Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
20. Riska di Guna-Guna


__ADS_3

Ketika sampai di pintu rumah, kami langsung masuk dengan Ayu yang berdiri di dekat sofa.


" Ya ampun, ngapain kamu di sini Ayu?" tanyaku yang kaget melihat Ayu.


" Nunggu kamu.." jawab Ayu.


Mauliza duduk di sofa bersama Nanda, aku menawarkan kepada mereka minuman, tapi malah mereka menolaknya dengan alasan nggak mau ngerepotin.


Karena mata ku masih sedikit perih, aku izin ke kamar mandi sebentar.


Samar-Samar aku mendengar Mauliza berkata sesuatu." Aku ngerasa kasian sama Riska, sepertinya dia mau nangis tuh!"


Sepertinya Mauliza memang sudah peka terhadap ku, aku langsung masuk ke kamar mandi lalu membilas muka yang kemudian menatap cermin.


" Nggak pernah aku sangka Wahyu tega seperti itu kepada ku" batinku.


Begitu ingin keluar, Ayu sudah berdiri tepat di depan ku dan langsung berkata sesuatu.


" Lagi patah hati ya...!, yang sabar ya..!" bukannya menghibur ku, dia malah berkata dengan nada mengejek membuat ku sangat geram, lalu aku kembali ke ruang tamu tidak peduli membuat ayu terkekeh-kekeh kecil.


" Sorry, lama nunggu ya."


" Nggak kok, nih liat" Mauliza mengangkat ponselnya menunjukkan sebuah chat.


📱" Ka,"


📱" Iya"


📱" Ntar malam nginap di rumah Riska ya, dia sendirian."


📱"Oh, boleh.'


📱" Memangnya kamu sudah sembuh?"


📱" Udah mendingan kok, kamu santai aja aku baik-baik saja."


📱" Ok, entar sore kami tunggu ya.."


📱" Siap, bossku."


...----------------...


TV ku hidupkan karena Azka dan Mauliza ingin nonton sinetron favoritnya.


Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan pintu membuatku beranjak menuju pintu.


Siapa yang datang malam-malam begini..?


Aku mengintip dari jendela, terlihat seorang wanita yang familiar berdiri di depan pintu, aku jadi bingung harus bagaimana wanita itu adalah Tante Mira yang pernah datang waktu lalu ke rumahku.

__ADS_1


" Telepon Papa kali, ya..?, soalnya aku takut sama tante itu.


Tangan ku tiba-tiba bergerak sendiri ke arah pintu, aku berusaha agar tak membuka pintu dan menarik tangan ku.


" Kenapa Ris?" tanya Azka yang melihat aku menarik-narik tanganku.


" Ka.., tolong tarik aku ke sana dong!"


Azka terkekeh lalu membantu memegang tanganku yang kemudian ia menarik ku ke samping Mauliza.


" Manja,deh...! padahal kan dekat" cetus Azka. Sepertinya Azka nggak tahu apa-apa, tapi tak masalah yang penting aku aman dari pintu.


Dua jam sudah berlalu, tak ada lagi terdengar suara ketukan pintu, aku memberanikan diri untuk membuka pintu untuk membuktikan bahwa tak ada tanda-tanda ada tamu setelah nanti aku buka.


" Huff..,untung nya..!, lhoh?, boneka siapa ini?" aku melihat ada boneka yang terletak di lantai teras, anehnya boneka itu tersenyum sendiri membuat ku langsung melempar jauh-jauh boneka tersebut.


Aku berpikir sudah aman setelah aku buang boneka itu, mendadak kepalaku pusing setelah kejadian itu lalu aku jatuh dan tak sadarkan diri, ketika aku membuka mata, terlihat Mauliza dan Azka yang sedang panik.


" Kalian kenapa?" cuma pertanyaan itu yang keluar dari mulut aku, sedang kan aku tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya.


" Riska..!, kamu nggak papa?, kami takut banget lho, kamu tiba-tiba pingsan dan sudah satu jam kami menunggu ini baru sadar.


Aku lupa dengan kejadian itu, yang aku ingat aku melihat tante Mira datang dan aku membukakan pintu, semua tak sesuai yang terjadi di kenyataan, di ingatanku aku menerima tamu dan mempersilahkan masuk yang pada kenyataannya aku tidak menerima tamu.


" Oh, aku tidak Papa kok, aku lupa kenapa aku bisa pingsan?, tapi itu nggak masalah ngak usah kalian bilang ke mama Papaku ya, kita tidur aja yuk udah larut nih.." ajakku kepada Mauliza dan Azka.


Azka tidak heran lagi melihat sikap ku terhadap Wahyu, karena Mauliza sudah menceritakan semuanya kepada Azka.


" Lewat aja Ris!" bisik Azka padaku waktu melihat aku terhalang oleh Wahyu.


Aku menerobos masuk kedalam, Wahyu menatapku lalu tersenyum sinis namun aku tak peduli dengan senyumannya, jujur saja hatiku telah terlanjur benci pada Wahyu.


...----------------...


Sore harinya.....


Pada ketika Papa dan Mama pulang sampai rumah, mendadak aku demam tinggi, mama menyuruh aku untuk beristirahat di kamar namun demamku semakin bertambah tinggi dan juga tiba-tiba kepalaku berasa sangat sakit seperti di tusuk-tusuk.


Tiba-tiba muncul sebuah tali yang mengikat kencang tubuhku, membuat aku kaku di atas ranjang, pengikat itu tiba-tiba saja berubah menjadi tali yang panas.


" Aauuu!" aku berteriak sangat kencang hingga terdengar mama dan papa, mereka bergegas lari ke kamarku.


Aku menangis seraya meminta pada papa untuk melepaskan tali yang mengikat ku.


" Pa lepasin talinya pa!, tolong lepasin Pa..!" isak ku membuat Papa tak mengerti.


" Kamu kenapa Riska?, tali apa?, Papa tidak ngerti nak!" Papa bingung. Aku mengatakan bahwa ada tali yang mengikatku, kemudian tangan kiri ku busuk entah kenapa aku pun tak tahu.


" Ma..., itu busuk Ma..!!" Mama kanget kalau melepaskannya.

__ADS_1


Tangan itu langsung menuju ke leherku lalu mencekiknya, mama langsung menarik kembali tangannya ku.


" Riska...istighfar nak..." ujar Papa.


" Pa, Riska kenapa ini?" tanya Mama, Papa menghela napas panjang lalu mengatakan.


" Menurut Papa Riska di guna-guna" seketika Mama langsung merinding.


" Riska.., apa ada tamu yang masuk kerumah?" tanya Mama.


Aku mengangguk lalu mengatakan kalau Tante Mira datang kerumah, setelah itu kepalaku langsung sakit sekali.


" Aaaa...aaa!!, sakit.." tangan ku mencoba memegang kepala.


" Istighfar lagi Riska..!" ujar Mama.


" Memang nggak ada kerjaan si Mira itu, bisa-bisanya dia berbuat ini pada Riska " gumam Papa.


" Maksudnya?, Mira yang telah membuat Riska seperti ini?, nggak mungkin" ujar Pama tidak percaya.


" Ma, kenapa papa ingin kalian jatuhin Tante Mira, ini alasannya ma, Papa tahu dia itu teman Mama, tapi Mama tidak tahu sifat aslinya itu bagaimana" tegas Papa.


Mama hanya diam mendengar Papa. Tiba-Tiba aku merasa ada yang menguasai tubuhku, lagi-lagi aku dirasuki.


" Hahaha... hahaha" aku ketawa sendiri tanpa sebab membuat papa mamaku jadi bingung.


" Cepat lepasin tanganku..!, kamu tidak tahu kalau itu busuk?"


Mama hampir saja melepas tanganku, untung saja papa mencegah Mama.


" Ma, jangan.., dia bukan Riska" ujar papa.


" Hahaha.. tebakan mu benar...!" setan 😈 itu terkekeh-kekeh.


Mengapa kau masuk ke dalam tubuh anakku?, apa Mira yang menyuruhmu?" pertanyaan papa hanya di balas dengan senyuman oleh setan itu.


" Balas dendam, ha-ha-h" ujarnya membuat papa terkejut, anehnya dia langsung menghilang dan digantikan oleh Ayu.


" Kalian tidak usah khawatir Riska sekarang aman, ia baik-baik saja tunggu sebentar " ujar Ayu menghentikan ucapannya. Ayu mengangkat tangan kananku, menyentuh kepala seraya membaca sesuatu tapi tak tahu apa yang dia baca hingga mengucapkan "Selesai". "Sebaiknya Riska kalian bawa pada ustadz yang tinggal di ujung sebuah desa, nama desa itu Juli, dia bisa menetralkan hal-hal mistis termasuk guna-guna." Ujar ayu


" Dimana letak desa itu?" tanya Mama.


"Sebelah Utara kota." Ujar ayu lalu pergi meninggalkan tubuhku yang lemah.


Bersambung...


Tunggu episode berikutnya.


Terima kasih atas segala dukungannya dari teman-teman semua jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


__ADS_2