
Tepat pukul 20:00 wib, Papa Dylla pulang, pada waktu melihat aku bersama Dylla ia pun sempat bertanya siapa diri ku, Cathrin mengatakan kepada Papanya, bahwasanya aku ini adalah temannya, jadi kali ini aku masih aman untuk sementara waktu, sedangkan paman Cathrin mengawasi dari jarak jauh. " Lady.., Cathrin senang bertemu dengan mu!"
"A..aku juga senang bertemu dengan mu."
Aku duduk di kursi taman, kebetulan acara saat itu diadakan diluar ruangan. Usia Cathrin saat itu empat belas tahun, ia harus bertunangan di usia yang sangat muda, aku pernah dengar dari Cathrin bahwa usia Dylla saat di jodohkan adalah lima belas tahun, tapi itu dua tahun yang lalu saat usia Cathrin masih berusia dua belas tahun.
Tamu mulai berdatangan, tentunya tamu yang datang adalah tamu keluarga dan tamu calon tunangan Cathrin yang jauh-jauh datang dari Inggris.
Acara berjalan dengan hikmat, tinggal acara puncak yaitu pemasangan cincin. Pada saat akan pemasangan cincin, tiba-tiba udara menjadi sangat dingin dari sebelumnya, gumpalan asap tiba-tiba juga muncul membuat semua orang bingung apa yang terjadi, hembusan angin begitu kencang menerpa semua tamu undangan, semua tamu berlarian masuk kedalam karena udaranya tidak mendukung. Bersamaan demikian sesuatu terjadi pada diriku, pandanganku mulai buram, sekujur tubuhku dingin menggigil, sekilas aku melihat Dylla muncul dihadapanku yang tak terlihat oleh mereka sedang berdiri disampingnya Cathrin, Dylla kemudian menuju ke arahku. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi, aku seperti terkunci, seluruh tubuh ku bergerak sendiri namun aku dalam keadaan sadar dan ternyata Dylla masuk ke tubuh ku dan menguasai tubuhku.
" Haha, haha" Dyilla tertawa mengendalikan tubuhku.
__ADS_1
" Riska?, kau kenapa?" tanya Cathrin kebingungan.
" Aku bukan Riska, Chatrin kau pasti mengenalnya " ujar Dylla.
" Hmp...!" Cathrin menutup mulutnya.
" K... kakak?"Cathrin menyadari bahwa tubuhku kemasukan kakaknya.
" Kakak?, Cathrin siapa yang kamu panggil kakak?" tanya papa.
" Apa maksudmu?"
__ADS_1
" Apakah Papa tidak tahu betapa tersiksanya aku, dan Papa ingin Cathrin melakukan hal yang sama?"
" D.. Dylla!, apa itu kamu?, Ibu merindukan mu!" ibu Cathrin baru menyadari bahwa dalam tubuh ku itu anaknya. Dengan sigap Madam Greta lari memeluk tubuh ku, seraya menangis. Kemudian Dylla menceritakan semua yang dialami semasa hidupnya.
Mata Dylla tertuju pada Papanya, Dylla mengangkat tanganku yang rada mencekik jarak jauh dan itu terarah pada Papanya. Papa Dylla, Mr.Erick, ya aku masih mengingat nama mereka. Mr. Erick terangkat tubuhnya seraya memegang lehernya sendiri.
" Help me!, help me!!" teriak Mr. Erick yang ketakutan dan tidak dihiraukan oleh Dylla.
" Hei kalian!, Harry up or die?"
Mereka dengan ketakutan langsung lari dan menjauh dari kami semua, angin bertiup semakin kencang memporak-porandakan tempat acara, sedangkan Mr. Erick terus terangkat ke atas. Sekian lamanya, Mr. Erick hampir kehabisan nafas, dengan cepat paman Dylla keluar dan menuju ke arah kami. " Hentikan Dylla..!" tegas Paman Dylla.
__ADS_1
Dylla membuat tubuhku menoleh dan menatap tajam namun papanya tetap dalam keadaan terangkat juga.
" Untuk apa Paman menghentikan aku?, bukankah nyawa dibayar dengan nyawa?" ucapnya. " Kamu memang benar Dylla!, tapi tetap saja kamu salah, karna kamu melakukan itu semua dengan tubuh gadis ini, ia akan ditangkap dan dipenjarakan seumur hidup hanya perbuatan mu ia terbukti membunuh sekalipun bukan dengan kendalinya" jelas Paman Dylla.