
Resepsi pernikahan Wina dan Zain harus ditunda karena kondisi Mama Wina yang belum stabil. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan resepsi saat Wina sudah wisuda nanti.
Dengan bantuan Profesor yang merangkap suaminya, kuliah Wina cepat selesai. Gimana gak cepet ya, kan yang bantuin suaminya sendiri, bahkan terkadang saat Wina tertidur di atas laptopnya. Zain lah yang mengerjakan sisanya.
Wina dan Zain memang tidak menunda memiliki momongan tapi entah mengapa sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai momongan padahal usia pernikahan mereka sudah lebih dari 1 tahun. Dan untungnya kedua orang tua Zain juga tidak ambil pusing dengan hal itu. Mereka percaya bahwa kalau sudah saatnya nanti pasti akan dapat juga.
Tak terasa, Hari ini adalah wisuda Wina. Namun entah mengapa, Wina masih belum bangun juga.
"Sayang bangun, ini udah jam 7 lho. Nanti kamu telat, aku juga sudah harus berangkat ini. Kenapa malah nempel mulu" ucap Zain membangunkan istrinya.
"Hhhmmm, masih ngantuk Oppa," sahut Wina dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ya sudah kalau kamu gak bangun gak apa. Gak usah pake wisuda, nanti ijazahnya aku yang bawa pulang. Tapi sekarang lepas dulu, ini aku gak bisa gerak kamu meluknya kenceng banget. Aku udah harus berangkat ini sayang," ucap Zain sambil melepaskan pelukan Wina.
"Huaaa, Oppa jahat, aku meluk aja gak boleh, huaa" rengek Wingi sambil menangis.
"Hey kenapa menangis sayang, siapa yang gak boleh meluk, boleh kok, cuma aku harus ke tempat wisuda. Aku kan jadi panitia juga sayang, ini udah jam 7 aku harus mandi terus berangkat" jelas Zain sambil menepuk nepuk punggung istrinya.
"Hehehe oh iya Wina lupa, kan Oppa panitia juga ya, ya udah sekarang Oppa mandi, nanti kita berangkat sama sama," sahut Wina dengan wajah tanpa dosa.
Zain hanya menghela napasnya melihat perubahan istri kecilnya itu. Setelah mandi dan sarapan Wina berangkat ke tempat wisuda bersama Zain. Begitu sampai Wina langsung berkumpul bersama teman wisudanya. Sedangkan Zain langsung menuju podium. Dia ikut berdiri di samping rektor. Prosesi wisuda telah selesai. Wina dan Zain begitu juga kedua orang tuanya berfoto bersama.
"Selamat sayang, semua cita citamu telah tercapai, program doktoralmu plus suami" ucap Ayah Wina.
"Makasih Pa, ternyata selain dapat beasiswa, Wina dapat jodoh juga disini" sahut Wina kemudian memeluk suaminya.
"Selamat sayang, sekarang apa kamu ingin praktek di RS bersamaku?" tanya Zain.
"Entahlah Oppa, akan kupikirkan nanti saat ini aku hanya bahagia bisa menyelesaikan semuanya" jawab Wina.
"Bagaimana kalau kita makan bersama, tadi Papa dan Mama sudah mereservasi tempatnya" ajak Zain.
__ADS_1
Akhirnya mereka berempat pergi ke restoran yang sudah dipesan oleh Papa Juan. Papa dan Mama Zain memang tidak ikut prosesi wisuda Wina karena urusan pekerjaan yang belum selesai.
Begitu mereka sampai di restoran, Papa Juan sudah menunggu di depan. "Sayang, selamat ya, maaf Papa dan Mama tidak bisa ikut acara wisuda kamu" sesal Papa Juan sambil memeluk menantunya.
"Gak apa Pa, Wina senang Papa bisa hadir saat ini" ucap Wina.
Mereka pun makan bersama. Selesai makan, Mama Mirna bertanya, "Zain, gimana kalau resepsi pernikahan kamu diadakan seminggu lagi. Wina sudah selesai wisuda, dan Mama Mela juga sudah membaik."
Zain pun menoleh ke arah Wina, Wina pun mengangguk tanda menyetujui usulan Mama Mirna, "Baiklah Ma, Mama saja yang atur acaranya," ucap Zain.
Mama Mirna pun mulai menghubungi WO untuk mengurus semuanya. Mereka sepakat mengadakan resepsi di hotel milik Papa Juan. Lalu Mama Mirna menghubungi butik langganannya untuk memilih baju yang akan dipakai Wina.
"Sayang kamu sekarang datang ke butik yang alamatnya sudah Mama kirim ya ajak Zain juga" perintah Mama Mirna.
"Iya Ma," jawab Wina.
Wina pun menelepon suaminya, " Oppa, Mama menyuruh kita datang ke butik untuk fitting baju."
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, barulah Zain datang ke butik, "Maaf sayang, lama menunggu, tadi operasinya selesai lebih lama dari jadwal" sesal Zain.
"Tak apa Oppa, aku paham kok, ini baju yang akan aku pakai, ini pilihan Mama loh" seru Wina.
"Sayang, mengapa terlihat punggungnya, apa tidak ada yang tertutup semua" oceh Zain.
"Ini sudah yang paling tertutup dari semua pilihan Mama, Oppa" sahut Wina.
"Ya sudah, daripada Mama marah nanti kalau diganti pilihan bajunya" ucap Zain lesu.
Hari yang dinanti telah tiba, sedari pagi Wina sudah dirias begitu cantik oleh perias pilihan Mama Mirna. Zain juga terlihat sangat tampan dengan jas hitamnya. Zain pun menghampiri kamar tempat Wina dirias. Meski dulu saat akad nikah Wina juga di rias namun hari ini Wina tampak berbeda.
"Sayang, kamu cantik banget, rasanya aku pengen bawa kamu ke kamar aja" goda Zain sambil mencium tangan Wina.
__ADS_1
Mendengar pujian dari suaminya, wajah Wina merona kemerah merahan. "Apa sih Oppa, ayo kita turun, nanti kita terlambat" ajak Wina.
Mereka pun masuk ke Ballroom hotel. Kita bayangkan seperti ini ya gaes.
Begitu sampai di pelaminan Zain khawatir melihat wajah istrinya yang tiba tiba pucat.
"Sayang, kamu gak apa? Mukamu pucat," tanya Zain cemas.
"Gak apa Oppa, cuma agak pusing aja" jawab Wina sambil memegangi kepalanya.
"Ya sudah kamu duduk aja," perintah Zain.
Para tamu yang berdatangan, satu per satu naik ke pelaminan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Mulai dari teman dosen, rekan dokter, juga para Rektor tempat Zain mengajar. Tak ketinggalan teman Wina satu kampus. Yang paling ditunggu Wina adalah kehadiran Dewi sahabatnya, Wina sengaja menyediakan tiket pulang pergi untuk Dewi dan kekasihnya.
Seusai bersalam salaman. Acara selanjutnya adalah lempar bunga. Begitu bunga dilempar, ternyata yang menangkap adalah Dewi, sahabat Wina yang baru tiba. Dewi pun langsung berteriak, "Wina sayang, aku kangen banget ama kamu."
Suara Dewi yang menggelegar, menarik perhatian hampir seluruh para tamu. Mendengar suara sahabatnya, Wina langsung berlari turun dari pelaminan. "Dewiiii, gue juga kangen banget ama loe," seru Wina sambil memeluk Dewi berputar putar. Zain yang melihat kelakuan istrinya hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala. Mereka berdua berpelukan dan bercengkerama melepas rindu.
Di akhir acara, yaitu dansa bersama mengikuti alunan lagu. Zain pun menjemput istrinya dari tempat duduknya bersama Dewi.
"Bolehkah hamba berdansa dengan Tuan Puteri yang cantik ini" rayu Zain pada istrinya.
"Dengan senang hati Pangeran," sahut Wina sambil membungkukkan badannya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Di tengah tengah dansa, Zain melihat istrinya berkeringat, "Sayang apakah kamu merasa kepanasan sampai keringetan begitu, wajahmu juga pucat, apakah masih pusing?" tanya Zain.
"Entahlah Oppa, kepalaku rasanya......"
Belum selesai Wina menjawab pertanyaan Zain, dia sudah pingsan duluan. Untungnya Zain menahan tubuhnya, jadi tidak sampai jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?"