
Kami berjalan menulusuri jalan perbukitan seraya menikmati pemandangan alam sekitar.
" Riska, Riska-Riska, lihat itu deh!, cantik banget....!" ujar Azka yang kegirangannya bukan main.
" Ah iya..! Yu....! kita foto yuk?" ujar ku mengajak Wahyu.
" Boleh tu, tapi jangan lama-lama ya..! nanti keburu siang" jawab Wahyu.
" Iya-Iya! sebentar doang kok!" tegas ku.
Setelah selesai menikmati pemotretan disana, kami pun melanjutkan perjalanan, waktu terus berjalan, matahari tepat berada di tengah-tengah kepala kami yang menandakan waktu sudah menunjukkan siang hari.
" Kita udah Sampek di ujung bukit nih..!, kita makan dulu yuk, laper nih..!" ujar Azka sambil memegang perutnya.
" Iya, nih...gue juga laper" ujar Wahyu lagi.
Akhirnya kami pun memutuskan untuk beristirahat dulu sambil makan siang di ujung bukit, secara kebetulan di ujung bukit itu terdapat sungai kecil, dan juga sebuah toilet umum yang sengaja disediakan untuk para pendaki yang akan mendaki gunung di depan sana.
" Riska, Azka..,pengin buang air kecil nih!, temenin yuk.." ucap Mauliza minta di temani ke toilet. " Kamu kan bisa sendiri Za..!, itu dekat kok...., jangan seperti anak kecil" kata Azka.
" Pliiss..., temenin..!!!" mohon Mauliza.
" Ya udah, biar kita temanin aja yuk" ucap ku p!ada Azka membuat Azka mengangguk.
Mauliza masuk ke toilet, sedangkan aku dan Azka menunggu di depan pintu seperti pengawal yang menjaga putri raja. Tapi, tiba-tiba Azka ingin melihat-lihat sungai kecil yang ada di dekat peristirahatan kami yang membuat ku sendirian menunggu Mauliza.
Aku merasa ada aura yang sedikit berbeda di daerah ini, tiba-tiba saja aku melihat ada seorang laki-laki yang berdiri di balik pohon yang tidak jauh dari tempat aku berdiri.
Laki-Laki itu memakai baju pendaki lengkap dengan tas camping, namun tatapannya sedikit aneh, laki-laki itu sepertinya tidak mengizinkanku untuk terus mendaki, tapi aku tidak menghiraukannya karna bagi ku nanggung sekali semua sudah di tengah jalan.
" Ris..!, Riska, kamu lihat apa?, kenapa kamu lihatin pohon itu?" tanya Azka membuat ku kanget.
" Ya lihat orang lah, nggak liat kalian itu ada orang berdiri di sa - na" sambil menunjuk ke arah pohon tadi. Aku melihat kembali ke arah pohon itu, namun tak ada seorang pun yang berdiri di sana membuat kedua temanku kebingungan jadinya.
__ADS_1
" Mana Ris?, kata kamu ada orang?, mana orang nya?"
" Tadi ada kok, sumpah aku nggak bohong, tapi kemana ya..?" aku juga merasa bingung sendiri.
" Halu...kali si Riska ni, alah..udah yuk kita balik aja" ajak Azka. Setelah rasa capeknya hilang, kami pun melanjutkan perjalanan lagi, sekarang tibalah kami di kaki gunung yang hendak kami daki.
Laki-laki itu sepertinya mengikuti ku dari belakang, laki-laki itu sepertinya ada di mana-mana, namun aku tidak menghiraukan nya, karena aku tidak berniat untuk berhenti lagi supaya cepat-cepat sampai ke puncak gunung.
" Woi..!, sudah sampai mana kita?" tanya Nanda.
" Perkiraan gue sih, kita baru mendaki sekitar sepuluh kilo meter, kalau nggak salah...!" ujar Wahyu. Kami berjalan seraya berbicara berbagai topik agar kami tidak merasa bosan, tapi berbeda dengan Mauliza, dia asyik melihat ponselnya dengan wajah yang serius membuat kami merasa bingung.
" Kenapa kamu Za..?, kok serius amat lihat hp nya?" tanya ku penasaran.
" Coba deh kalian lihat ini" ujar Mauliza mengajukan ponselnya pada kami. Mauliza memperlihatkan foto nya yang tadi pagi, ada beberapa keanehan di foto itu, nampak ada orang yang berdiri tidak jauh dari Mauliza di belakang nya. " ini bukan nya laki-laki yang tadi aku lihat waktu di toilet ya?" gumamku.
" Hah?, kamu lihat apa memang nya di toilet?" tanya Azka.
" Ada kok, yang tadi aku bilang pada kalian waktu di toilet itu, aku melihat ada sosok laki-laki yang berdiri di pohon sana, tapi kalian bilang aku halusinasi saja" jelas ku.
" Ya sudah..!, tidak usah di pikirkan, ayo kita lanjut jalan lagi" ucap Nanda.
Saat kami berjalan aku terus menerus memikirkan siapa orang tadi yang ada di toilet, di foto Mauliza dan yang terus mengikuti kami. Hari semakin gelap, kami memutuskan untuk memasang kembali tenda untuk malam ini, setelah tenda terpasang kami mencari kayu bakar sebelum gelap tiba.
" Wahyu, lie ikut gue ya!, Mauliza, Azka dan Riska kalian bertiga cari kayu bakar, biar gue sama Wahyu yang menyiapkan makanan" ujar Nanda.
" Enakan kalian nggak sih?, " komen Azka.
" Ya udah, kalau begitu kalian aja yang nangkap ikan, cari buah, dan satu lagi pasang tenda. "Azka.., udah lah biarin aja mereka, emang kamu kita yang pasang tenda" rayu ku kepada Azka. " Oke lah, kami yang cari kayu bakar, yuk Riska, Mauliza" ajak Azka. Kami bertiga mulai mencari kayu bakar, kami berusaha tetap bersama agar tak terpisah.
" Za, disini jangan lewat..!" kata Azka saat mengumpulkan kayu bakar.
" Iya-Iya" jawab Mauliza.
__ADS_1
Saat mereka sibuk mengumpulkan kayu bakar, aku memfokuskan pandangan ku pada laki-laki yang terus mengikuti kami dan aku memberanikan untuk bertanya.
" A-apa mau mu?, tanyaku pada laki-laki itu. " Kau benar-benar bisa melihat ku?" pertanyaannya membuat aku jadi bingung.
" Apa maksudmu?, tentu aku bisa melihat mu, mataku masih bagus."
" Aku ini sudah mati!, ucap laki-laki itu membuat ku sangat terkejut. " Apa aku sudah mati?, bagaimana bisa?, apakah sama seperti Dylla?" gumamku.
" Sebaiknya kalian jangan mendaki gunung ini, gunung ini penuh dengan misteri dan menakutkan, bahkan mayat ku juga belum ditemukan, setiap setahun sekali gunung ini menginginkan tumbal, giliran ku di tahun kemarin, kini.. giliran kalian, salah satu dari kalian akan mati" jelasnya.
" Masa sih?, nggak percaya aku." Tiba-Tiba laki-laki itu mendekat dengan cara transparan membuat aku terkejut karna tembus di tubuhku. " Apakah kamu percaya sekarang?" tanya dia membuat ku mengangguk.
" Tapi..d..dimana jasad mu?"
" Entahlah, aku tidak tahu, mengapa kamu bertanya itu?"
" Mungkin siapa tahu aku bisa membantu mu."
" Riska!, panggil Mauliza.
" Ah, iya.., aku otw dulu ya"
" Kamu bicara sama siapa Ris?" tanya Azka.
" Em.. nggak ada.., tadi cuma ngetes suara aja.., soalnya suara ku tadi agak serak gitu" alasan ku.
" Ah, yang betul aja kamu Ris?, aku lihat tadi kamu seperti ngomong sama seseorang gitu."
" Nggak ada kok, mungkin itu perasaan mu kali."
" Ris..., kita balik yuk, kayunya sudah terkumpul ni..!" teriak Mauliza.
" Udah, kita balik" mengalihkan pembicaraan ku. Kami kembali ke tempat dimana didirikan tenda, dan kami pun menyiapkan makan malam, dan besok kami akan melanjutkan perjalanan lagi, hingga sampai puncak gunung.
__ADS_1
Terima kasih kepada teman-teman semua jangan telah memberikan dukungannya kepada karyaku, dan jangan pernah bosan-bosan like dan komen satu lagi vote karya saya.