
Di Indonesia
Dion bekerja dengan keras agar bisa mendapatkan cuti untuk menyusul Wina ke Baltimore. Dia sudah mendapatkan alamat Wina dari.detektif suruhannya. Rencananya bulan depan dia akan pergi kesana. Nia tidak mengetahui rencana Dion menemui Wina. Entah apa yang akan Dion katakan agar Nia mengijinkannya pergi ke Baltimore.
"Soni, minggu depan kalau Nia datang kemari nanyain gue kemana, loe bilang aja gak tahu, awas kalau sampe bocor" perintah Dion.
"Yaelah boss, situ yang pergi kenape gue yang repot," protes Soni.
"Pokoknya tugasmu selama gue di Amerika menjaga keamanan kantor dan Nia" tuntut Dion.
"Gue jadi satpam dong boss," oceh Soni.
"Udah gak usah protes, ntar kalau misi gue berhasil, loe gue kasih bonus" potong Dion.
"Bener ya boss, gue tunggu bonusnya" seru Soni.
Hari ini tiba waktunya Dion pergi ke Amerika, rencana mampir dulu ke LA dia batalkan, karena dia tidak sabar untuk bertemu Wina. Setelah melalui 32 jam perjalanan akhirnya sampai juga di Baltimore. Dion memilih untuk istirahat sejenak di hotel.
Keesokannya, sebelum Dion pergi ke rumah Wina, dia membeli bucket bunga mawar putih dan beberapa coklat kesukaan Wina. Dion tiba dirumah Wina pukul 9 pagi, tapi rumah itu kosong. Menurut tetangga di sebelah rumahnya, biasanya Wina pagi2 sudah pergi dan kembali saat sore hari. Daripada gabut disana, akhirnya Dion jalan2 menyusuri kota Baltimore terlebih dahulu. Baru nanti sore akan kembali lagi ke rumah Wina.
Sore harinya Wina pulang diantar Zain, biasanya dia juga pulang sendiri tapi hari ini Zain getol banget pengen nganterin Wina pulang, mungkin udah kerasa kali ya mau ada saingan yang datang wkwkwk. Wina sampai dirumahnya pukul 4 sore.
"Bapak langsung pulang apa mampir dulu" tanya Wina.
"Masak udah nganter jauh2 gak dikasih minum atau apa gitu" kesal Zain.
"Ya makanya saya nanya, mau mampir apa langsung pulang, tinggal jawab aja susah amat" keluh Wina.
" Nggak usah pake marah nanti jelek, ya udah saya mau makan malam disini, kamu masak yang enak" ucap Zain.
Dengan hati yang dongkol Wina pun masuk ke dalam, menaruh tas dan buku2nya di meja lalu pergi ke dapur untuk memasak. Wina jarang sekali masak masakan western, dia paling suka masakan khas Indonesia, maka dari itu Zain selalu senang memakan masakan Wina karena dirumah ibunya jarang sekali memasak masakan jawa.
__ADS_1
"Ting Tong, Ting Tong"
Bel berbunyi, Wina menyuruh Zain untuk membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, "Sayang," Dion kaget mendapati laki laki di rumah Wina.
"Maaf, mau cari siapa ya" tanya Zain menggunakan Bahasa Indonesia karena yang datang sepertinya orang Indonesia juga.
"Anda siapa" tanya Dion
"Namaku Zain, aku adalah...." Belum sempat Zain meneruskan kalimatnya, Wina datang dari dapur, "Ada siapa Pak?" tanya Wina. Dion langsung berhambur memeluk Wina, sedangkan yang dipeluk hanya diam ditempat.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu, kenapa kamu pergi gak bilang2, aku minta maaf sayang, soal foto2 yang dibawa Nia itu semua gak benar sayang, aku gak pernah tidur ama Nia, sumpah" oceh Dion sambil mengangkat 2 jarinya.
Wina menoleh pada Zain, sedangkan Zain hanya menatapnya datar, rahangnya mengeras menahan amarah didada dengan tangan mengepal disamping. Setelah menghembuskan napas panjang, Wina mencoba melepaskan pelukan Dion, lalu berkata, "Masuk dulu kak, kita bicara didalam."
Setelah mereka semua duduk, Dion pun langsung memberikan bunga dan coklat yang dia bawa tadi,
"Sayang ini coklat dan bunga kesukaanmu" ucap Dion tanpa rasa bersalah.
"Sayang aku kesini buat meluruskan kesalahpahaman kita, aku belum pernah tidur dengan Nia hingga saat ini, dan ini kubawa semua bukti2 kejadian saat aku di hotel pada saat foto itu diambil, please sayang, maafin aku, aku janji gak bakal melakukan kesalahan yang sama lagi, kasih kesempatan aku sekali lagi ya" sanggah Dion.
Wina hanya terdiam, melihat perasaan Wina yang mulai goyah , Zain langsung angkat bicara,
"Hhmm, mohon maaf sebelumnya, tapi saat ini Wina adalah calon istri saya dan anda hanya mantan pacar kan, jadi buanglah mantan pada tempatnya" sinis Zain.
Mendengar hal itu Dion meradang, Dion langsung bangkit dan menghaja Zain. Zain yang mendapat serangan mendadak tentu saja tidak siap hingga tersungkur ke lantai. Setelah itu Zain pun bangkit dan membalas pukulan Dion. Dion pun terjatuh, sambil memegangi pipinya, Dion berkata, "Kamu pasti bohong, yang dia bilang itu gak bener kan sayang, jawab sayang."
Melihat perkelahian mereka Wina hanya bisa menangis, sejujurnya di hatinya masih ada Dion walau rasa benci lebih mendominasi, dan melihat tatapan Dion, Wina takut hatinya luluh maka dari itu dia hanya diam tanpa kata.
Melihat tangisan Wina, Zain reflek merengkuhnya. Dan hal itu tak luput dari perhatian Dion, "Please sayang, katakan jika memang benar dia adalah calon suamimu?" pinta Dion.
"Maaf kak, itu benar" lirih Wina kemudian dia berlari ke dalam kamar.
__ADS_1
"Maaf sebaiknya, sekarang anda pulang, saat ini Wina memang calon istri saya dan kami akan menikah setelah Wina lulus" tegas Zain kembali.
Hingga akhirnya, Dion pergi meninggalkan tempat Wina. Sepeninggal Dion, Wina masih belum keluar dari kamarnya, hingga Zain mengetuk pintu, barulah dia terbuka pintunya.
" Maaf Pak, sini biar kuobati luka bapak" ucap Wina begitu keluar dari kamarnya.
Saat tangan Wina akan mengoleskan obat ke pipinya, Zain memegang tangan Wina. Dia menatap Wina dengan tajam, tak tahan dengan tatapan itu, Wina pun menunduk.
"Meski di hatimu belum ada namaku, please tetap disisiku, jangan pernah kembali pada Dion" pinta Zain.
"Aku sudah berkomitmen dengan bapak, dan aku akan menjaga komitmen itu" lirih Wina.
"Tidak bisakah kau panggil diriku dengan nama lain, mantanmu saja masih kau panggil kakak, sedangkan aku calon suamimu kau panggil bapak" sungut Zain.
"Memangnya kamu mau kupanggil kakak juga" tanya Wina.
"Tidak mau, jangan kau samakan aku dengannya, panggil sayang saja" balas Zain sambil mengerucutkan bibirnya.
Melihat itu Wina hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala. Ada ada saja pikirnya. Namun Wina akan memikirkan panggilan apa yang sesuai untuk Zain.
Meski sudah kalah start, namun Dion belum menyerah, selama janur kuning belum melengkung, dia akan berusaha mendapatkan hati Wina kembali, itu.prinsipnya.
Sesampainya di hotel, Dion menelepon detektifnya, "kamu cari tahu yang namanya Zain lengkap beserta kelemahannya."
"Tapi bos Zain siapa ada banyak Zain di dunia ini" protes detektif itu.
"Aku sendiri juga gak tahu nama lengkapnya, coba cari di kampus Wina, barangkali dia temen sekampusnya" perintah Zain.
"Siap boss," ucap detektif itu semangat.
Hanya butuh waktu beberapa jam bagi Dion untuk mengetahui siapa Zain sebenarnya, "Hhmm, rupanya dia adalah dosen pembimbingnya, dan dia adalah anak dari pemilik hotel tempat Ayah Wina bekerja, dan mereka dijodohkan, itu artinya Wina tidak menyukainya, bisa jadi dia menerima perjodohan ini untuk melampiaskan sakit hatinya, dan berarti aku masih ada harapan untuk mengejarnya" pikir Zain melayang.
__ADS_1