Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
62. Seoson 2, Ketahuan


__ADS_3

Arletta memainkan ponselnya di atas kasur milik Nadia, ia sedang menunggu Nadia keluar dari kamar mandi. "Nadia, ngapain sih?, Gue sudah kebelet nih," gumam Arletta. Tidak lama kemudian Nadia pun keluar dari kamar mandi dengan tissue maka di wajahnya.


"Lama banget sih Lo," ucap Arletta, lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi Arletta langsung meloncat ke atas kasur yang empuk membuat Nadia terkejut. "Eh, ayam!, kaget tau!!." Arletta hanya bisa ketawa melihat Nadia kesal, ia sengaja berbuat demikian. "Kalau jantung gue copot, gimana?," Ujar Nadia. " Selow aja kali, ngak bakalan copot dah, kalau pun copot entar gue ganti sama jantung pisang, hahaha," Arletta semakin bercanda membuat Nadia ikut tertawa.


"Udah jam 03.40 nih!, Kita bergadang?," Arletta menatap jam di layar ponselnya. "Tanggung kalau tidur lagi, Let, kita bergadang aja, lagian besok hari libur." Arletta hanya mengangguk lalu kembali menatap ponselnya. Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing memanggil Arletta dari luar jendela. "Letta!, Letta!!." "Nad, Lo dengar suara manggil ngak?," Tanya Arletta pada Nadia dan di balas dengan gelengan kepala. "Letta!!." Suara itu terdengar lagi.


Arletta mendekati jendela dan membukanya pelan-pelan, ternyata panggilan itu berasal dari bawah, Rafael berdiri menatap Arletta lalu ia menghilang begitu saja.


Arletta merasa bingung dengan Rafael, tiba-tiba ada, tiba-tiba menghilang. Akhirnya Arletta pun menutup jendela kembali dan berbalik badan dan mendadak Rafael sudah muncul di hadapannya. "Nga-ngapain kamu di sini?." Arletta sangat kaget. Pertanyaan Arletta terdengar sama Nadia yang sedang nanton di laptopnya. "Lo nanya ke siapa Let?" Tanya Nadia penasaran.

__ADS_1


Rafael menyengir. "Teman Lo bingung tuh!." Arletta baru menyadari bahwa Nadia tidak bisa melihat Rafael. "Eh..., Ngak papa kok, cuma tes suara doang," jawab Arletta kaku.


"Lo boong Let, siapa dia?," Nadia menatap Arletta serius. "D-dia..., teman gue, iya teman gue, tapi Lo tenang aja dia tidak bakalan ganggu kita kok." Arletta menjelaskan pada Nadia, Nadia mengerutkan keningnya kalau ia merasa panik. 


"Let, gimana gue bisa tenang?, dia ngak bisa gue lihat."


"Lo santai aja, dia baik kok sama kita, tadi gue cuma kaget aja sih tiba-tiba nongol di hadapan gue," Arletta mencoba menenangkan Nadia.


"Aduh gimana ya?," Batin Arletta dag-dig-dug.

__ADS_1


Rafael yang melihat Arletta serba salah terkekeh-kekeh. "Bilang aja gue cowok, kamu ngak usah malu-malu," goda Rafael. "Lo sih enak bilangnya, gue butuh mental buat bilangin Lo cowok." Akhirnya dengan penuh paksaan Arletta mengatakan pada Nadia bahwa yang tidak terlihat itu adalah cowok ganteng. Nadia terbelalak jadinya. 


"Apa, cowok?, Letta Lo tidak bercanda kan?, masak ada sosok cowok di kamar cewek, ngak kelihatan lagi, ngak,ngak boleh Let, nanti dia apa-apain kita gimana?, dia cowok loh, mana ngak terlihat lagi buat gue," Nadia semakin panik di buatnya. Arletta kebingungan lalu menepuk jidatnya.


Arletta kini pasrah."Nad Lo tenang dulu, ya!, Gue mau bicara sama dia," Nadia mengangguk. "El, ngapain kamu di sini?, sekarang sudah larut malam dan hampir pagi pula." 


"Lo tidak usah khawatir, gue kesini cuma mau lihat Lo aja, habis tu gue pergi kok!," Ujar Rafael. "Kenapa nggak besok saja, El?," Arletta menarik nafas panjang.


Pada akhirnya Nadia dan Arletta duduk di atas kasur menatap ke arah sofa. "Dia mau cerita apa, sih?," Tanya Nadia pada Arletta. "Ngak tahu, dia belum mulai bicara, atau gini aja, biar lebaran h gampang Lo nulis aja El," ujar Arletta. "Nulis?," Tanya Rafael. "Iya, nulis, bentar ya...!," Arletta beranjak dari duduk mencari kertas dan boipoin lalu menyerahkan kepada Rafael. Tulisan pertama yang di tulis adalah. "Pertama-tama, kenalin nama gue Rafael teman baru Arletta, nama Lo siapa?." Nadia menatap tulisan itu. "Nadia," jawaban singkat Nadia. "El, Lo masih ngak tahu di mana barang bukti itu berada sekarang?," Tanya Arletta, Rafael menggerakkan boipoin di kertas lalu menunjukkan pada Arletta dan Nadia. "Gak, oh ya, buat Nadia kamu sama seperti Arletta ya?, teman kecilnya Arga?," Tulis Rafael. Nadia kaget membaca tulisan itu. " Kok Lo tahu?." Rafael menulis lagi. "Sorry ya, gue tidak bisa keliatan di malam spesial buat Lo, selamat ulang tahun, ya gue cuma bisa bantu do'a, padahal Lo yang ngundang gue waktu di markas, tadi letta ada kasih gue sedikit kue yang jamu ke anak markas." Nadia semakin bingung maksud dari Rafael.

__ADS_1


"Let, maksud dia apa sih?." "Nad, Lo yakin bisa menjaga rahasia kan?, Lo berhak tahu tentang ini semua, tapi, Lo jangan kasih tahu sama Arga, itu syaratnya." Nadia terdiam sejenak. "Iya deh!, Gue janji ngak bakalan kasih tahu sama Arga, sekarang kasih tahu gue apa rahasia itu?." "Lo masih ingat cerita Arga?, cerita yang waktu itu di cafe," ujar Arletta. "Iya, gue ingat, dia dia bilang wakilnya hilang." Arletta diam sejenak. "Wakilnya itu Rafael," ucap Arletta membuat Nadia terkejut. "Rafael?!, maksudnya Rafael yang ini?, Gue memang pernah dengar nama itu, tapi tidak mungkin juga wakil ketua pasukan mati tanpa ada yang tahu?," Nadia masih tidak percaya. "Ada Nad, ada Bara yang tahu." "Apa maksud Lo Letta?, kenapa Bara tahu tentang itu tidak pernah kasih tahu ke orang-orang." Rafael menunjukkan suatu tulisan lagi." Lo jangan kaget, tapi Bara yang sudah bunuh gue!." Mendengar itu Nadia membungkam mulutnya tidak percaya. Tidak lama kemudian, Arletta dan Rafael pergi ke balkon meninggalkan Nadia yang masih dalam keadaan syok.


__ADS_2