
" Bagaimana kami bisa membantumu?" Tanya aprili.
" Cari wanita yang telah membunuhku, wanita dengan kulit sawo matang, rambut yang terus di urai dengan hiasan bunga seruni di rambutnya, hannya dia yang mengunakan hiasan bunga seruni, dia akan marah bila kalian mengenai kulitnya, dia sedikit berbeda dari wanita lainnya sehingga mudah di kenal," ujar wanita itu.
Wanita itu kemudian menghilang dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun, kami kemudian mencari wanita yang di maksud itu di sekitar pasar malam.
" kejadiannya pasti udah bertahun-tahun, mungkin tiga tahun, soalnya tidak mungkin orang yang pernah liat dia dulu tidak curiga kalau dia udah mati" ujar aprili. "Mungkin aja, tapi kita liat dulu" ucap mauliza
Di tengah keramaian, ada seorang wanita yang mengenakan hiasan bunga seruni, ia tak terlalu cantik, rambutnya terurai, kulitnya juga sawo matang, dan wanita itulah mungkin yang di maksut oleh roh tadi. Mauliza mencoba menyenggolnya dan pura-pura tidak melihat jalan, betapa marah nya wanita itu.
"Menemukan saja belum tentu tugas selesaikan?" Aprili menoleh padaku.
"Sekarang....kita harus apa?" Gumamku seraya melihat Mauliza yang di marahi
Renza dan Rinza muncul tiba-tiba dan mengatakan kalau kami harus mengajak wanita itu ke tempat yang sepi dari manusia. Tak menunggu lama, Aprili langsung mendekati wanita itu " maaf,maafin temanku kak ,dia gak sengaja tadi,"ujar Aprili. Mauliza langsung berlari padaku kemudian menghela nafas kasar membuat ku terkekeh sejenak, sedangkan aprili melanjutkan aksinya
" Maaf-maaf!enak saja cuma bilang maaf! Aku baru saja mandi air bunga, kulitku yang masih bersih ternodai oleh kalian!" Tegas wanita itu
"Kulit pun di pamerin, padahal masih cakepan bule deket rumahku"gumam Mauliza. "Gimana ya kak....,dia ga sengaja...., oh gini aja, gimana kalau kakak ikut kita ke suatu tempat, di sana ada bunga yang paling harum milik kami tersimpan." Mendengar perkataan aprili, wanita itu langsung menyuruh aprili untuk membawanya ke sana, ketika sampai di tempat tujuan roh langsung datang membuat kami segera menjauh dari sana.
"Makasih ya, aku mencoba tidak membunuh para laki-laki lagi," Roh itu melambaikan tangan pada kami semua sebagai makna perpisahan, selanjutnya roh itu pun menghilang. Kami yang berdiri diam mematung hanya bisa melihat kejadian itu dan memutuskan untuk kembali ke rumah mbok Milah. Dirumah Mbok Milah kami sudah di tunggu-tunggu oleh tiga laki-laki yaitu Arian, Vino dan Kiram. Mereka sangatlah cemas menunggu kepulangan kami.
"Kenapa lama banget?, perasaanku tadi sempat tidak enak lho," ujar Arian dengan wajah kekhawatiran.
"Tadi ki--," Aku langsung menyenggol Mauliza yang belum sempat melanjutkan kata-katanya.
"Ngak kok Bang, ngak ada apa-apa kita lama karena keasyikan jalan-jalan," Aku memberi alasan pada Arian. "Oh ...!"
Mbok Milah menghampiri kami, dan menyuruh kami untuk segera tidur karena besok kami melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali kami berpamitan pada mbok Milah untuk perjalanan mendaki puncak, kami terus saja berjalan mengikuti arahnya puncak gunung. Di tengah siang bolong dengan matahari yang sangat panas, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak.
"Mauliza kamu mau ini?," Aku menawarkan Snack kepadanya.
"Mau-Mau!," Tanpa pikir panjang, Mauliza langsung mencomot Snack dari tanganku. Arian mengambil roti dari dalam tasnya, dan membuka kemasan roti miliknya, lalu dia membelah roti tersebut menjadi dua bagian, baru saja roti itu mau diberikan pada Aprili aku langsung meminta roti milik Arian.
"Terus gue makan apa, dong?," celoteh Arian.
"Kan, masih ada di tas!, perasaanku Bang Ari banyak bawa roti dari rumah," ujarku.
"Lo kagak tahu diri banget, ya ...!," Ujar Bino sinis membuatku menatapnya tajam.
"Suka-Suka diriku dong!, kok situ yang sewot...," ujarku kesal.
"Serah Lo deh!," Jawab Vino sambil memasang muka kesal
...----------------...
"Ris, foto yuk!," Ajak Mauliza kegirangan. "Ayok," Aku pun sangat merasa tertarik untuk Selfi. Kami pun sibuk dengan pemotretan sedangkan Arian dan Vino sibuk dengan rute selanjutnya.
"Katanya di depan sana ada dua jalur, jadi kita harus belok kanan biar cepat ," Ujar Vino acuh tak acuh.
"Memangnya kalau ke kiri ada apa?" tanya Arian.
"Katanya jalurnya agak jauh terus gak ada teduhan," Sambung Kiram.
"Ari ...!, Selfi berdua yuk!," Ajak Aprili. "Iya-Iya!," jawab Arian. "Gue kesana bentar ya," Arian langsung beranjak dari Kiram.
Seusai semua itu kami pun kembali melanjutkan pendakian dan tiga hari berlalu dengan cepat hingga puncak sudah mulai terlihat dari kejauhan. Selama itu tidak ada gangguan, namun ketika malam hari sebelum sampai puncak hal mistis kembali terjadi.
__ADS_1
Aku merasa sudah cukup lama tidak melakukan tes mata batin, mungkin sudah saatnya aku mengetes kembali. Belum sempat aku membuka mata batin, kepalaku duluan yang sakit setelah melewati dua tanah yang bentuknya mirip seperti kuburan.
"Aduh ..., Za, kepalaku sakit sekali , panggil Bang Arian bentar," Lirihku pada Mauliza di dalam tenda.
"Iya-Iya bentar ya," Mauliza langsung keluar dari tenda menuju tempat Arian.
Tidak lama kemudian Arian masuk ke dalam tenda, Aku meringis kesakitan di temani Aprili dan Mauliza di sampingku.
"Ris, gimana nih!, kalau gak segera sembuh besok kita tidak bisa melanjutkan perjalanan. Masa harus nunggu lagi , kamu bisa atur ngak?," Aprili hanya bisa menatap Arian dan memberi aba-aba untuk mengatur dan mengecek tes batin. Arian pun memulai aksinya, Mauliza yang melihat kebingungan dengan apa yang terjadi, Arian kemudian menyuruh Kiram untuk mengambil botol air mineral di dalam tasnya yang memang khusus dibawa kalau sewaktu-waktu kepalaku mendadak sakit atau bisa di bilang itu air obat.
Pagi hari aku sudah merasa baikan, dan kami pun memutuskan untuk berjalan mendaki puncak gunung yang sudah terasa hawa dinginnya karena tertutup awan dan kabut tebal.
Ketika sampai puncak kami melihat tim Nanda sudah duluan dari kami sampai, mereka lagi beristirahat sambil ngobrol-ngobrol. Mauliza yang melihatnya langsung saja berlari ke tempat Nanda membuat Nanda terkejut jadinya.
"Wah-Wah ..., ternyata tim kita juara dua nih!," Ujar Vino merasa lega.
"Kalian gabung sini," Ajak Fanesha, salah satu anggota OSIS.
"Iya, kita gabung kok," Jawab Aprili dengan ramahnya.
"Eh, tahu gak ..., SMA jaya bangsa mendaki kesini juga lho, sepertinya bentar lagi sampai tim pertama mereka barengan dengan tim ketiga punya kita, mungkin," ujar Fanesha.
Baru saja Fanesha mengatakan demikian, tim ketiga SMA kota Juang pun sudah sampai yang di dalamnya termasuk Sultan.
"Oke ..., Ihsan, Sultan ada disini dan kalau ngak salah Rajif di SMA jaya bangsa deh," Batinku.
"Riska!!, kangen tau!," ucap Azka yang langsung menghampiriku dan memeluk.
"Aku ngak dikangenin?" tanya Mauliza. "Kangen ...," Kami pun saling berpelukan.
__ADS_1
Bersambung ...!