
Pagi terasa sangat cerah, seperti biasa setiap hari Senin pagi diadakan upacara bendera, secara kebetulan saat itu aku memakai atribut lengkap ditambah lagi dengan kedatanganku pagi ini begitu cepat.
" Riska, tumben cepat hari ini?" ujar Mauliza pada ketika bertemu di koridor sekolah.
" Ha-ha, biasa aja, lho! mana Nanda?" tanyaku. Sekarang Nanda dan Mauliza sudah mulai akur lagi, bukan tanpa alasan Mauliza membuat perjanjian pada Nanda agar tidak melakukan hal-hal aneh tanpa izin dari Mauliza. Setelah kami habis dari kamar mandi, kami ngobrol sebentar di kursi yang di pajang di depan kamar mandi. Lagi asyik ngobrol-ngobrol tiba-tiba ada suara yang memanggilku, membuatku langsung merinding sendiri.
" Kamu kenapa?" tanya Mauliza. " Kita pindah duduk yuk," Kami pun beranjak pindah ke tempat duduk yang lain. Ternyata di tempat yang lain juga sama, ada gangguan roh-roh orang yang sudah mati. Tapi kali ini aku tidak merasa merinding karna Ayu tiba-tiba muncul mendampingiku.
Bell sekolah pun berbunyi, semua siswa berkumpul di lapangan sekolah, upacara hari ini akan segera di mulai. Semua OSIS memeriksa atribut setiap siswa, dan siswa yang kedapatan tidak memakai atribut lengkap akan di berdirikan bersama siswa yang terlambat, Kiram memeriksa aku. " Lengkap kok, Bang," ujarku. Lalu Kiram pergi memeriksa siswa yang lain. Terlihat Sultan saat itu tidak memakai topi, jadi ia di denda dengan siswa yang terlambat.
Seusai upacara kami diizinkan beberapa menit untuk ke kantin, aku merasa kasian pada Sultan yang di denda hormat di tiang bendera sampai jam istirahat, aku memutuskan untuk membawakan Sultan air mineral.
" Nih, hemat ya ... sampai jam istirahat," ujarku menyodorkan botol air mineral yang membuat ia menyerngitkan keningnya. " Jadi, nanti jam istirahat kamu nggak bakalan kesini lagi, ya?" Dia masih berharap aku menyemangati lagi dia. " Oo, nggak, maaf aku harus pergi, bentar lagi aku mau masuk kelas," Aku berbalik badan meninggalkan Sultan di lapangan. " Pacar lu, bro?" tanya siswa di samping Sultan. " Iya, gimana cantikkan?."
Aku melewati koridor sekolah menuju kelas, tiba-tiba Aprili menghentikan aku. " Kenapa Kak?" tanyaku bingung. " Sini ponselmu, Arian minta, bentar lagi akan ada razia hp jam sepuluh kurang dua menit. kalau nggak mau hpmu di sita sih!" bisik Aprili. " Beneran?, ngak lagi bercanda, kan?" Aprili mengangguk kepala, dari sorotan matanya sudah terlihat kalau dia serius. Aku memberikan ponselku pada Aprili kemudian aku masuk ke kelas. Sebelum pergi Aprili mengingatkanku lagi kalau parfum, lipstik, makeup dan sejenisnya untuk di sembunyikan.
__ADS_1
Begitu aku masuk kedalam kelas ternyata Azka sudah berdiri di depan mejaku. " Aku, aku mau bilang sesuatu," bisikku. " Apa?" tanya Azka serius. " Bentar lagi bakalan ada razia, kalau mau barangmu selamat ada baiknya cepetan di sembunyikan."
" Beneran?, kapan?" Aku memberi tahu kapan waktunya dan Azka pun bergegas menyembunyikan ponselnya juga parfum miliknya di tempat yang aman.
" Huuuh ..., selesai semoga aman," ucap Azka. " Ris, yang lain kita bilangin nggak, ya?" ujarnya lagi. " Gak usah!, biarin aja mereka," tegasku.
" Ha-ha, sinis banget kamu Ris. biasanya kamu tu baik banget," ujar Azka.
Tepat jam 09.38 OSIS masuk ke semua ruang kelas merazia barang yang di larang bawa ke sekolah semua sudut di periksa. Bagi yang kedapatan semuanya disita kecuali bagi mereka yang sudah dari awal menyelamatkan barangnya.
...----------------...
" Nih, hpmu ...." Aku mengambil ponselku dari tangan Arian. " Makasih Babang sayang ...," Arian tersenyum sambil tertawa kecil, begitu pula dengan Aprili yang tersenyum manis.
" Oh iya, nanti kalian datang ke rumah, ya!, aku punya rencana biar mama dan papa ingat Abang lagi," Perkataanku membuat Arian terkejut. " Serius, dek?" Aku mengangguk tiba-tiba Arian memelukku.
__ADS_1
" Udah, udah! nanti Kak Aprili cemburu, lho ...," ujarku sambil menatap cewek dengan tanda pengenal Aprili Safina. " Selagi yang dipeluk itu Adiknya, Aku ngak cemburu. Tapi kalau itu cewek lain baru aku marah besar," Perkataan Kak Aprili mengundang kami tertawa.
Tepat jam 14.00 wib kami pulang sekolah, mereka mendatangi rumahku. Aprili dan Bang Arian disambut baik oleh orang tuaku.
" Tante, kenalin ini pacarku, Arian." Lalu Bang Arian menyalami mama dan papa, kali ini semua sudah berkumpul di sofa. " Ma, Pa ..., namanya samakan seperti Abang?, Arian Nafis Ramanda." Mama dan papa terkejut mendengar pertanyaanku. " Benar, Nak nama kamu Arian Nafis Ramanda?" Sekali lagi Mama mengulang nama itu, dan Arian pun menganggukkan kepalanya. " tetapkan beda orangnya ...," gumam Mama.
Tiba-Tiba sekilas ada roh jahat kiriman Tante Mira yang ingin menusuk Mama dengan sesuatu yang telah diguna-gunai membuat Papa berteriak. " Ma, awas!" Arian yang melihat langsung menggenggam tangan yang ingin menusuk Mama dengan gunting santet, dengan sigap Arian menangkap gunting itu.
" Mau kamu ngapain nyokap dan adik gue?" teriak Arian keceplosan pada roh jahat itu. Mama yang mendengar perkataan Arian terkejut. Hingga akhirnya dengan bantuan Aldi roh jahat itu dikembalikan ke pemiliknya yaitu Tante Mira.
Aprili terdiam kaku melihat semua itu, dia tercengang karena Arian bisa membatalkan pengiriman roh jahat itu yang tidak bisa aku lakukan. Sedangkan Mama dan Papa terdiam seraya menatap Arian.
" S-Sorry, dek gara-gara Abang rencananya batal," ujar Arian padaku.
" Jadi, Kamu beneran, Ari?, jawab nak?" ucap Mama dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
" Ma, jangan simpulkan secepat itu, belum tentu dia Ari kita," Papa masih ragu-ragu.
" Maafin Ari, ya ... Ma, Pa. Gara-gara Tante Mira Ari pikir kalian udah nggak ada, Aku beneran Ari anaknya Papa dan Mama," ujar Arian menyakinkan mereka. Papa dan Mama masih terdiam kaku, air mata Mama tidak bisa di bendung lagi seketika membanjiri pipinya. Tiba-tiba Ayu muncul dan meyakinkan Papa dan tidak lama kemudian mereka tersadar dan langsung memeluk Arian. Butuh beberapa menit kami melepaskan kerinduan pada Arian. Arian menceritakan semua kisah hidupnya setelah mengira kami semua sudah meninggal. Kini keluarga kami utuh kembali, Aprili juga direstui sebagai calon menantu di keluarga kami nanti. Aku merasa sangat lega, sekarang tugasku dan Arian hanya satu yaitu membongkar perbuatan Tante Mira yang keji. Terlihat raut wajah Papa dan Mama sangat bahagia mungkin besok mereka akan mendatangi ke rumah Tante Nina untuk bersilaturahmi sekaligus meminta Arian tinggal bersama kami lagi. Berita bahagia ini aku sampaikan juga kepada teman-temanku Azka, Mauliza dan Nanda tetapi untuk sementara ini hubunganku dan Arian akan dirahasiakan di sekolah.