Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
33. Mimpi Buruk


__ADS_3

Di kegelapan malam aku berjalan menyusuri hutan yang berbagai tumbuhan tumbuh di dalamnya, terlihat di sana sebuah batu yang cukup besar menutupi cahaya rembulan malam, terdengar di telingaku nyanyian merdu yang berasal dari balik batu raksasa itu. Wanita itu berparas sangat cantik apalagi disinari rembulan malam, ia menoleh padaku dan terlihat senyuman manis di bibirnya. Seorang laki-laki mendekati wanita itu, tiba-tiba laki-laki itu jatuh terkapar di tanah. Begitu halnya laki-laki yang datang setelah itu jatuh terkapar juga, hingga lima orang yang mengalami hal serupa.


"K-kenapa ini?," Aku bertanya sendiri. Wanita itu mengeluarkan air matanya dan menghilang di kegelapan malam. Aku pelan-pelan menghampiri lima laki-laki tadi berniat untuk memastikan apa yang sudah terjadi pada mereka. Betapa terkejutnya aku ketika menyentuh tubuh mereka, tubuhnya dingin seperti es ternyata mereka sudah tidak bernyawa lagi. Aku merasakan wanita tadi muncul lagi di belakangku, pelan-pelan aku membalikkan tubuhku, dan ....!


"Aaauu ....!," Aku berteriak sekuat tenaga, wajah cantik wanita itu berubah mengerikan , melepuk penuh dengan darah-darah, bau anyir darah pun mulai tercium. Dia mendekatiku, aku mulai mundur terus mendekat dan mendekat sampai wajah busuknya menempel di mukaku. " Auuu... minggir ...," Aku berteriak lagi sampai akhir aku terkejut, ternyata aku berada di dalam kamar. " Huff !!, ternyata aku bermimpi buruk, tapi perasaan seperti nyata," gumamku.


Aku mengusap wajahku yang berkeringat dengan kedua telapak tanganku tiba-tiba.


Deg !!


Wajah wanita itu tepat di depan wajahku, aku menjerit-jerit karena tidak biasanya setan yang aku lihat di depanku begitu seram dan menakutkan.


Tiba-Tiba Arian membuka pintu kamarku dan setan itu pun menghilang melihat pintu kamar terbuka. Arian yang melihat aku gemetar dengan nafas ngos-ngosan menghampiriku. " Lho, kenapa menjerit-jerit seperti melihat setan?," Tanya Arian yang duduk di dekatku. "Aku mimpi buruk, Bang ...!," Ujarku. "Oh ..., keluar yuk, Aprili nanyain kamu tuh di depan," Arian mengajakku untuk keluar kamar. "Iya, Bang bentar ya aku cuci muka dulu," Arian mengangguk dan keluar duluan. Aku kekamar mandi cuci muka dan langsung ke ruang tamu dimana Aprili sudah dari tadi datang ke rumahku.


...----------------...


Mauliza dan Azka mendekati mejaku pada waktu istirahat tiba, wajah mereka sangat serius memandangiku, aku sampai kebingungan dibuatnya.


" Kalian kenapa?" tanyaku.


" Riska kamu harus jelasin kepada kita, kenapa kamu sering absen dari sekolah. Dan satu lagi setiap kamu absen, ngak pernah kabarin kita," ujar Mauliza kesal.


" Benar tuh !, kita sahabatan Ris, harusnya kalau kamu tidak masuk sekolah karena sakit bilang dong sama kita agar ngak cemas memikirkan kamu," Terlihat Azka marah kepadaku.


"Sorry ya, aku benar-benar nggak sempat kasih tahu kalian, soalnya tubuhku terlalu lemas dan ngak sanggup ngapa-ngapain. Aku janji, lain kali kalau aku sakit pasti akan aku kabarin walupun lewat Arian," Permintaan maafku membuat mereka terharu.


" Permisi," Ditengah-tengah pembicaraan kami tiba-tiba seorang gadis dengan jepitan mini di poninya menyela pembicaraan kami.

__ADS_1


" Kak Rili?" Kenapa kesini?," tanyaku pada Aprili yang lagi berdiri di pintu kelas.


" Aku cuma mau ngasih surat ini ke kelas kalian, isinya surat Camping sekolah, Jangan lupa dibagiin ya. Cuma kamu yang sudah ada persetujuan dari orang tua karena duluan di beri tahu, sedangkan yang lain belum," Jelas Aprili.


"Camping?, pilih teman sendiri atau ditentuin Kak?," tanyaku seraya mengambil surat di tangan Aprili.


" Di tentuin, besok hasilnya akan keluar pada jam istirahat, pagi kertas ini harus kalian kumpulin semuanya, Arian yang minta," ujar Aprili.


"Oh ..., makasih Kakak, udah repot-repot nganterin biasanya aku yang di panggil sebagai ketua kelas," ujarku. "Duluan ya, Kakak harus ke lab dulu nih!," Aprili pamit pergi meninggalkan kami.


Mauliza menarik lembaran surat di tanganku lalu kemudian membacanya diikuti Azka yang mendongakkan kepalanya ke surat itu.


"Wih, camping lagi kita, Weh ...." ujar Azka kegirangan. "Kira-Kira bakalan di gunung mana, ya?" Tanya Mauliza. "Liat nih tulisan bagian bawah ..., gunung paling tinggi di kota Juang. Bakalan seru nih Ris!" Ujar Azka.


...----------------...


"Kamu sudah pernah pergi camping, ya?," tanya Arian dengan balasan anggukan kepala. "Wah-Wah kupikir adikku si penakut yang nggak berani naik gunung," Aku menoleh pada Arian yang mencoba memancingku.


"Itukan pas kita masih kecil, apalagi umurku baru 6 tahun, gimana berani coba?,"cetusku.


"Iya deh, iya ..., di gunung banyak misteri lho!," Arian mengingatkanku pada camping waktu SMP dulu.


"Tau, kok ...! nih liat potretku dulu waktu camping masa SMP di gunung," ujarku menampakkan potret dulu saat di gunung, namun saat itu penampakannya belum muncul.


"Pinjam hpmu sini, mau liat lebih," Aku membiarkan Arian menjelajahi galeri hp ku sedangkan aku sibuk dengan barang yang penuh di kamarku, hingga pada akhirnya mata Arian tertuju pada tiga lembar potretku yang bersama dengan teman-temanku.


Kemudian Arian melihat potretku yang bersama dengan Wahyu. "Dek, ini siapa?" Arian melihat ada penampakan pada potret aku dan Wahyu.

__ADS_1


"Yang mana, Bang?, oo ... itu cuma mantan," ucapku pada Arian dengan entengnya. "Kalau yang dibelakang terus itu, roh penasaran yang mengikuti kami ," ujarku dengan santai.


"Mantan?."


"Ups ...!," Aku keceplosan, namun kata-kataku tidak bisa di tarik lagi, hanya diam saja.


"Kamu pernah pacaran?," tanya Arian.


"P- pernah, tapi sekarang aku tidak lagi sama dia," Aku jujur, memang aku tidak menceritakan kalau sekarang aku sudah punya pacar lagi, aku jujur tentang Wahyu bukan pacar sekarang, menurutku itu cukup untuk jawaban Arian.


"Kalian kenapa putus?," Ternyata Arian tidak berhenti sampai disitu saja, dia terus bertanya.


"Orang ketiga Bang, udahlah Bang dia itu masa laluku, jadi ngak usah di ingat-ingat lagi, sini hp ku Bang, biar aku hapus aja," tegasku.


...----------------...


Semua siswa SMA kota Juang sudah berkumpul di lapangan sekolah, terlihat di depan sudah berdiri kepala sekolah. Pengumuman akan segera di sampaikan oleh kepala sekolah dan masing-masing kelompok akan ada satu atau dua orang OSIS untuk menemani mereka.


"Baiklah, untuk kelompok pertama akan di pimpin oleh ketua OSIS, Arian Nafis Ramanda," ujar kepala sekolah sambil mencari keberadaan Arian.


"Saya pak!," Arian maju ke depan sekolah.


"Arian, kamu akan memimpin kelompok yang beranggotakan 'Riska Ariani dari kelas XMIPA, Mauliza Delani dari XIIPS, Kiram Anggara dari XI IPS, Aprili Safina dari XIMipa dan Vino Sahefal dari XII IPS."


"Baik pak!," Arian sedikit merasa malas karena Vino ikut terlibat dalam kelompoknya.


Bersambung ...!

__ADS_1


__ADS_2