Akhir Sebuah Perselingkuhan

Akhir Sebuah Perselingkuhan
ASP-13


__ADS_3

Karena dinner romantis kemaren gagal. Hari ini Dion akan memasak bersama. Kalau yang ini tidak mungkin gagal, karena tidak mungkin si Zain sialan itu pagi pagi udah nongol di rumah Wina.


Pagi ini Dion sudah menyuruh ob hotel untuk membelikan beberapa bahan masakan untuk diolah bersama Wina. Ya Dion memang tak patah semangat buat ngedapetin Wina kembali. Karena menurutnya Wina layak buat diperjuangkan meskipun udah telat ya ...


Wina yang sudah hapal mendengar bel berbunyi di pagi hari, siapa lagi kalau bukan mantan yang tidak tahu malu itu. Dengan wajah tak bersahabat Wina membukakan pintu rumahnya.


"Hai, selamat pagiii," sapa Dion dengan senyum lebar.


"Mau ngapain lagi pagi pagi kesini, kan kemaren aku udah bilang jangan dibawain sarapan" desis Wina sebal.


"Hehehe... hari ini aku memang gak bawa sarapan, tapi aku mau masak sarapan bersama kamu, ini aku udah bawa bahan bahannya" ringis Dion tanpa dosa.


Sambil menggelengkan kepalanya, akhirnya Wina menyuruh Dion masuk, sebenarnya agak malas kalau masak sama Dion tapi hitung hitung lumayanlah mengurangi pengeluaran hari ini.


Akhirnya mereka masak bersama. Jangan dibayangkan mereka masak dengan bercanda ria saling merayu ya. Wina memasak dengan wajah yang cemberut sementara Dion hanya memotong tahu dan tempe saja, walaupun bentuknya gak beraturan tapi lumayanlah.


Setengah jam kemudian sarapan ala Wina dan Dion sudah matang. Menu kali ini agak berat, yaitu nasi uduk orek tempe, telur dadar, ayam goreng dan sambal. Mereka berdua makan dengan canggung, karena Wina lebih banyak diam, dan hanya sedikit jawaban jika ditanya. Setelah makan, Wina memasukkan makanannya ke kotak box, Dion yang mengira itu untuk bekal makan siangnya pun tersenyum bahagia.


"Wina, sambalnya jangan terlalu banyak, kamu kan tahu aku gak suka sambal," protesnya saat Wina memasukkan sambal ke dalam kotak makan.


"Ini bukan untuk kak Dion, ini untuk Zain, karena setiap hari saya selalu membuatkannya sarapan" kesal Wina.


Mendengar itu Dion tersenyum kecut, dirinya merasa kalah, karena dulu selama berpacaran dengannya Wina tidak pernah membuatkannya sarapan, kalaupun pernah itu bisa dihitung dengan jari.


"Kenapa kamu mau membuatkan dia sarapan setiap pagi, sedangkan saat bersamaku, kamu hampir gak pernah bikinin aku sarapan" rajuk Dion.


"Dulu aku bekerja tanpa kenal waktu, sekarang aku pengangguran, dan kalaupun bikinkan kamu sarapan, arah rumah kita itu berbeda 180°, bisa bisa aku telat kalau masuk shift pagi" oceh Wina.


"Maaf...." sesalnya.

__ADS_1


"Sekarang kamu mau nganterin aku atau kamu pulang ke hotel" cicit Wina.


"Aku anterin kamu aja, kita ke rumah yang kemaren kan? tanya Dion.


"Tidak, langsung ke kampus saja" ucap Wina singkat.


"Wina, besok temenin gue ke Inner Harbor ya" ajak Dion.


"Gak bisa, gue sibuk" jawab Wina.


"Terus kamu gak sibuknya kapan dong? Atau nonton aja boleh deh?" cecar Dion.


"Bisa gak kamu gak gangguin gue, lebih baik kamu pulang ke Indonesia urusin noh pacar kamu, ntar dia nangis kejer kalau tau kamu disini" kesal Wina.


"Wina aku kan pengen nyiptain momen perpisahan yang berkesan buat kita, jadi kedepannya nanti tidak akan ada dendam" ucap Dion.


"Aku udah maafin kamu, dan aku juga gak ada dendam sama kamu, jadi please, besok besok kamu gak perlu lagi datang ke rumah gue. Ingat itu!!!" oceh Wina sebal.


Keesokannya, dengan semangat 45 Dion datang ke kampus tempat Zain mengajar. Dia sudah bertanya pada mahasiswi dimana ruangan Zain. Setelah mengetuk pintu, Dion pun dipersilahkan masuk oleh si pemilik ruangan. Melihat yang datang rivalnya, Zain tersenyum sinis,


"Ada angin apa tuan Dion yang terhormat datang ke ruangan saya? Tidak mungkin kan mau bimbingan" remeh Zain.


"Begini, to the point saja, saya ingin anda meninggalkan Wina" putus Dion.


"Atas dasar apa, anda menyuruh saya meninggalkan Wina" tampik Zain.


"Wina itu tidak cocok untuk anda" ucap Dion.


"Terus cocoknya sama siapa? Kamu gitu?" tanya Zain geram.

__ADS_1


Lalu Dion menceritakan bahwa Wina itu bukanlah gadis yang polos, Wina hanya pura pura baik saja agar bisa dekat denganmu. Bahkan Dion menceritakan bahwa mereka pernah tidur bersama. Dion juga membawa foto foto saat mereka tidur waktu mereka kemping di Bandung. Ternyata trik Nia dipakai ya gays buat memprovokasi Zain.


Melihat foto yang dibawa Dion, Zain bukannya marah, tapi malah tertawa,


"Memangnya kenapa kalau Wina itu pernah tidur sama kamu, disini gadis yang menikah sudah tidak virgin itu bukan hal yang aneh, bahkan rata rata hampir 90% gadis disini itu udah gak virgin lagi" tampik Zain kemudian.


Begitu reaksi Zain diluar ekspektasi, Dion memikirkan kembali cara agar bisa membuat marah Zain. Dion mulai bercerita tentang kecantikan kulit Wina, keindahan bentuk pa**daranya, kesintalan bo**ngnya hingga semua hal hal yang ada di tubuh Wina dia puji seolah olah Dion benar benar pernah menikmatinya.


Dan hal itu sukses membuat Zain meradang, meskipun itu sudah berlalu membayangkan seluruh tubuh Wina disentuh Dion rasanya dia tidak terima, dia langsung bangkit, mencengkeram baju Dio dan menghajarnya membabi buta. Dion pun membalas pukulan itu tak kalah kuat.


Bugh! Bugh!


Meskipun tubuh mereka sama kekarnya, namun Dion tetap tidak bisa mengimbangi pukulan Zain. Hingga Dion ambruk tak sadarkan diri. Melihat musuhnya sudah tak berdaya Zain langsung menelpon orang suruhannya,


"Urus dia" perintah Zain.


Berita tentang perkelahian Zain pun sampai ke telinga Wina, hanya saja dia tidak tahu jika yang menjadi lawan Zain adalah Dion. Wina langsung berlari menuju ruangan Zain. Tanpa mengetuk pintu Wina langsung masuk ke dalam,


"Kau tidak apa apa oppa.." cecar Wina begitu sampai di ruangan Zain.


"Tidak, hanya sedikit luka kecil saja" ucap Zain


"Lihat, seluruh mukamu memar begini kau bilang tidak apa. Apa ada luka lain selain di wajah" oceh Wina.


"Kau lihat saja sendiri" ucap Zain sambil membuka bajunya.


Wina pun mengobati seluruh memar yang ada di tubuh Zain. Dia sampai geleng geleng kepala melihat banyaknya memar di sekujur tubuh Zain.


"Dengan siapa oppa berkelahi, kenapa sampai bisa berkelahi di area kampus, bukankah itu dapat menimbulkan masalah untukmu" desis Wina.

__ADS_1


"Yang pasti sama sama lelaki, dan dia adalah orang yang pantas untuk dipukul" ucap Zain penuh emosi.


Setelah mengobati Zain, Wina pun mengantarkannya pulang ke rumah, dia tidak mungkin membiarkan Zain menyetir dengan badan penuh memar.


__ADS_2