Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
41. Kuntilanak Kiriman


__ADS_3

"Apa?!?" Serempak Azka dan Mauliza “jadi sekarang kalian...udahan?!" Alfa menatap serius padaku “Kok bisa,sih?! , Jadi kesel deh! Masak main tinggal udahan aja?!" Oleh Mauliza “kayaknya aku emang ga bisa miliki cowok tetap,deh.. gpp kok" ujarku. “Tapi Ris__" "udah kalian ga usah marah,biarin aja..ke kantin aja yuk ..” ajakku mengalihkan


April tiba-tiba datang ke kelas lalu mengatakan akan ada pemeriksaan lagi dan mengatakan kalau Arian meminta ponsel ku. Alfa dan Mauliza juga ingin ponsel mereka aman dan ikut memberikan ponselnya lalu April pergi dan kamu segera ke kantin. Saat tiba di kantin, pemandangan mengejutkan terlihat dimana Nanda memegang tongkat baseball dan ia memukul salah seorang siswa disana entah apa kesalahan siswa tersebut “kalau Lo berani macem-macem lagi sama gue...,gue bakal habisin Lo lebih dari ini!” sinis Nanda


Kondisi siswa tersebut benar-benar mengilukan,darah segar keluar dari rongga mulutnya juga hidungnya, sekujur tubuh nya memar akibat pukulan tanpa ampun dari Nanda “Nanda!!!" Teriak Mauliza membuat Nanda menoleh dan terkejut melihat kedatangan kami termasuk Rama yang sama-sama terkejutnya. Mauliza langsung menasehati Nanda ,begitu juga nika Yana menghampiri Nanda. “Sekarang cepat bilang! Apa kesalahan cowok ini sampe kamu pukul kayak tadi? Kamu ga takut berurusan sama sekolah,hah?!” Mauliza mengeluarkan emosinya. “Za,aku bisa jelasin tentang ini" “Ram,kiram juga, cepat jelasin! Kenapa kalian mukul dia” tambah Alka. “Biar gue yang jelasin!” kiram tampak di meja kantin duduk dengan santainya tak mengubris apapun “menurut gw,Nanda ga salah kok, mukulin si cabul itu cara terbaik menurutku” perkataan Kiram membuat kami kebingungan. “maksud nya apa,bang?” tanyaku pada kiram membuat kami terkejut. “Apa?!”


“Aku minta maaf,yaak...” lirih Mauliza duduk di dekat Nanda “Gak papa kok, tenang aja...,aku kan udah janji ga bakal lakuin hal yang salah" “iya tapi..” “gpp,kok yank.."


Di tengah kebucinan itu, sempat-sempatnya si kembar datang menggangu kebucinan mereka mulai dari menjambak rambut Mauliza dan mendorong nya hingga jatuh ke Nanda membuat Alka dan aku tertawa namun tidak dengan Rama yang berpikir kalau itu hantu yang inging membuat hidup yang di ganggunya tidak tenang “Riska" Kiram tiba-tiba mendekat lalu mengajak ke kelas Arian karena Arian menunggu di sana entah untuk apa.


Setibanya di sana, Arian tengah sibuk dengan laptop milik guru.“Bang" panggilku membuat Arian menoleh “kenapa manggil?” tanyaku “kamu tolong buat ini bentar ya.. Abang mau ke ruang guru,bentar" ujar Arian menyodorkan laptop. “lho,kok aku?,kan ada ni anggota Osis yang lain masak aku yang ngerjain"


“Mereka bentar lagi rapat,Aprili ikut kelas busana, sedangkan kamu ga ada kerjaan,lagian ini tentang IPA kok"


“Tapi kan ada pelajaran kelas matematika,nanti.."


"jadi..udah cinta matematika,nih.." “ga sih,ya udah iya!"


“lumayan kan ga ikut kelas mtk” batinku.


“Iih!,kesel deh! Masa laptop nya ngelek gini..!


“mau gw bantuin?” tawar Kiram “lho?,bukannya ikut rapat?"


“Ngak jadi, kawali yang lain,gue di suruh awasin Lo ama guru"


“Kalau gini.., ngapain coba harus nyuruh aku?” batinku kesal


“tekan tombol biru dulu biar update,terus enter" ujar Kiram


Kiram terus membantu melakukan pekerjaan yang di berikan Arian hingga selesai


“makasih,ya bang.." ujar ku. “Riska” panggilnya “hem?kenapa?” tanyaku bingung “lo..masih pacaran yak?”


Apa yang kudengar barusan?,ia menanyakan hal itu,aku pura-pura tak mendengarkannya


“hah?,apa bang?” tanyaku pura-pura “ga ada”


Wah-wah,apa yang terjadi hingga Kiram kayak gitu, memana aku udah putus,bukan berarti aku akan pacaran lagi, mungkin aku akan berhenti terlebih dahulu soal pacaran.

__ADS_1


Dua bulan sudah berlalu dengan cepat ,kupikir gangguan roh akan semakin berkurang, ternyata malah menjadi-jadi, kuntilanak kiriman Mira dulu masih ada di rumah “Aaa!!”


“Sadar Riska!! Sadar!!" Teriak Arian


“Pergi!!, Pergi kalian!!!, aaa!!"


“Riska..! sadar.. nak!”


“Hahahaha..., Siapa yang kalian panggil Riska? hh"


“keluar Lo dari tubuh adek gw!”


“eh itu bukannya bang Kiram,ya..” ujar Mauliza melihat Kiram


“Ekhem! Ris..” rayu Azka


“iih! Kalian apaan sih..!, Malu tau!”


Kiram lewat mengantarkan bekal dari Arian yang super sibuk, entah sejak kapan Kiram menjadi asisten Arian sehingga Kiram yang selalu membawa keperluanku membuatku baper, “nih bekalnya" . “em...makasih bang" Kiram hanya tersenyum lalu pergi


“Seorang Riska yang hampir mustahil menyukai pada cowok duluan kini duluan suka sama cowok yang bukan pacarnya ..hh ledek kedua temenku”.“aku ke kelas bentar ya” ujarku ingin meletakkan bekal. Begitu masuk aku langsung di cekek oleh roh yang berada di depanku membuat sesak


“Al... Ka...! M-mau..l..li..za! T to..longin a..ku!”


“Duh..gimana nih...”


Tak lama kemudian aku terjatuh lemas akibat sesak yang sedikit lama dengan air mata yang mulai menetes di pipi.


“hiks..hiks..., Sakit..” lirihku


“Ris kamu ngak papa?, Setan mana lagi yang ganggu kamu?!” ucap Azka


“I-itu..” ujurku seraya menunjuk ke arah jendela.


Arian melambungkan bola hingga berhasil mencetak angka,lagi-lagi Arian si ketua Osis menjadi populer di kalangan cewek SMA kota juang.


“Bang Arian!! Love you!!” teriak salah seorang penonton cewek


“Bang Arian!! Semangat!!

__ADS_1


“Yuhuyyy!!, Semangat!!”


Aku duduk di bangku pemain bersama Aprili juga kedua temanku dan fanesha juga di sekretaris Osis membuat sebagian mata penonton tertuju ke arah kami


“Istirahat!!” teriak wasit membuat pemain bubar dari lapangan


“Wah-wah...keren tadi, bang!” sontak aku. “Arian,lho! siapa lagi..” ucap Arian bangga. “bang Kiram juga..keren!” ucapku malu-malu.


“Thanks”


“Tim Nanda juga ga kalah keren” tambah Mauliza “ Ho'oh”


Di tengah itu semua, ponsel ku berdering menandakan panggilan masuk dan terpampang tulisan “papa”


“Halo pa”


“Riska,Tante Nina masuk UGD"


“Apa? tapi sakit apa?”


“kecelakaan mobil,bilang ke Arian suruh ke RS citrakasih sehabis pulang sekolah"


“Iya,pa nanti Riska bilang , kebetulan Riska lagi sama abang”


“lagi apa sekarang?”


“Nonton basket,pa..,kak rili ada disini juga pa”


“Oh,ajak rili sekaligus nanti,ya..”


“Ok, pa”


“Udah dulu ya, pap mau beli makanan dulu”


“Iya, pa..dada..”


Aku mematikan ponsel lalu menatap Arian yang balas menatapku bingung “kenapa?, Siapa yang nelpon?” tanya Arian


“tadi papa nelpon dan bilang...” aku menggantung ucapanku

__ADS_1


“bilang apa?" Tanya Arian. “bilang kalo Tante Nina... kecelakaan"


Arian menutupi seketika telinganya merah Medan .ia kemudian segera meminta izin untuk menghentikan pertandingan dan segera menarikku dan Aprili pergi ke mobil tanpa bicara lagi.


__ADS_2