Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
21. Masuk SMA


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, aku sudah mengikuti ujian terakhir lulus sekolah, aku sekarang sudah menduduki bangku SMA,


Sekolah SMA terbesar yang terkenal di kota Juang.


Pagi itu Halaman sekolah sudah dipenuhi dengan keberadaan anak baru yang akan memasuki Gedung Sekolah. Tiba-Tiba ada yang menarik tanganku dari samping membuatku hampir jatuh dan langsung mengimbangi tubuhku. " Maaf, maaf Bang!" ujarku karena melihat yang tertabrak adalah cowok, cowok itu menatap sinis padaku lalu pergi begitu saja membuat aku jadi kesal. Azka datang lalu menghampiriku, ia mengajakku masuk dan melihat pembagian kelas yang tertempel di Mading, kali ini aku ditempatkan dikelas yang berbeda dari Nanda dan Mauliza, kebetulan pada waktu itu Nanda juga satu SMA dengan kami, tapi tidak dengan Wahyu, aku berharap tidak ada lagi pertemuan dengan cowok yang aku benci.


Suara mikrofon berbunyi membuat suasana riuh berhenti untuk sejenak. Aku masuk ke kelas dan meletakkan tas di bangku paling depan dengan Azka di sebelahku, kemudian keluar menuju kelapangan, kami mendengar beberapa perkenalan dari guru-guru juga amanat dari kepala Sekolah.


Tidak ada yang bisa aku lakukan selain melihat-lihat besarnya Sekolah dihari ini. Hari ini khusus siswa baru jam pelajaran kosong, aku menemukan kelas yang ditempati Mauliza, tapi sayang Mauliza tidak ada disana ruangan kelasnya kosong.


Di koridor tingkat dua, aku dan Azka melihat-lihat suasana Sekolah dari atas, beberapa Abang kelas lagi duduk di salah satu kursi di koridor menatap kami, aku membalas dengan melirik kearahnya namun tak seorangpun aku kenal wajahnya hanya tanda pengenal tertulis di seragamnya "Kiram Anggara Saputra" dan satu lagi " Andrian Nafis Ramanda". Azka mengajakku ke tempat lain menjauh dari mereka, kami pergi ke kantin dan mendapati Nanda dan Mauliza berada disana.


...----------------...


Bell pulang Sekolah berbunyi seluruh siswa keluar dari gedung sekolah kecuali organisasi yang memiliki tugas tambahan. Azka memilih menemaniku menunggu jemputan Papa, sekolah sudah mulai sepi karena siswa yang lain sudah duluan dijemput, ketika aku duduk di bangku halaman sekolah, tiba-tiba saja aku melihat yang ingin menyentuh bahu Azka, seketika aku langsung menarik Azka ke bangku lain.

__ADS_1


" Kenapa Ris?" tanya Azka, aku hanya memberi isyarat kepadanya dan Azka pun langsung mengerti.


Kedua temanku sudah tahu tentang diriku jadi, tak heran lagi jika aku melakukan hal yang tak dimengerti oleh mereka. Ternyata ada seseorang yang melihat kejadian itu, dia hanya berdiri tenang seolah tak melihat apa-apa.


" Gawat, itu kan Kakak kelas tadi!, dia liat nggak ya?" batinku. Papa sudah sampai di pintu gerbang Sekolah lalu memanggil ku dan Azka. " Gimana sekolahnya?" tanya Papa. " Baik, Pa..!, nggak ada masalah ya kan Azka?" ujarku dibalas dengan anggukan dari Azka.


...----------------...


Hujan turun dengan derasnya membuat aku tidak bisa keluar rumah, kebetulan Azka dan Mauliza saat itu ada di rumahku. " Ris, liat deh! ini Instagram Kiram lho, ganteng banget kan?" ujar Mauliza. " Jadi, nggak suka lagi sama Nanda?" cetus Azka membuat Mauliza menaikkan alisnya. " Suka lah, Nanda tuh Ia the best buatku" tegas Mauliza.


Tiba-tiba sosok yang di Sekolah tadi muncul lagi dibelakang Azka, aku memegang tangan Azka dan mulutku komat-kamit.


" Udah" gumamku. " Ada apa Ris?" tanya Azka. " Ada yang ngikutin kamu!, sosok yang di Sekolah tadi" ujarku.


Pernyataan ku membuat mereka merinding. " Ih serem!" ujar Mauliza. " Udah, udah nggak usah takut sudah pergi" ujarku menenangkan mereka.

__ADS_1


...----------------...


Kring....kring..., waktunya masuk kelas. Bel masuk sudah berbunyi, seluruh siswa memasuki ke dalam kelas masing-masing. Pak guru masuk ke kelas kami, beliau merupakan wali kelas namanya Pak Anwar.


" Pagi anak-anak!" sapa Pak Anwar. " Pagi Pak!."


" Keluarkan buku paket biologi kalian, buka halaman dua" Ujar Pak Anwar. Ditengah-tengah penjelasan pelajaran, Sultan yang duduk di belakangku mulai menggangguku. " Pliiss deh, jangan gitu dong main lempar-lempar pulpen ke orang, ini tuh lagi jam belajar." Ujarku geram. mendengar perkataan kesal dariku, ia bukannya berhenti tapi malah semakin parah menggangguku. Pak Anwar menoleh pada kami membuatku tegang seketika. " Kalian!, ini jam pelajaran" tegas Pak Anwar.


" Maaf Pak, Sultan selalu menganggu saya" ujarku dengan menyalahi Sultan. Pak Anwar menatap Sultan, lalu melihat bangku kosong di belakang, kemudian menyuruh Sultan untuk pindah ke bangku tersebut. " Mampus!" gumamku.


Akhirnya jam pelajaran berlangsung tanpa ada masalah hingga jam istirahat tiba. Buk Siti, guru pelajaran Bahasa Indonesia meminta bantuan untuk mengantarkan buku ke perpustakaan. Setelah selesai meletakkan buku pada penjaga perpustakaan, aku keluar dari ruangan tersebut. Kali ini bukan Sultan yang menggangu, tapi Abang kelas turut menggangguku dia berdiri di depan pintu perpustakaan.


" Wah, wah.., ada Adek kelas nih, tumben banget yang datangnya Adek kelas, biasanya kelas anak kelas XI juga XII." Dia mengejek ku tapi aku senyum aja. " Nih orang ngapain sih main hadang jalan orang." Batinku sangat geram karena perlakuan Abang kelas itu. " Em, Bang bisa nggak kasih jalan, saya mau ke kantin nih" pinta ku. " Lho, lho suka-suka aku dong." Jawabnya dengan santai. Aku memilih untuk melewati pintu yang lain, tapi dia berhasil menghadangnya lagi, lalu Tampa pikiran panjang aku mendorong tubuhnya hingga dia tersungkur dan berlari darinya, namun dia bangkit dan mengejar hampir saja aku dilecehkan olehnya. " Nih Abang kelas maunya apa sih?, kelakuannya jahat banget" gumamku sambil mempercepat lari.


Kebetulan di depan sana ada meja piket OSIS, jadi aku langsung kearah sana. Tidak ku duga ternyata Abang kelas kemarin ada disana bersama anggota OSIS yang lain.

__ADS_1


" Bang, bang! pliiss bang bantu aku ada anak kelas XI yang menggangu aku dia lagi mengejar ku." Pernyataan ku membuat mereka terkejut. " Siapa?, anak kelas XI yang mana ngejar Lo?." Aku langsung menunjukkan siswa yang lagi berlarian menuju tempat kami, kebetulan juga di meja piket cuma ada siswa cowok semua mungkin mereka bisa mengatasinya.


Hai teman-teman jangan lupa like dan komentarnya ya, ditunggu.


__ADS_2