknya, Papa Juan juga menceritakan kondisi Wina saat ini, yang melupakan sebagian ingatannya. Zain menangis lirih mendengar keadaan istrinya. Sepertinya kehidupannya akan membutuhkan banyak kesabaran.
Papa Juan pun membawa Zain pulang, Zain berjalan dengan menggunakan kruk, karena kakinya masih belum pulih. Sampai di rumahnya, Zain melihat sekeliling rumahnya, ada sedikit perbedaan disana. Papa Juan pun menyuruh Bibi untuk memanggil Wina.
Zain sudah tak sabar untuk melihat istrinya, rasa rindu yang sudah lebih dari sebulan dia tahan, akhirnya terbayar sudah. Dia ingin lekas memeluk dan menciumnya. Zain lupa dengan keadaan istrinya.
Wina pun turun sambil menggendong putranya. Melihat Papa mertuanya, Wina langsung mencium punggung tangan Papa Juan.
"Sayang!" sapa Zain.
Wina merasa asing dengan laki laki yang dibawa oleh Papa Juan. Ketika Zain hendak mendekat, Wina reflek memundurkan tubuhnya. Melihat gelagat istrinya, ada rasa kecewa di sudut hati Zain.
__ADS_1
"Maaf, Anda siapa?" tanya Wina.