Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
15. Bau Busuk


__ADS_3

Perjalan masih dilanjutkan, kami masih menikmati indahnya pemandangan gunung. Di tengah perjalanan, kami mendapati satu tempat peristirahatan yang di sampingnya terdapat kamar mandi, di tempat peristirahatan itu tertulis sebuah angka "17" kami berhenti sejenak dan aku juga memutuskan ke kamar mandi bersama dengan Azka, sedangkan Mauliza, Wahyu dan juga Nanda mereka masih duduk di tempat itu. Setelah selesai buang air kecil, tiba-tiba aku melihat sebuah cermin di pajang di sana, cermin itu tepat di dekat pintu masuk. Aku berkaca sejenak sambil menunggu Azka siap dari kamar mandi.


Pada saat aku sedang asyik berkaca tiba-tiba ada sesuatu bayangan lewat di depan cermin, awal nya aku tidak curiga dengan hal tersebut, namun bayangan itu lewat lagi yang membuat aku menoleh ke belakang, tapi aku tidak mendapatkan apa-apa di belakangku dan aku langsung berbalik melihat ke cermin itu, ternyata ada sesuatu lagi berdiri di belakangku pada saat aku melihat ke cermin kembali.


Suara detak jantungku sangat kencang, seperti mau meledak waktu aku melihat wajahnya sangat mengerikan dan mulutnya berlumuran darah, aku memberanikan diri untuk berbalik badan melihat ke belakang seraya menelan kelenjar Saliva. Begitu aku berbalik badan, bayangan itu berdiri tepat di depan ku membuat mataku melotot.


" Aaaaa!!!" aku berteriak membuat Mauliza, Wahyu, Nanda dan juga Azka mereka lari ke tempat aku berdiri.


" Riska?, kamu kenapa?" tanya Mauliza. " Kok teriak-teriak?, ada apa?, bikin panik tau..." ujar Wahyu. Mereka semua menatap ku yang mulai berkeringat dengan penuh tanda tanya, aku diam saja tidak mengeluarkan suara, Azka yang sudah selesai dari kamar mandi mengajak ku keluar dari sana, kemudian kami duduk ditempat itu. " Ris, nih kamu minum dulu" Azka menyodorkan sebotol air minum, lalu aku mengambilnya dan meminumnya. " Sekarang udah lega kan?, coba kamu ceritakan, tadi itu kenapa kamu berteriak?"


Aku menceritakan semuanya pada mereka, mendengar semua itu mereka pun jadi takut ke kamar mandi. Nanda mencari informasi tentang ini, walaupun tanpa sinyal Nanda berhasil menemukan informasi.


...----------------...


Kami melanjutkan perjalanan lagi, kaki terus melewati tempat yang sama namun dengan angka yang berbeda "18" "19" 20" 21".


" Sekarang gue ngerti, yang kita lewati dari tadi itu tuh, ternyata posko tapi anehnya yang pertama kita dapatin posko 17, bearti ada beberapa posko yang hilang sudah kita lewati" jelas Nanda. " Tapi kemana posko-posko yang beberapa kita salah jalur?, perasaan gue jalan yang kita tempuh itu benar deh!" sambung Wahyu. " Ada yang bilang posko-posko banyak yang sudah tidak layak di pakai lagi, makanya selama perjalanan yang pertama kita ketemu posko 17" ujar Nanda" Jadi ada beberapa posko lagi buat sampai ke gunung?" tanyaku penasaran.


" Posko-posko di gunung ini ada 35, yang sudah kita lewati baru 21 posko, jadi tinggal 14 posko lagi" ujar Nanda.


" Wiihhh, udah dekat t..." ucap Nanda kegirangan. " Bau apa ini?" tanyaku sesudah mendirikan tenda untuk bermalam. " Busuk banget nih bau, bau bangkai ya?" kata Mauliza. Malam itu ditengah hutan tercium bau sangat busuk lebih busuk dari yang pernah kami tercium, malam itu kami pun tidak bisa tidur karena bau tersebut. Aku, Mauliza dan juga Azka keluar dari tenda bersamaan mendapati Wahyu dan Nanda lagi duduk di dekat api unggun. " Kalian ada cium bau busuk nggak?" tanya Azka.

__ADS_1


" Ada, makanya kami keluar" jawab Wahyu. Untung saja aku membawa masker dari rumah untuk berjaga-jaga ada kabut yang tak boleh di hirup, namun terpakai untuk bau ini. Kami semua memakai masker dan langsung mencari sumber datangnya bau tersebut seraya membawa masing-masing satu lampu senter.


" Nan, loe lihat sesuatu nggak?" tanya Wahyu.


" Nggak, gue tidak dapat apa-apa " jawab Nanda.


Kami terus mencari asal bau tapi tak ketemu sumber baunya, pada saat kami sedang sibuk mencari sumber bau aku merasa seperti ada yang sedang memperhatikan kami namun tidak ada yang menghiraukannya dan kami terus melanjutkan pencarian.


" Aaiii.."tiba-tiba Azka berteriak membuat kami langsung lari kearahnya.


" Kenapa Azka?" tanyaku.


" Li...lihat itu" Azka menunjukkan sesuatu dengan senternya.


" M..mayat?!, mayat siapa nih?" ucap Mauliza dengan nada ketakutan. " Ris, kayaknya mayat itu seperti laki-laki yang pernah kamu ceritakan, baju yang dipakai sama persis seperti yang di foto" kata Wahyu. Begitu aku mendengar perkataan Wahyu, aku melihat ke sekeliling untuk memastikan apa laki-laki itu ada di sini atau tidak, Dan laki-laki itu menghilang membuatku yakin kalau jasad itu adalah jasad dia.


" Iya, ini nggak salah lagi, mayat itu tuh jasad laki-laki itu" ucapku.


" Semuanya!, hati-hati ada yang aneh di tempat ini!" Nanda memperingatkan kami semua untuk berhati-hati.


Kabut hitam mulai turun di mana-mana membuat pandangan kami buram, terdengar bisikan di telingaku untuk berjalan ke utara, ternyata yang lain mendapat bisikan ke arah yang berbeda-beda.

__ADS_1


" Semua..! kita bergerak ke timur!" Nanda mendengar ke timur.


" Barat..!, bukan ke timur!" sedangkan Azka ke barat.


" Kok beda-beda sih?" bukannya kita ke tenggara ya?" ujar Wahyu. " Karena kita berbeda-beda arah, mending jangan kemana-kemana ya!,, Riska, Mauliza, Wahyu, Azka kita semua jangan berpisah !, kita tetap pada tempat ini" usulan Nanda di setujui oleh kami dan kami semua tetap berkumpul di tengah-tengah.


Muncul satu sosok di dekat mayat itu, sosok hitam lekat bermata merah terang serasa ingin mengamuk menatap tajam ke arah kami.


" A..apaan tuh, kok ngeri ya?" ujar ku.


" Mirip di film horor.." Mauliza terbayang ke filmnya.


" Kita dalam keadaan horor loh, kok bahas-bahas film?" tegas Nanda. " Ah , iya ..tapi yang penting, gimana nih? sosok ini ngeri bangettt!"


Sosok tersebut mendekat, kami berlari ke arah utara secara bersamaan agar kami tidak terpisah. sosok itu pun terus mendekat dan terus mendekat, kami berlari semampu kami hingga mendapati sebuah rumah kosong. Kami masuk ke dalam rumah tersebut, aku menyender isi rumah hal mengejutkan terlihat, begitu banyak mayat tergeletak di sana bahkan kerangka yang mulai hancur. " Gimana nih..? k..kok kita malah kesini?" ujar ku. Kami kemudian langsung keluar dan bertemu sosok itu lagi, kali ini dia siap menyerang kami. Sosok itu menyemburkan asap bau pada teman-teman membuat mereka pingsan.


" Mampus deh, kayaknya yang bakalan jadi tumbal tuh aku deh.." batinku.


Badan ku gemetaran dan kaku, aku terus mundur, mundur dan mundur lagi namun tubuhku terhalang oleh pohon, ia langsung membuka mulutnya yang bertaring dan akan melompat padaku membuatku memejamkan mata. Aku tidak merasakan apa-apa terus memejamkan mata tak ingin membuka dan setelah beberapa lama tak terjadi apa-apa juga.


" Apa aku sudah mati?, tidak terasa apa-apa" gumam ku seraya menutup mata.

__ADS_1


Suasana sangat hening, aku mencoba membuka pelan-pelan mataku, aku melihat seorang kakek tua dan sosok hitam itu jatuh menjadi gumpalan kabut lalu sirna.


Terima kasih atas dukungan teman-teman semua jangan lupa untuk ikuti terus kelanjutannya ceritanya ya.


__ADS_2