Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
07. Gadis Baju Biru


__ADS_3

" Riska bangun!!, nanti nggak bisa dapetin bangku paling depan lho.." teriak Mama yang membangunkan aku.


Pagi yang cerah yang di awali dengan omelan Mama saat membangunkan ku.


Hari ini adalah hari pertama ku duduk di kelas 3 SMP.


Begitu aku sampai di sekolah, aku melihat papan mading agar aku tahu kelas mana yang akan yang akan ku tempati, dan ternyata aku sekelas lagi dengan dua sahabatku juga... Wahyu.


Bell masuk pun berbunyi, kami semua masuk kelas dan mendapati beberapa teman baru, pemilihan ketua di mulai.


Berdasarkan keahlian:


Ketua kelas: Nanda


Wakil : Wahyu


Sekretaris : Riska


Bendahara: Amanda


Dan kali ini aku menjadi sekretaris di kelas tiga.


Hari-hari berlalu dengan cepat, begitu tidak terasa olehku, entah kenapa aku merasa Wahyu sering kali membantuku.


Awalnya aku kira Wahyu hanya membantu sebagai seorang teman, namun aku salah.


Wahyu mengatakan perasaan yang ia pendam selama dua tahun ini.


" Jujur..gue suka sama lo, Riska..gue harap lo mau terima gue apa adanya, mau nggak Lo jadi pacar gue?" ungkapan hati Wahyu pada waktu itu.


Hal yang sangat mengejutkan yang aku alami untuk pertama kalinya, aku mengangguk setuju, di tambah lagi dua sahabat ku yang sedari tadi berteriak.


" Terima.! terima...!!." ucap mereka.


Begitu lah awal nya, aku menjalani hubungan dengan Wahyu.


Sebulan kemudian.


"Ris, nggak ke kantin?" tanya Mauliza pada ku.

__ADS_1


" Nggak dulu deh, entar aja, lagi tanggung nih tiga soal lagi."


" Kamu bisa tanya sama Wahyu, dia kan pinter!"


" Aku bukan tipe gitu za...! mentang-mentang pacar pinter, terus kita manfaatin dia."


" Memang iya sih!, aku juga nggak gitu sama Nanda, hihihi " jawab Mauliza sambil ketawa.


Aku melanjutkan tugasku, Mauliza pergi ke kantin bersama Nanda, sedangkan Azka di perpustakaan.


Wahyu berkali-kali mengajakku ke kantin, namun aku enggan ke kantin mengingat tugasku belum selesai, biasanya walaupun tugas belum selesai aku sudah ke kantin, namun kali ini tugas nya berbeda dari biasanya, tentu saja ini merupakan pelajaran kesukaan ku.


Suasana kelas sudah sunyi, aku duduk sendirian mengerjakan tugas, namun tampa aku sadari ada seseorang yang sedang berdiri di bangku paling belakang. Mata ku melirik ke belakang, sangat jelas terlihat seorang gadis dengan rambut panjang mengenakan dress berwarna biru, gadis itulah yang selama ini terus-menerus menemaniku.


Sekali lagi aku menoleh kebelakang, suhu di depan dan di belakang entah kenapa menurut ku sangatlah berbeda, seperti berada di tengah-tengah api dan es.


" D...dia..gadis waktu itu, kenapa dia ada di sini?, mau apa dia ?" dalam hati ku.


Hatiku terus bertanya-tanya siapa gadis itu?, ia menatap ku lalu tersenyum kecil, tubuh nya tidak bergerak seperti tidak bernafas.


Ternyata ada dua orang lagi di belakang nya, yang tiba-tiba muncul dengan seorang anak perempuan yang berusia sekitar sepuluh tahun.


Sungguh aku menjadi bingung dengan apa yang barusan ia katakan, lalu mereka itu pergi setelah gadis tersebut berkata seperti tadi meninggalkannya sendirian.


Tiba-tiba kepalaku mendadak menjadi pusing, pandangan mulai kabur, dan tiba-tiba saja aku berada di sebuah tempat yang sangat asing bagi ku.


" Dimana ini?"


" Hey..., tolong aku...!" terdengar suara gadis memanggil ku yang membuat aku menoleh ke arahnya, terlihat seorang gadis berambut pendek dengan baju se pinggang, mengenakan rok kotak-kotak selutut tengah berdiri di sana.



Gaya Gadis itu seperti seorang Mahasiswa asal Belanda yang bisa di sebut seorang anak dari pengusahaan, anehnya pipinya memar, bibirnya juga terluka membuat darah mengalir, sedangkan kakinya penuh dengan goresan bekas cakaran atau benda tajam.


"S..siapa kamu?"


" Kumohon tolong lah aku, balasan kan dendam ku" ujar gadis itu sambil menangis.


Aku bingung harus berbuat apa, sedangkan gadis itu terus memohon-mohon seraya yang membuat hati ku merasa iba. Kemudian aku bertanya pada gadis itu apa yang harus aku bantu dan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

__ADS_1


" Apa yang harus aku bantu?" tanya ku kepada gadis itu yang membuat dia menatap ku dengan tajam.


" Sebelum nya aku akan memperkenalkan nama ku dulu, aku Dylla, aku ingin kamu membongkar kesalahan papa ku yang telah membunuhku!"


" M..membunuh mu?" tanyaku ketakutan.


" Jadi kamu sudah mati?"


Gadis itu hanya mengangguk menandakan benar adanya dia itu telah mati, aku sempat merinding mendengarnya.


Aku menarik nafas dalam-dalam dan sesuatu berpikir di pikiranku.


" Bagaimana orang yang sudah mati ada disini?, bagaimana kalau ini cuma halusinasi ku saja, tapi nggak mungkin, jangan-jangan..!"


Tiba-tiba keringat dingin bercucuran di tubuhku, jantung ku berdetak dua kali lipat dari biasanya, perasaan takut mulai merasuki pikiranku.


Sekarang aku baru menyadari bahwa makhluk gaib itu benar-benar ada.


Aku tidak tahu harus berbuat apa, apakah aku harus membantu nya?, atau tidak, kalau harus bagaimana caranya?, aku mulai dilanda kebingungan. Terdengar dari arah belakang suara wanita yang beberapa tahun lalu yang yang sebelumnya muncul banyak sekali, makhluk itu mengelilingi kami. Aku tidak bisa menghitung karena jumlah mereka terlalu banyak sekali bahkan rupa mereka sangat mengerikan. Inilah pertama kalinya aku merasa takut pada mereka, padahal aku tidak percaya adanya mereka. Wanita itu berkata " Ini tugas pertama mu..."


"T..tugas pertama?, apa aku harus menerimanya?" batinku berkata. Diylla menatap ku yang sedari tadi terus diam.


" Apa kau ingin membantu ku?, kumohon...!" pinta nya.


Sekarang aku tidak punya pilihan lain, kemudian aku mengangguk dan terlihat senyum di wajah Dylla.


Tiba-tiba semua makhluk yang di sekeliling ku mulai mendekat membuat ku terperanjat.


" Berhenti kalian!, biar dia memilih satu saja." Gadis baju biru itu terus mengatakan hal seperti itu. Namun gadis baju biru itu sekarang sama seperti saat di kelas tadi, dia tersenyum menatapku.


Keadaan benar-benar sama seperti di kelas tadi, aku pusing dan pandanganku mulai buram, lalu aku memejamkan mata ku, karena menahan rasa pusing di kepala ku seraya memegang kepala.


Samar-samar aku mendengar suara Dylla yang terngiang-ngiang di kepalaku seperti bisikan halus.


" Aku tinggal di jalan melati perumahan nomor 9, rumah paling besar di sana, Papaku pengusaha kaya raya, sebaiknya kamu cepat bertindak, karena Papaku akan kembali ke Belanda minggu depan, aku akan ikut membantu mu juga, kumohon.. tolong bantu aku." Makin lama suara Dylla semakin jauh, seperti diterpa angin lalu.


Bersambung...


Hai teman-teman terimakasih atas dukungannya, jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian, dengan cara vote karya saya like dan komen.

__ADS_1


__ADS_2