
Pikiranku penuh dengan tanda tanya, aku masih melihat-lihat barang yang ada di dalam gudang itu dan aku menemukan sebuah foto keluarga. Lalu aku aku angkat dan membersihkan debu yang melekat di lembaran foto itu. Sangat jelas terlihat di dalam bingkai tersebut ada aku, mama, papa dan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 8 tahun.
Siapa anak ini?, kenapa ia berada di dalam foto keluargaku?, atau mungkin dia sekedar teman kecilku?, tapi ... tidak mungkin di foto keluargaku, batinku.
Aku semakin bingung jadinya, lalu aku membalikkan lembaran foto itu dan menemukan beberapa tulisan nama kami di belakangnya. Diram Arya (papa), Junamiska (mama), Arian Nafis Ramanda (Abang), Riska Arian (adek). Aku sangat terkejut setelah aku tahu nama Arian Nafis Ramanda berada dalam keluargaku. Aku memeriksa isi kotak dan ternyata ada selembaran foto lagi yang terselip di dalamnya, aku mengambil dan membersihkan debu yang melekat di foto tersebut, akhirnya foto itu terlihat dengan jelas mama, papa, tante Mira serta dua anak kecil yang tidak lain aku dan anak laki-laki yang ada di foto keluargaku dia adalah Arian. Baru saja aku ingin menutup kotak tersebut, tiba-tiba aku melihat ada sebuah buku di dalamnya, aku mengambilnya ternyata itu adalah buku Diary. Dengan sangat penasaran aku mencoba membukanya dan tertera di lembaran pertama nama Arian Nafis Ramanda.
Dear ...
" Tanggal 2 February 2011, aku senang karena mempunyai adik yang gemes dan suka menolongku waktu aku naik sepeda dan terjatuh tadi siang, Riska adikku ...."
Dear ...
" Tanggal 17 February 2011, Riska menangis karena aku Abang yang tidak becus, tapi waktu aku dimarahi dia yang membela aku, adikku tersayang ...."
Dear ...
" Tanggal 21 Juni 2021, Tante Mira menikah dengan om Dono sepupu papa."
Dear ...
" Tanggal 9 September 2012, hari paling suram bagiku. Hari pas ulang tahunku, aku hampir saja tertabrak mobil tapi om Dodi justru yang menyelamatkanku, tapi sayang om Dodi justru tidak tertolong dia meninggal dunia karena menyelamatkanku. Tante Mira marah dan membenci aku."
Dear ...
"Tanggal 10 Oktober 2012, kami sekeluarga mau liburan tapi kecelakaan itu memisahkan kami, mama, papa,dan Riska meninggalkan di rumah sakit, tinggal aku sebatang kara lalu aku diasuh oleh Tante Nina. Selamat tinggal buku diary, selamat tinggal rumah yang penuh dengan kenangan."
Tidak terasa setelah aku membaca diary Andrian air mataku berlinang membasahi pipiku. Ayu pun muncul dan menjelaskan siapa sebenarnya Arian dan Tante Mira. Ternyata selama ini Tante Mira yang telah membuat kami sekeluarga lupa pada Arian, sedangkan Ayu menyuruhku untuk merahasiakan semua ini sampai nanti tiba waktunya.
...----------------...
Hari ini aku pagi-pagi sekali berangkat ke sekolah, sesampainya di sana aku mendapati Arian sudah bersama pacarnya disalah satu bangku koridor sekolah. Hari ini kebetulan guru menyuruh kami membawakan foto keluarga masingmasing. Setibanya di sekolah aku lupa dan salah mengambil foto, aku mengambil foto keluarga yang aku temukan di gudang kemarin.
" Aduh ... gimana, nih?" Foto itu tiba-tiba jatuh tepat di depan Arian. Arian mengambil foto itu lalu menatapnya dengan seksama, ia tidak memberikan kembali foto itu karena terus menatapnya yang kemudian melihat ke arahku, tiba-tiba dia membalikkan foto itu.
" Ini foto keluarga mu?" Aku mengangguk kepala.
__ADS_1
" Dan ... anak laki-laki ini siapanya kamu?" Aku terbelalak melihatnya, bibirku gemetaran tidak sanggup untuk berucap.
" A-aku nggak tahu, kayaknya aku salah bawa foto tadinya aku mengambil di gudang," Tanganku dengan sigap menarik foto yang ada di tangan Arian, namun dengan reflek dia menarik kembali.
" Kenapa, yank?" Aprili melihat ke lembaran foto itu.
" Ini bukannya foto keluargamu, yank?, ini kan kamu waktu kecil, cute deh," ujar Aprili.
Arian terus menatapku seolah-olah ia ingin memiliki foto tersebut dan tidak ingin mengembalikannya padaku.
" Sepertinya keluarga kita mirip deh!" ucap Arian sambil menyodorkan tangannya mengembalikan foto itu, aku dengan pelan-pelan mengambil foto tersebut sambil menatap mata Arian. Lalu Arian pergi di ikuti Aprili dari belakangnya dan pada saat itu pula aku melihat Aldi penjaga Arian menatapku, dia tidak mengikuti Arian melainkan mengikuti aku.
" Kenapa kamu ngikutin aku?" tanyaku yang melihat dia berada di belakangku.
" Kamu di jaga Ayu, kan?."
" Iya," Ayu tiba-tiba saja muncul.
" Al, aku sudah menjalani tugas itu ... kurasa kau belum," ujar Ayu.
" Memang Iya, sepertinya belum waktunya ...," ucap Aldi.
Aku hanya terdiam sambil menatap foto itu." Ayu yang melihat menukarkan foto keluargaku yang tidak ada Arian di dalamnya. " Nih, kamu lupa, kan?."
...----------------...
Aku duduk di kantin bersama Azka, ia melihat wajahku kusut tidak memiliki semangat hidup. Pada saat itu kantin sedang sepi karena belum jam istirahat, sedangkan kami lagi jam kosong.
" Azka, aku punya banyak masalah hidup, nih ...," ujarku.
" Emm, coba aku tebak, nih masalah Ihsan?."
" Bukan," Azka terus bertanya. " Terus apa ...?"
" Setan, dan masa lalu keluargaku," ujarku.
__ADS_1
" Kalau begitu kamu boleh kok curhat sama aku," ujar Azka.
Aku menyeruput es teh, lalu teringat pasal Sultan menembak aku di kelas. Dan kebetulan Sultan datang dan langsung duduk di meja kami.
" Gimana?, kamu belum kasih jawaban lho ...!" Sultan yang datang langsung meminta kepastian dariku.
Tanpa pikir panjang aku langsung saja menerima Sultan sebagai pacarku.
Aku sudah dua kali disakiti, apakah Sultan akan menyakitiku nanti?, batinku.
" Azka, Riska!" Panggilan Mauliza pada waktu jam pulang sekolah.
" Za, kamu kenapa?" Aku melihat muka Mauliza kelihatan sedikit marah.
" Nanda selingkuh?."
" Bukan."
" Terus apa?" tanyaku penasaran.
Mauliza mengatakan kalau Nanda adalah ketua geng motor serta teman-temannya Nanda termasuk juga pacarnya Azka sebagian dari anggota gengnya. Anggota yang lain ada di sekolah sebelah, mereka itu geng motor liar.
" Seharusnya dia bilang dari dulu kalau dia itu anak geng motor. Mungkin aku tidak akan mau pacaran sama dia," jelas Mauliza menyesal.
" J- jadi Rama termasuk juga?" Mauliza mengangguk kepala.
Sekarang aku tahu alasan teman-teman Nanda pindah ke SMA kota Juang, mereka ingin satu sekolah dengan ketuanya. Tidak terasa kami sudah lama berbicara hingga papa datang menjemput.
Di dalam mobil, entah kenapa mulutku bergerak begitu untuk bertanya pada papa tentang foto itu.
" Pa ...."
" Iya ...."
" Aku punya abang, nggak?" Pertanyaanku membuat papa ketawa.
__ADS_1
" Riska ... kamu jangan ngaco deh!, kamu anak satu-satunya Papa dan mama.
" Oh, Riska cuma nanya lho Pa, Nggak usah di ketawain juga," Jelas sepertinya papa belum ingat lagi kalau papa mempunyai anak laki-laki.