Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
14. Penghuni Gunung


__ADS_3

Sesudah kami semua makan, kami pun memutuskan untuk berlama-lama di dekat api unggun sekedar untuk menghangatkan badan karna udara malam semakin dingin.


Aku meraih ponselku dan melihat-lihat galeri foto yang ada di ponsel ku. Tangan telunjukku tertuju pada foto ku bersama Wahyu, dari jauh samar-samar nampak terlihat laki-laki itu dalam foto kami.


" Huff, gimana ini ya..?' gumam ku menghela napas panjang.


" Kenapa Riska?" tanya Nanda yang duduk di depanku, sedangkan yang lain di sebelahku yang lagi asyik bercerita dan ketawa-ketawa.


" Nggak kok, nggak papa" jawabku menyembunyikan.


" Kenapa memangnya Riska?, kamu lagi liat apaan sih?" tanya Mauliza.


Mauliza langsung mengajukan kepalanya ke ponsel ku dan dia pun langsung terkejut.


" Lah, di foto kalian juga ada laki-laki itu?, nih penampakan meresahkan banget" ujar Mauliza. " Sebenarnya nih ya, aku.. pingin bilang sesuatu sama kalian semua" ucapku dengan ragu-ragu.


" Bilang aja, memangnya kenapa?" Wahyu angkat bicara yang sedari tadi diam saja.


" Tapi, kalau aku cerita kalian jangan takut ya!"


" Wah-wah..wah..., nih pasti bau-baunya horor nih!, nggak deh, ngak jadi.." Azka sudah duluan takut sebelum mendengar cerita ku.


" Ini penting Ka.., kali kalian nggak mau dengar, bisa-bisa mati penasaran nanti..."


" Ya udah!, bilang aja Ris.., kami siap mendengar kok..!" ujar Azka. Sebenarnya orang ini tuh selalu mengikuti kita.., mulai dari perjalanan kita di ujung bukit kemaren sampai di sini, cuma akunya tidak cerita sama kalian karena aku belum yakin sama laki-laki itu" jelaskan kepada mereka. " Kamu serius Ris..?, kamu nggak sedang bercanda kan?" tanya Wahyu.


" Aku serius!, dua rius pun aku berani" sambil mengacungkan dua tangan. " Jadi.., gimana nih!, aku makin merinding kita pulang aja yuk, aku takut nih.." Mauliza mulai sedikit ketakutan.


" Za.., kamu yang mau pulang?, kita sudah setengah jalan lho, nggak mungkin kita pulang, soalnya nanggung kali sedikit lagi sudah sampai puncak" ujar Azka menyemangati Mauliza.


" Udah, udah!, kita belum habis dengar lho lanjutan ceritanya Riska" tegas Nanda yang ingin mendengar lebih lanjut ceritaku.


" Dan orang ini..., arwahnya tidak tenang, dia mengaku pendaki tahun kemarin, dia bilang gunung ini tiap tahunnya meminta tumbal."

__ADS_1


" Masa sih?, aku nggak percaya nih.., emangnya kamu tahu darimana Ris?" tanya Mauliza.


" Jujur nih ya, aku juga masih bingung, laki-laki itu sendiri yang bilang waktu kita cari kayu bakar tadi sore, dia juga pakai baju pendaki seperti kita juga" jelas ku. " Jadi, maksudnya nih, kamu bisa ngeliat laki-laki itu?, tapi kenapa kamu saja?" tanya Wahyu. " Entahlah, baru kali ini mungkin.., tapi terserah sama kalian aja, mau percaya atau enggak soalnya aku sendiri belum begitu yakin" tegas ku.


" Aduh.., aku makin bingung nih..!, terus kalau dia itu arwah, jasadnya dimana sekarang?" pertanyaan Azka membuat ku ingin tahu juga di mana jasad laki-laki itu sekarang.


" Dia sendiri juga tidak tahu jasadnya tuh dimana?, tapi dia pernah bilang juga, tahun ini bakal ada tumbal lagi, itu giliran salah satu dari kita yang jadi tumbalnya."


" Ris, loe lagi bercanda kan?, jangan buat kita semua jadi takut dong.." ujar Nanda.


" Aku serius.., lagian aku juga nggak percaya, tapi kalau aku pikir jalan keluar dari masalah ini adalah mencari jasad laki-laki itu, bagaimana menurut kalian?"


" Apa..?!, serentak Azka dan Mauliza menjawab.


" Pleas deh Ris, cari jasad?, kita aja nggak tahu gimana misteri ini gunung" cetus Azka.


" Bener tuh Ris..!" sambung Mauliza lagi. " Riska, memangnya kenapa kamu berfikir kalau kita cari jasad laki-laki itu merupakan jalan keluar" tanya Wahyu lagi.


" Gini ..nih ya, kalian semua dengerin dulu, kita terus mendaki sambilan lihat-lihat sekitar kita gimana?, kalau pun jasad nanti ketemu penghuni yang sebenarnya mungkin bakalan keluar."


Papa pernah bertemu penghuni yang jahat, lalu di tolong oleh penghuni yang baik, mungkin ini dapat menyelesaikan masalah kami juga.


" Ris, Riska..! kenapa diam saja?" tanya Wahyu.


" Aku tahu kita harus bagaimana, kita pakek ide yang tadi, kita tidak boleh takut untuk lawan itu penghuni karna gunung ini mempunyai dua penghuni, penghuni jahat dan baik, yang baik berwujud kakek-kakek gitu!"


" Jadi..?"


" Jadi kita punya kesempatan ke puncak kerena di tolong oleh kakek-kakek sakti itu ketika bertemu penghuni yang jahat" jelas ku.


Mendengar ucapan ku mereka terdiam semua, aku ragu mereka akan setuju dengan pendapat ku, karna tidak mudah menjalani itu semua.


" Huuff.., apa boleh buat" ucap Nanda dan Wahyu.

__ADS_1


" Jadi kalian setuju dengan ide Riska?" tanya Azka.


" Tujuan kita adalah puncak, jadi ya kita harus berusaha agar bisa mencapai kesana" ujar Nanda dengan semangat.


Memang begitulah tujuan kita camping dan cari berbagai pengalaman, nggak mungkin juga kita yang sudah setengah jalan kita balik pulang.


Rupanya kata-kata Wahyu dan juga Nanda membuat Azka dan Mauliza ingin melanjutkan perjalanan dan setuju dengan pendapatku.


" Yae... kalau begitu yuk, malam ini kita tidur."


...****************...


Keesokan hari....


Pagi pun datang, matahari mulai terbit di ufuk timur dengan cahaya yang begitu bersinar menyinarinya bumi yang membuat semangat kami bangkit lagi untuk melanjutkan perjalan menuju puncak gunung. Kami terus berjalan kedepan melewati pohon-pohon besar, Mauliza yang berjalan beriringan dengan ku menoleh ke belakang, lalu berbisik sesuatu pada diriku.


" Ris..., laki-laki itu masih ngikutin kita nggak?" bisik Mauliza di telinga ku membuat aku melihat sekeliling dan mengangguk.


Melihat kami berbisik-bisik membuat Azka penasaran.


" Kalian ini kenapa sih?, kok bisik-bisik dari tadi aku perhatikan?" tanya Azka.


" Nih, Mauliza tanya tentang cerita semalam."


" Oh.., kirain apa."


Sudah dua hari berlalu, puncak sudah tidak jauh lagi.


Kami melewati siang juga malam dengan aman tanpa kendala apapun, dikala malam tiba kami membangunkan tenda, sedangkan pada siang hari kami melanjutkan perjalanan lagi. Mulai dari sinilah kami merasa ada kejanggalan, kadang kami mencium bau busuk yang menyengat, kadang juga bau wangi yang semerbak harum.


Kami juga merasa ada yang memperhatikan setiap langkah perjalanan kami.


Udah dulu ya...

__ADS_1


Bersambung..


Jangan lupa dukungannya dari teman-teman semua, dengan cara tinggalkan jejak kalian yaitu vote dan like serta komen karya saya, terimakasih..


__ADS_2