Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
11. Hati Dylla Luluh


__ADS_3

Mendengar permohonan Pamannya, Cathrin juga ikut merasakan bahwa perkataan Pamannya itu benar dan ingin segera mengatakan suatu bujukan namun, belum sempat ia membujuk kakaknya, sudah terlebih dulu Pamannya membujuk Dylla.


" Dylla, Paman mohon!, cepat lepaskan Papa mu, Paman janji akan memenjarakan Papamu begitu kamu melepaskannya" bujuk Paman dengan hati-hati.


Keadaan semakin gawat, Mr. Erick semakin sekarat, mulailah Cathrin mencoba membujuk Dylla, setelah puluhan kali Pamannya membujuk namun tidak berhasil.


" Kakak!, dia juga papa kita!, apakah kakak tidak ingat tentang segala hal yang pernah kita lewati semasa kita masih kecil?"


Perkataan Cathrin hampir saja meluluhkan hati Dylla, namun kali ini pandangannya terarah pada pisau 🔪🔪 di meja makan, Dylla kembali mengamuk karena kenangan buruk kembali datang padanya.


" Dylla..!!, hiks...hiks...!" suara Madam dengan tangisannya.


" Tolong hentikan sayang!, mama mohon...kamu tenanglah disana..." ujar Madam Greta sambil menangis tersedu-sedu air mata.


" Kakak..., coba Kakak ingat kembali kenangan kita sekeluarga dulu, kita keluarga yang damai, akur dan juga tentram, bukankah papa akan dihukum mati dipenjara karena perbuatannya yang bekerja sama di pasar gelap dan memodifikasi segala sesuatu untuk tetap tinggal di negara ini sampai Papa mendapatkan apa maunya, bahkan juga tega menyiksa kakak, ku mohon kakak tenang di alam sana, aku janji kak ..akan menjaga mama saat kakak pergi, aku yakin di lubuk hati kakak masih terpendam rasa kasih sayang, kumohon..!, pergilah kak, yang tenang kakak disana."

__ADS_1


Tiba-tiba mataku mengeluarkan air mata dengan sendirinya, aku seperti ikut merasakan perasaan yang teramat sakit pada Dylla. " Dylla, mama juga akan menjaga Cathrin, kami akan saling menjaga kamu tidak usah khawatir tentang kami disini, kamu juga pasti lelah, istirahatlah kamu yang tenang di sana, Dylla..." ujar Madam Greta dengan berlumuran air mata.


Mr. Erick terlepas jatuh lalu pingsan, dengan segera paman Dylla menuju ke Mr. Erick.


Tubuhku terasa sangat berat dan antara sadar dan tidak sadar, aku merasa ada sesuatu yang keluar dari tubuh ku, pandanganku menjadi buram dan kepala ku terasa pusing, aku langsung terjatuh di atas rumput dan samar-samar aku melihat Dylla sedang bicara dengan Cathrin dan juga Madam Greta. " Dylla?!, sayang...,kamu keluar dari tubuhnya?"


" Kakak...,apakah kamu benar-benar akan pergi?, aku hanya bercanda tadi...ku mohon jangan pergi kak!" Dylla tersenyum lalu memeluk mereka, aku tidak tahu apa yang mereka rasakan di peluk oleh roh yang samar-samar.


" Tidak apa-apa.., aku akan pergi!, tepati lah janji kalian, aku akan tenang di sana, selama kalian menepati janji..!" ujar Dylla. Kemudian Dylla samar-samar menghilang lagi, Madam Greta berteriak histeris memanggil nama Dylla seraya mengeluarkan air mata, seketika itu pandanganku menjadi gelap, selanjutnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya. Aku terbangun disebuah kamar, terlihat beberapa bingkai foto yang terpajang di dinding, di sana terdapat Dylla di dalam nya lalu sebuah foto keluarga terdiri dari empat orang. " Kamu sudah sadar?" tanya Cathrin.


" Aku membawa air hangat untuk mu" ujar Cathrin lagi.


" Kami yang membawamu kesini, tadi kamu tidak sadarkan diri dan ini kamar milik kakakku, Dylla..." jelas Cathrin. " Kamar Dylla?, pantas saja, oh iya Azka, Mauliza hampir aku lupa dengan mereka" batinku.


" Riska, terimakasih ya ..!, kamu sudah membantu kami!" ujar Cathrin. Lalu tiba-tiba air mata keluar dari matanya. "Cathrin?, tolong jangan menangis..., aku minta maaf, aku harus pergi sekarang, bentar lagi teman-temanku akan datang menjemput ku, aku menyuruh mereka menunggu di jalan kota" ujarku.

__ADS_1


" Kamu akan pergi?, kenapa harus seperti itu, padahal aku ingin kamu tidur disini malam ini. Aku beranjak dari ranjang, kami kemudian keluar rumah tempat dimana keadaan tadi berlangsung. " Apa yang terjadi denganku tadi?" batinku.


Dari jauh aku melihat Azka dan Mauliza juga Nanda dan Wahyu di ujung jalan membuatku pamit pada mereka. " Madam, Cathrin...aku pamit pulang ya.."


" Riska, sekali lagi kami berterima kasih padamu, sejujurnya besok kami akan segera pindah dari sini, karena rumah ini sudah bukan milik kami lagi, kamu juga tahu kan?, kalau kami keluarga Belanda tidak bisa berkuasa di negeri ini, suamiku memang asli Belanda, jadi ia memang sudah tidak punya wewenang lagi di negara ini, walaupun aku pribumi , rumah ini hasil dari pekerjaan suamiku " ujar Madam Greta.


" Apa?.., kemana kalian akan pindah?"


" Kami belum tahu, tapi ..Riska ini nomorku, mungkin kamu akan memerlukan ku" ujar Cathrin. " Terima kasih dan sampai jumpa, aku harap kita akan dipertemukan lagi."


Mereka tersenyum lalu kemudian aku pergi menuju pada teman-teman ku, Azka juga Mauliza dan Nanda serta Wahyu. " Riska!!" panggil Azka.


Aku berlari ke arah mereka sambil tersenyum, kami kemudian masuk ke mobil dan akan berangkat ke rumahku.


" Lama banget, sih.." ujar Mauliza padaku.

__ADS_1


" Hehehe maaf, tadi ada masalah sedikit.., udahlah, mendingan kita bahas tentang camping aja"


Terima kasih atas dukungan teman-teman semua jangan lupa like dan komen..


__ADS_2