Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
32. Pertandingan


__ADS_3

Mereka di beri waktu sepuluh menit untuk beristirahat, Aku dan Aprili mengikuti Arian keruang UKS, entah kenapa Bang Arian pergi ke sana kebingungan mulai melanda hati kami.


" Bang, ngapain disini?," tanyaku sambil ngos-ngosan. " Sini, memar kamu harus di obati," Arian menyuruh aku duduk di sampingnya, lalu Arian membuka kotak P3K yang ada di tangannya dan dibersihkan memarku dengan alkohol.


" Auu, aduh Bang!, pelan-pelan," Aku meringis kesakitan. " Ari, pelan-pelan dong, sakit dia lho," Aprili mengingat Arian lagi. " Iya-Iya ini sudah pelan-pelan kok," Tegas Arian.


Tiba-Tiba Ihsan masuk, dia juga ingin mengobati luka di tangannya, entah apa penyebabnya sehingga Ihsan bisa terluka. Aku beranjak bangun dari dudukku dan mau keluar, Aprili yang melihat itu mereka kebingungan dengan tingkahku.


" Kenapa Ris?," Tanya Arian.


" Ngak papa kok, lagian sudah siap kan?, kita pergi aja yuk!, aku pingin makan es krim nih," Aku beralasan pada Arian dan Aprili.


" Ya udah, yuk kita pergi ," Kami bergegas keluar dari ruangan UKS. " Minum itu buat siapa?," Ternyata aku kelupaan minuman yang tadinya berniat untuk Bang Arian ternyata masih di tanganku.


" Oh, ini ..., buat Bang Arian, maaf kelupaan," Aku menyodorkan botol air mineral buat Arian sambil melirik kearahnya Ihsan melalui pintu yang masih terbuka. Aku membatalkan makan es krim karna waktu istirahat sudah habis.


Pertandingan di mulai kembali, kini babak ke dua melawan tim Nanda. Kali ini aku berpindah duduk dari bangku penonton ke bangku anggota basket, itu semua permintaan Arian karna khawatir atas kejadian tadi terulang kembali. Kak Aprili duduk di tempat Arian, sedangkan aku di tempat Kiram yang sudah di izinkan olehnya. Namun aku menjadi sorotan tajam dari penonton lain, mereka tahu bahwa Aprili itu pacarnya Arian tapi diriku ini siapa?, kemungkinan mereka beranggapan yang bukan-bukan untukku.


Pertandingan di babak kedua, tim Nanda yang menang tapi babak ketiga beralih lagi ke tim Arian. Skor tim Arian lebih tinggi dari tim Nanda. Waktu sudah sore, pertandingan akan di lanjutkan besok harinya. Aku menuju ke penyimpanan bola, tiba-tiba ada bola yang jatuh di dekatku ternyata itu lemparan dari Vino.


" Lempar balik bolanya," ucapnya singkat lalu aku mengambil bola dan melempar balik kearahnya, dan tidak sengaja lemparan bola mengenai kepalanya Vino.


" Ups!," Aku langsung berlarian mendekati Vino, entah kenapa rasanya tubuhku langsung bergerak sendiri ke arah vino. Aku mengelus-elus kepala vino.


" Bang, sakit ya?, sorry ..., aku tidak sengaja," ujarku yang masih saja mengelus-elus kepalanya. Vino memandangiku dalam-dalam sepertinya dia membiarkan memegang kepalanya, lalu dengan cepat dia menepis tanganku.


" Udah puas nyentuh kepala gue?," Bentak Vino. Aku sadar apa yang aku lakukan tadi, aku diam saja tidak ada kata perlawanan lalu membiarkan dia di lapangan sedangkan aku berlarian pergi keluar dari lapangan dengan perasaan malu.


...----------------...


Di dalam kamar aku mencoba menghibur diri dan dua roh kembar dengan menyanyikan sebuah lagu.


"At the curtain's call


It's the last of all


When the lights fade out, all the sinners crawl

__ADS_1


So they dug your grave


And the masquerade


Will come calling out at the mess you've made


Don't wanna let you down


But I am hell-bound


Though this is all for you


Don't wanna hide the truth


No matter what we breed


We still are made of greed


This is my kingdom come


This is my kingdom come


It's where my demons hide


It's where my demons hide


Don't get too close, it's dark inside


It's where my demons hide


It's where my demons hide.


lagi asyik-asyiknya kamu bernyanyi tiba-tiba terdengar ketukan pintu. " Masuk," ujarku. Ternyata Arian, ia masuk dan menatap dua kembar dengan cukup lama.


" Ganti profesi jadi pengasuh ya?," Ledek Arian. " Ih ..., terpaksa tau, ngak sih!," cetus aku. " Riska, siapa dia?," tanya Renza. " Abangku, namanya Arian."


" Hai ...!," Sapa Bang Arian pada keduanya. " Dia bisa lihat kita, ya?."

__ADS_1


" Iya, dia sama seperti aku juga, bisa melihat makhluk seperti kalian itu," Jelasku. Tiba-Tiba ponselku berdering, ternyata Azka menghubungiku.


" Halo,Ris!," Suara Azka di sebrang sana. " Iya, Ada apa, Azka?,"


" Ke taman yang biasa ya, Rajif di sana."


" Ya udah, iya aku ke sana sekarang." Aku menutup telponnya dan segera pergi ke taman.


...----------------...


Singkat cerita aku dan Rajif berkenalan di taman, dan tiga bulan setelah itu aku dan dia resmi menjadi pacar. Sejauh ini belum ada cowok yang bisa buatku jatuh cinta, Rajif hanya sebagai cadangan sedangkan Sultan resmi, jika ada yang bertanya kenapa, tentunya karena Wahyu lah aku gonta-ganti cowok.


Sore itu aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku, setelah melintas sesuatu di hadapanku. Pikiranku semakin jauh, jauh dan sangat jauh sekali.


" Pa!, Riska kerasukan!!," Teriak Bang Arian yang melihatku jatuh dengan mata melotot.


" Ari, tolong Riska, kamu kan bisa keluarin rohnya," Mama semakin panik dan khawatir terjadi hal yang tidak di inginkan lagi.


" Ngak bisa, Ma!," Kemudian Papa datang lalu memengang tubuhku, Mama ikut membantu juga sedangkan Arian menerawang pikiranku. Berkali-kali Arian mengeluarkan roh itu dari tubuhku tapi gagal bahkan Renza dan Rinza pun mencoba dan tidak berhasil juga.


"Berhenti kalian!," Teriak roh di dalam tubuhku.


" Enak aja Lo bilang berhenti!, adik gue sengsara goblok!," Arian keceplosan mengeluarkan kata-kata kasar di depan Mama dan Papa namun mereka tidak peduli yang terpenting roh itu bisa keluar dari tubuhku.


" Apa tujuanmu?!," Tanya Papa.


" Hana untuk bersenang -senang ," Jawabnya singkat dengan senyuman sinis.


" Jangan jadikan adik gue tempat untuk bersenang-senang Lo!, cepat keluar!." Arian terus memaksa roh itu untuk keluar, roh tersebut marah dan menaikan jari telunjuk kemudian menunjuk rambut seperti ingin menusuk.


" Aaaa!!," Aku berteriak kencang. " Sakit ...!, berhenti menusuk kepalaku!," Aku berteriak sekencang mungkin karena ia menusuk kepalaku sepertinya menusuk dengan paku atau benda yang tajam.


Mendengar jeritanku Mama panik dan sampai menangis, Papa dan Arian kehabisan cara. Dalam keadaan semakin gawat akhirnya Ayu pun muncul dan ia langsung memegang lenganku lalu menarik roh itu dengan sangat kuat membuat aku menjerit sekali lagi. Ada seseorang membantuku secara gaib, aku tidak tahu itu siapa tapi aku bisa merasakannya.


Setelah dua jam kerasukan, akhirnya roh itu keluar dari tubuhku. Aku masih merasakan sakit dengan tubuh lemas dan air mata kesakitan membasahi pipiku. Sepertinya biasa setiap habis kerasukan, aku harus beristirahat selama tiga hari untuk menghilangkan rasa sakit seluruh tubuhku.


Bersambung ...!

__ADS_1


__ADS_2