
“Mata batinmu udah mulai bisa di kendalikan gak, Ris?"
Ayu sibuk menetralkan bayangan hitam dalam mata batinku. “lumayan, yu.." ujarku
“Kayaknya banyak deh yang mau minta bantuan kamu, kenapa ga mau?"
“Ayu..,kamu lupa? aku kan lagi terpuruk.."
“Ah iya..lupa!, em..Renza dan Renzo bentar lagi datang kesini katanya" aku terbelalak sempurna. “serius?" Ayu mengangguk pelan membenarkan “yes!, bisa nih gangguin mereka"
Ayu menatapku lekat. “kamu gitu cuma buat nyembunyiin kesedihanmu, kan!" Pertanyaan ayu berhasil membuat ku merasa hidup ini benar-benar gak adil. bukan sedikit Masalah yang aku lewati, hanya saja aku butuh orang yg mengerti akan perasaanku.
...----------------...
Sebulan berlalu, setiap pagi kini aku diantar oleh papa dan setiap hari juga putri berulah. Arian kadang-kadang terpaksa harus menuruti keinginan putri seperti menemani belanja dan lain-lain akibat papa mengancamnya akan meninggalkan mama
Hingga kini, tepat jam istirahat kedua aku berjalan di koridor lalu bertemu putri yang menghadang ku.
“Wah-wah, ris Lo mau kemana?" Tanya putri tersenyum sinis
“Terserah gue mau kemana" ketus ku.
“Lo tau gak?, tadi pagi pas Lo langsung turun dari mobil dan masuk ke sekolah..papa bilang, papa udah males buat nganter jemput kamu yang terus bilang pengen ke rumah sakit jenguk teman tiap pulang sekolah
__ADS_1
“Terus?" Tanyaku seraya menyembunyikan rasa sakit hatiku
“Bang Ari bakalan terus sama gue dan gue bakalan bikin lo di benci sama Abang..mama Lo juga bakalan di ceraikan karena mama gue yang bakalan jadi istri tunggal papa" Ucapan putri membuatku semakin geram namun sengaja ku tahan, mendadak putri memukulku dan mendorongku membuat ku menangis kesakitan karena terkena ujung pintu yang tajam hingga berdarah “lo dan mama Lo gak berhak ada di keluarga gue" ucapnya semringah, putri mendorong ku ke arah gudang yang berada tepat di sebelah kami lalu ia mengunciku. berkali-kali aku mendorong pintu tapi hasilnya nihil, hingga ayu datang dan mendorong pintu dengan sekali dorongan.
Saat itu rasa sesak memenuhi tubuh ku. putri benar-benar keterlaluan, ia sedang merebut segalanya dariku. Aku segera ke luar dan mencari putri saat itu juga.
“Putri!" Teriakku melihat ia sedang santai. Aku segera mendorongnya hingga jatuh, di saat itu juga sultan datang dan melihat aku mendorong putri dengan segera berpura-pura bahwa kakinya sakit akibat dorongan ku.
“Brengsek Lo, putri!" Ucapku lalu segara berlari dari sana untuk mencari Arian. “Aduh.. yang...kaki ku sakit nih.." ujar putri.
“Jangan lari Lo, Riska!"
Tanpa mempedulikan, aku segera menjauh dan akhirnya menemukan Arian di koridor pintu masuk sedang duduk santai bersama Aprili, Azka juga Mauliza yang sudah mulai masuk sekolah serta banyak siswa lainnya bersenda gurau disana. Semua orang terkejut ketika melihatku tiba-tiba memeluk Arian sambil menangis. “Bang..,putri bilang, papa udah ga mau antar jemput aku lagi..ceraikan mama, dan rebut Abang dari aku..dia juga mengunci aku di gudang setelah memukul aku, untung aja ada ayu.." Isakku di pelukan Arian yang hanya di dengar oleh nya. Rahang Arian seketika mengeras, disaat itu juga sultan sampai ke tempat kami dengan membopong putri yang langsung diturunkan ketika melihat Arian.
“gue pikir Lo setia sama kak Aprili, bang Arian..,rupanya Lo di hasut sama cewek itu, kan?, ngeliat kak Aprili yang pasrah gitu...gue jadi kasian" ujar sultan tersenyum semringah, namun tak di gubris Arian, ia menatap tajam putri.
“Riska yang buat aku gini, bang..,Sultan langsung yang tadi saksi!" Protes putri. ”Riska?" Arian menatapku
“Bang..,aku emang dorong putri..tapi itu ketika habis keluar dari dari gudang..,Sultan cuma liat itu.." jelasku.
“Hei Arian!, jadi Lo sama Riska..,gue kecewa tau ini semua, kasian Aprili yan!" Ucap salah seorang teman Arian
“Jangan ikut campur urusan gue!, kesal Arian. “Sekali lagi gue tanya, putri..kamu apain Adik gue!, lo pikir gue percaya sama omongan lo?!" Putri seketika bungkam. Arian melangkah maju mendekati putri lalu mendaratkan tamparan mulus di pipi putri
__ADS_1
“Plak?"
“lo benar-benar lewat batas, putri gue bisa aja ngusir Lo sama mama Lo pergi dari rumah gue..,berani ngusik adek gue lagi..gue gak akan segan, terserah Lo pengen ngambil siapa dari kami karena kami udah gak peduli lagi laki-laki yang udah buat mama kami merasa hancur!" Arian semakin menatap tajam mata putri yang memegang pipinya yang terasa kebas.
“jangan sakiti dia!" Sultan menarik putri mendekat padanya.
“Lo siapa yang ikut campur urusan gue?!"
“Gue pacar Putri, gue yang bakal ngelindungin putri!" Ucap sultan lantang.
“Yakin?" Arian tersenyum sinis. Hampir satu sekolah tau kalau Arian memiliki kemampuan khusus sehingga ramai yang takut berurusan dengan Arian
Mauliza dan Azka mendekatiku dan melihat luka di tangan ku. “Riska kamu gak apa-apa?, tanganmu berdarah lho, Ris.." ujar Azka khawatir.
“Aku gak apa-apa, kok..cuma perih aja nih luka.." Aku memegangi lengan yang luka. “kita ke UKS, ya?" Tawar Mauliza.
“Gue mau nunggu Abang gue.." lirihku. Aprili menghela nafas kasar, ia maju mendekati Arian yang penuh emosi. “Ari..,kamu sebaiknya gak usah terlalu lama ngurusin dia..liat adikmu..dia terluka, lho.." ujar Aprili pada Arian. Arian melirik ke arahku lalu tangannya tiba-tiba menumbuk sultan. “ini balasan yang Lo dapat ketika Lo tantangan gue" ucap Arian lalu berbalik menuju ke arahku bersama Aprili.
“Dek, kasih Abang liat tanganmu" ucap Arian lalu aku menunjukkan tanganku, semua orang memandangi kami semua.
“Lo semua gak usah natap kami kayak gitu!, Riska bukan pacar gue atau pun selingkuhan gue, dia cuma adek gue, adik kandung." Ucapan Arian berhasil membuat semua orang terkejut.
"Arian!, Kenapa kamu tampar putri?!,terus mengancam buat ngusir dia dan Vivi mereka itu adik dan mamamu, Ari!"
__ADS_1
Papa sekarang penuh dengan emosi, “Papa mau ikut sama mereka?, silahkan. Ari dan Riska gak bakal larang" ucap Arian lalu segera menaiki anak tangga.
“kalau gitu, Papa bakalan bawa mereka pergi dari rumah ini ke rumah mewah lain, lebih mewah dari pada rumah ini, dan jangan harap papa biayakan sekolah kalian dan hidup kalian" mendengar itu Arian menghentikan langkahnya dan menoleh “Gak Masalah" ucap Arian dan kembali menaiki tangga. Aku hanya melihat semua itu dari lantai dua. “kayaknya bakalan berakhir", gumamku dengan mata yang berkaca-kaca.