Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
52. Arian Tunangan


__ADS_3

Nanda mendekati kami yang sedang duduk-duduk asyik berbincang-bincang di taman, perasaan ku dan Azka berubah tidak suka karena Nanda nyamperin kami.


“Za..." lirihnya Nanda.“Nanda!!" Mauliza segera memeluk erat Nanda, Nanda tak bergeming dan ia pun membalas pelukan Mauliza. “Maafin aku.." ucapnya pada Mauliza.


“Atas apa?" Tanya Mauliza sambil merenggangkan pelukannya. Nanda menatapku dan Azka lalu mendadak ia duduk berlutut membuat kami sangat terkejut jadinya.


“Aku udah gagal, za..!aku gagal jaga kamu sampe kamu bisa koma di rumah sakit, aku malu sama diri aku sendiri, aku juga malu bertemu kalian, karena itu aku gak masuk sekolah selama dua Minggu semenjak Mauliza masuk.." Nanda terlihat bersungguh-sungguh, ia pun perlahan meneteskan air mata


“Bangun, Nanda...!" ujar Mauliza karena merasa kasihan pada Nanda.


“Gak, aku gak akan kemana-mana sebelum kalian maafin aku"


“Nda,kalau kamu mau kita maafin,kamu harus bisa janji bakalan melindungi Mauliza segenap jiwamu, sama kayak melindungi nyawamu sendiri" ujar Azka dan aku yang mengangguk. “Gue janji!, gue bakal melindungi Mauliza!"


“Janji adalah hutang,nda"aku memandangi lekat Nanda


“Gue gak mau kalau pertemanan kita sampe disini saja, Riska, Azka...gue mohon...maafin gue yang udah lalai ini..." ujar Nanda


Aku dan Azka saling memandangi dan kemudian kami mengangguk.


“Ilya, kita udah maafin Lo" ujarku membuat Nanda senang dan Mauliza hanya tersenyum


Di saat seperti itu. Tiba-tiba aku melihat ada setan yang melempar serbuk yang digunakan untuk menyantet mereka, dengan segera aku memanggil ayu dan menarik semua teman-temanku, sedangkan ayu menggunakan perisai pelindung.


“K-kenapa, Ris?" Tanya Mauliza setengah heran yang tiba-tiba menarik tangannya.


“Ada setan yang mau lempar serbuk santet" ujarku Seraya memegang kepalaku untuk mencoba berkomunikasi dengan setan itu lewat tes batin


“Mau apa Lo?" Tanyaku pada setan itu yang melotot padaku.


“Aku tidak ingin liat kalian itu bahagia." Jawab setan itu.


“Apa urusannya denganmu?",“Tidak ada, hanya saja aku gak suka melihatmu yang tak ingin membantuku"


“Bantuan apa yang kau inginkan?"


Setan itu memegangi perutnya “Aku lapar, selama sisa hidupku aku belum makan, tak ada yang ingin membantuku" Desak setan itu.

__ADS_1


“Ini, ambil roti ini dan pergilah."


Akhirnya setan itu pun pergi dari hadapan kami.


...----------------...


Seminggu sudah papa pergi dari rumah, Arian menggelar pesta pertunangan mereka yang tertunda. Semua orang tersenyum bahagia melihat pasangan itu, apalagi ketika cincin di pasangkan, ini juga merupakan hari bahagiaku.


“Selamat ya bang" ucapku pada Arian, “Bentar lagi aku punya Kakak ipar" tambahku. Arian tersenyum bahagia.


“Makasih banyak ya dek.." Arian mengulur senyumannya lagi sambil memeluk aku. “Selamat, ya sayang.." ujar mama kemudian memeluk Arian dan Aprili dan mereka juga membalas pelukan itu.


Seusai acara, aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit mengunjungi Tante Shifa dan Edi yang menjaga kiram, pada ketika baru masuk ke ruangan, betapa terkejutnya ku mendapati kiram yang sedang duduk tersenyum memandangi ku.


Dengan segera aku berlari kecil dan memeluk kiram dengan erat lalu Kiram pun membalas dengan mempererat pelukannya.


“Riska..?" Kiram menatap sendu ke arahku seraya mengelus rambutku.


“Kenapa?, kenapa kamu sampe ngerelain nyawa kamu buat selamatkan aku?, Kiram...kamu ga tau betapa rindunya aku ingin ketemu kamu dengan mata terbuka, ram.." Isakku di pelukannya.


“Aku akan lebih kehilangan kalau yang mengalami ini kamu.., aku yang seharusnya lindungi kamu" ujarnya lembut di telingaku.


Kiram menahan rasa terkejutnya lalu mengelus punggung ku lembut, ia mengecup keningku dengan penuh kasih sayang. “Sayang, kamu bisa cerita semua nya padaku, kamu bisa lampiaskan semuanya sekarang, mungkin dengan menangis kamu akan tenang.., I just for you, honey.."


Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan kiram, Tante Shifa dan Edi hanya memandangi pilu kami, mereka hanya membiarkan kami saling melepas rindu, cukup lama aku mulai merasa lelah menangis aku mengurai pelukan dan duduk di kursi tepat sebelah ranjang kemudian membaringkan kepala di kasur yang kiram tempati, terasa sebuah elusan lembut di kepalaku.


Aku terbangun dari tidurku dan mendapati diriku sedang di rumah sakit tepat di ruang kiram, “good morning baby.." sapa kiram melihatku bangun


“Aku tidur sampe pagi, ya.."


“Tenang aja, aku udah kabari bang Arian kok, bentar siang ia kesini" ujar kiram membuatku lega, untung saja aku sudah membawa baju ganti karena kupikir ingin mengganti baju semalam nanti di rumah sakit, baju semalam terasa sedikit ribet jadi kupikir tiba di rumah sakit aku akan menggantinya


“Aku ke kamar mandi dulu, ya..mau mandi terus ganti baju.."


“Iya.." aku segera menuju ke kamar mandi, dengan waktu dua puluh menit aku keluar dengan baju yang terkesan formal.


“Mama tadi ada beli sarapan buat kamu" ujar kiram

__ADS_1


“Sarapan?,Tante ngerepotin diri aja.." ujarku menatap Tante Shifa yang duduk di sofa, “Gak papa,kan buat calon menantu Tante.." seketika wajahku memerah mendengar itu dan kiram hanya tersenyum


“Sini disuapin" tawar kiram.


“Gimana ram?, udah sehat?" Tanya Arian.


“Udah bang.." kiram hanya tersenyum, “lo harus sehat ram, Lo harus jaga Riska..itu adalah kewajiban Lo jika lo pengen jadi adek ipar gue" ucapan Ariana membuat kiram terkejut lalu menatap ku dan aku mengangguk pelan.


“Iya, gue bakalan jaga Riska, bang.."


“Itu janji Lo"


Seminggu di rumah sakit, akhirnya Kiram di izinkan untuk pulang.Ia pun kembali ke sekolah dan terus bersamaku dan kami melewati masa-masa ujian kenaikan kelas.


Hari ini Arian lulus dari SMA kota juang, ia memeluk mama dan aku secara bersamaan


“Selamat bang..Lo lulus" ucap kiram, “makasih ya, ram"


“kalian kapan nikah, nih?" Tanya Azka pada Arian dan ia hanya tersenyum “ketika Aprili lulus" ucapnya seraya menatap Aprili di sebelahnya.


“Kepada ananda Arian Nafis Ramadan, kamu persilahkan untuk menaiki panggung" suara mix terdengar jelas membuat Arian segera melangkah menuju panggung


“Gue berterima kasih sama kalian yang udah dukung gw hingga gw bisa lulus di SMA ini. Makasih banyak, terutama pada mama yang selalu memberi doa terbaik buat Ari juga makasih buat adek tersayang gw yaitu Riska Ariani dari kelas XI IPS yang udah buat gw semangatnya juga Aprili yang buat hari-hari gue di sini lebih berwarna.


...****************...


2 tahun kemudian....


“Saya terima nikah dan kawinnya Aprili Safina binti Abraham Rendro dengan mas kawin seperangkat alat sholat si bayar tunai!!"


“Sah?" Tanya seorang penghulu


“Sah!!!" Teriak semua yang hadir, “Alhamdulillah..!" Ucap Arian.


Hari ini adalah hari kebahagian Arian, kini ia sah menjadi suami dari Aprili, sejak saat itu juga roh-roh tidak lagi sering menggangguku. Kini hidupku terasa bahagia tanpa gangguan, sekarang aku sadar kalau terus-terusan bururusan dengan alam lain dapat membawa kesulitan dalam hidupku. Untuk sekarang, aku akan lebih fokus pada orang-orang terdekatku. semenjak papa pergi, Arian bekerja sampingan mengurus sebuah perusahaan yang dulu ayah dari mama kami tinggalkan (kakek) walau ia belum cukup dewasa, ia sudah menunjukkan sikap dewasanya pada kamu selaku putra tertua


Dan itulah cerita hidupku, mata bantinku hanya kugunakan disaat yang tepat untuk itu saja, selebihnya tak ku perdulikan lagi karena cukup ayu dan kiram yang mendampingiku.

__ADS_1


Dan sejak lahir aku memang sudah berada di tengah-tengah dua alam, berada di “antara dua dunia yang berbeda",teman dan keluarga cukup menjadi buktinya juga roh-roh yang pernah menjadi temanku


Dada Ayu, Aldi, Renza dan Renzo, ku ucapkan terima kasih


__ADS_2