AKU DILAHIRKAN UNTUK SIAPA

AKU DILAHIRKAN UNTUK SIAPA
32


__ADS_3

Hati pak Dinata tidak bisa di Bohongi,air mata nya lagi dan lagi mengkhianati nya.dia harus melihat dengan mata nya sendiri kepergian putri nya.


"Ayah tidak akan menangis sayang jadi kalau putri cantik ayah ini ingin pergi maka ayah sudah ikhlas, pergi lah nak dengan hati yang damai."jawab pak Dinata


Hendra hanya bisa menjadi saksi bisu karena dirinya seperti tidak di anggap kehadiran nya oleh sang istri, mungkin ini adalah hukuman untuk nya.


"Asyhaduallah ilaha illalah Wa asyhaduanna Muhammadar Rasulullah."bisik pak Dinata di telinga putri nya agar jalan putri nya menuju surga nya Allah di permudahkan


Syifa mengikuti bimbingan dari sang ayah hingga menghembuskan nafas terakhirnya.tampak terlihat jelas senyum indah yang menghiasi wajah yang sudah tidak di aliri darah itu, seolah rasa sakit itu kini sudah sirna.


Bayi kecil yang dari tadi diam itu pun tiba-tiba menangis kencang, mungkin dia tau kalau kini bunda nya sudah tidak ada lagi.


Hendra terjatuh di samping box bayi yang tak di inginkan nya itu,mata nya tidak bisa di Bohongi. semua kenangan bersama sang istri kini berputar di otak nya.mau menyesal pun tidak ada guna nya lagi karena kini sang istri sudah meninggalkan nya untuk selamanya.


Sementara Fika sang putri yang baru datang langsung menaik ke tempat tidur dimana bunda kini berada. tangisan nya begitu pilu karena harus kehilangan bunda nya.


hiks hiks hiks


"Bunda bangun jangan tinggalin kakak"ucap nya sambil memeluk tubuh yang sudah kaku itu


Hendra yang mendengar tangisan sang putri pun langsung bangun untuk menenangkan nya,saat dia menoleh ke arah samping nya dia baru sadar kalau bayi yang di bencinya itu kini tengah menatapnya.


....................


Hari ini akan menjadi hari yang paling menyakitkan untuk orang-orang yang di tinggalkan. Sudah tidak ada lagi air mata yang menangisi kepergian Syifa, mereka sudah ikhlas walau jauh di dalam hati mereka masih tidak rela untuk menerima hari ini.


Banyak orang yang datang untuk men doa kan Syifa,karena semasa hidupnya dia selalu berbuat baik kepada orang-orang. Tinggal beberapa saat lagi tubuh wanita yang begitu di cintai oleh pak Dinata akan menghilang dengan gumpalan tanah yang semakin menutupi pusaran tempat peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


"Selamat jalan putri aku tenang lah disisi Allah, kita akan berkumpul lagi di surga nya Allah,ayah janji akan menjaga dan melindungi Bintang."batin pak Dinata sambil menaburkan bunga mawar yang begitu harum


"Ayah mengapa bunda di kubur seperti itu"ucap sang putri yang membuat hati Hendra semakin sakit.


"Karena bunda sudah meninggal nak,bunda sekarang sudah berada di surga bersama kakek dan nenek mu."jawab Hendra sambil memeluk Fika erat


Setelah memberikan pengertian pada putri nya akhirnya kini giliran nya untuk menaburkan bunga karena dari tadi mertua nya tidak ingin dekat dengan nya.


"Sayang pasti kamu sekarang sudah bahagia kan bisa meninggalkan aku di sini,aku tau kau pasti sudah memaafkan aku kan."batin nya sambil menaburkan bunga


"Kau tau kan kalau aku sangat mencintaimu,tapi mengapa saat terakhir mu kau tidak mau melihat aku.hati aku sakit sayang tapi tidak apa-apa, bahagia selalu Disana sayang dan maafkan aku kalau aku masih tidak bisa menerima anak itu.ini lah mengapa aku tidak menginginkan kehadiran nya karena aku takut kau pergi saat melahirkan nya ke dunia ini.tapi kau tidak mau mendengar perkataan aku,"ucap Hendra panjang lebar seolah dia menghapus ingatan nya tentang kesakitan yang diberikan pada sang istri.


Sore sudah menjelang dan Kini sudah tidak ada lagi yang tinggal di makam yang masih basah itu,.awan pun sudah mendung pertada hujan akan turun..


...........


Satu Minggu kemudian bayi kecil yang baru di tinggalkan oleh bunda nya itu sudah bisa di bawa pulang,jangan kalian pikir kalau yang akan menjemput nya adalah sang ayah,kalau itu yang kalian pikirkan maka kalian salah besar karena bayi yang cantik itu hanya di jemput oleh kakek nya.


"Kita akan pulang kerum putri aku dulu"Jawab tuan Dinata yang masih memandangi wajah polos itu


"Tapi sepertinya pak Hendra tidak akan menerima kehadiran nona Bintang tuan"ucap Martin yang memang sudah tau kalau sahabat nya itu tidak menginginkan anak keduanya itu


"Aku kesana bukan untuk memberikan cucuku kepada nya,tapi aku hanya ingin memastikan apa dia benar-benar tidak menginginkan darah daging nya ini."kata tuan Dinata


Hening


Sudah tidak ada lagi pembicaraan mereka hingga tak terasa sudah sampai,

__ADS_1


Tuan Dinata turun sambil menggendong sang cucu tanpa minta bantuan dari pengasuh cucu nya.tuan Dinata bisa melihat dengan jelas bagaimana kehidupan cucu dan menantu nya itu setelah kepergian sang putri.


Cucu nya Fika terlihat sedikit lebih kurus mungkin karena dia masih merindukan bunda nya, sedangkan Hendra tampak biasa saja terlihat dari wajah nya yang biasa saja.


"Kakek Fika Sangat merindukan kakek"ucap sang cucu


"Kakek juga merindukan mu nak"jawab pak Dinata sambil menatap penuh kesedihan pada cucu-cucu nya


"Kakek apa ini adik aku"tanya nya dengan menoel pipi merah itu


"Iyah nak ini adik kamu,nama nya Bintang."jawab pak Dinata sambil memaksakan senyum


Hendra yang melihat mertua nya yang sedang menggendong seorang bayi itu hanya bisa diam saja.karena dia tidak ingin melihat nya .


"Ada yang ingin ayah bicarakan dengan mu."ucap pak Dinata


"Ada apa?"tanya Hendra santainya


"Apa kau benar-benar tidak mau merawat anak mu ini"ucap pak Dinata sambil menatap penuh kebencian pada menantu nya itu


"Mungkin ayah sudah jelas tau apa jawaban nya,kalau aku tidak akan pernah menerima kehadiran anak siala* itu"jawab Hendra dengan sedikit meninggikan suaranya


"Baiklah kalau itu yang kau mau,tapi ingat ini jangan pernah kau menyesal akan apa yang kau katakan ini.dan satu lagi jangan pernah kau mencuci otak cucu aku agar membenci adik nya ini, karena kalau itu terjadi kau akan tau akibat nya."kata pak Dinata dengan sungguh-sungguh


"Aku bahkan menginginkan bayi siala" itu mati juga, karena tidak adil bukan kalau hanya istri aku saja yang meninggal."jawab Hendra yang semakin memancing amarah pak Dinata


plak

__ADS_1


Satu tamparan keras mendarat di pipi Hendra,ayah mana yang tega mengucapkan hal seperti itu.


"Itu pantas kau dapatkan"kata pak Dinata sambil meninggalkan rumah sang menantu


__ADS_2