
"Happy birthday Nadia!."
"Oke, sekarang beralih ke acara pemotongan kue, untuk Tante Azka dan om Rama di persilahkan," ujar Arletta. Rama dan Azka segera merapat mendampingi putri mereka.
"Potong kuenya!, potong kuenya," semuanya bersorak gembira. Nadia menatap kedua orang tuanya sambil tersenyum gembira. Tangan Azka dan Rama kini mereka memegang Nadia dan kemudian pelan-pelan memotong kuenya.
Begitu kuenya terpotong suapan yang pertama sekali buat kedua orang tuanya, dan selanjutnya Nadia menyuapi Kevin yang merupakan pacar dari Nadia, tidak lupa pula Nadia menyuapi teman-teman dekatnya.
"Stop-stop, gue sudah kenyang," ucap Nadia ketika Arga akan menyuapi kuenya lagi pada Nadia.
Arletta duduk di taman seraya menatap Rafael di tengah pesta ulang tahun Nadia, lalu Arletta melangkah pergi menuju ke tempat Rafael.
"Sorry ya, gue ke asyikan tadi."
"Ngak papa kok, lagian Lo itu kan masih hidup, ya wajarlah Lo bersenang-senang bersama mereka." Rafael tersenyum hambar.
Arletta membuka satu kotak yang di bawanya tadi, isinya adalah potongan kue yang ia dapatkan dari pesta Nadia. "El, Lo bisa makan keu ngak?," Tanya Arletta. "Bisa sih kayaknya, dulu gue pernah coba makan kue, eh! ternyata kue itu bisa masuk ke mulut gue," ujar Rafael. "Aneh kan?," Ujar Rafael lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu nih, buka mulut Lo," ucap Arletta seraya tersenyum dan mengangkat sendok berisi kue. Rafael terkejut, baru kali ini ia di siapin cewek selain mendiang ibunya dulu.
Rafael kini bisa merasakan bagaimana rasanya bahagia lagi di mana semua orang tidak dapat melihatnya. Semenjak ia di nyatakan meninggal ia cukup kesepian, tidak ada orang yang bisa melihatnya, apa pun yang terjadi ia hanya bisa menyaksikan saja.
"Lo, sering-sering ke rumah gue ya?," Rafael tiba-tiba mengatakan perkataan itu, Arletta langsung menyerngitkan keningnya. "Gue maunya sih gitu, tapi ... sepertinya susah deh," ujar Arletta. "Susah?, kalau begitu geu aja yang ke rumah Lo." Perkataan Rafael membuat Arletta terkejut. "Eh??, s-sorry El, mama gue indigo!." Kali ini ucapan Arletta membuat Rafael turut terkejut, baru kali ini ia mendengar ibu dan anak yang sama-sama indigo.
"Jangan bilang kalian satu keluarga indigo."
"Kagak juga lah, cuma gue sama mamaku aja kok, tapi om sama sepupu gue indigo juga," Ucap Arletta sambil tersenyum. "Hah!!," Rafael terkejut.
"Nad, masih ada kue ngak?," Tanya Arga.
"Lo malah minta kue jam sekarang, Napa ngak dari tadi coba?, ada tuh di dapur di dalam kulkas," jawab Nadia. "Aaa...macih... betplen," olok Arga versi berterima kasih lalu segera pergi ke dapur.
"Si Arga kenapa kayak gitu dah?, keluar tuh versi feminimnya, hahaha." Arletta terkekeh diikuti Nadia yang tertawa kecil. "Ngak tahu dah, Arga depan pasukan sama temen yang lain aja cool sifatnya," tambah Nadia. Tiba-tiba Nanda, papanya dari Arga mendekati kedua gadis itu yang lagi asyik-asyiknya tertawa-tawa. "Sepertinya seru nih!," Mendengar perkataan itu Arletta dan Nadia membalikkan tubuhnya. "Eh, Om, Tante, ada apa ya?," Arletta masih memasang wajah tersenyum. "Lihat Arga ngak?, dari tadi dia ngilang terus." "Arga lagi nyari kue di dapur om, sepertinya Arga laper barusan dia minta kue lagi pada saya om," jawab Nadia.
"Begini Nadia, om dan Tante rencananya mau pulang, cuma om mau tanyain aja apa dia pulang sekarang bareng kami atau pulang sendiri, takutnya dia ngambek tuh!."
__ADS_1
"Kalau begitu om ke dapur aja, sepertinya dia masih di dapur," ujar Arletta.
Nanda berjalan memasuki kedalam rumah dan langsung menuju ke dapur tempat di mana Arga berada, saat itu Arga lagi asyik-asyiknya makan kue di meja makan.
"Ekhem!," Nanda berdehem. "Eh, ada Papa, kenapa Pa?," Tanya Arga.
"Papa mau pulang, kamu gimana?."
"Oh, ya udah Papa pulang aja." Arga begitu asyik memakan kuenya. Nanda menjewer telinga Arga. "Oh..., gitu ya cara ngomong ke orang tua?, Kalau Mama pasti sudah di tompol kamunya," ujar Nanda. Arga sedikit merasa kesakitan.
"Aduh, Pa..., kupingnya Arga sakit nih!," Nanda segera melepaskan tangannya. "Jadi, kamu mau pulang ngak?, atau kamu itu mau tidur di markas?." Arga berpikir sejenak. " Ngak deh Pa, Arga tidur di markas aja malam ini."
Tiba-tiba gelas yang ada di atas meja terjatuh sendiri tanpa ada yang menjatuhkan.
Pring..! Gelas jatuh berhamburan. Arga tersentak bersama dengan Papanya. Pada saat itu Nanda sepertinya sudah mengerti hal seperti itu karena sudah lama berteman dengan Riska, Nanda menyimpulkan bahwa itu ada makhluk tak kasat mata di antara mereka.
Tanpa mereka sadari juga, makhluk tak kasat mata itu adalah Rafael yang mengikuti Arga dari tadi. "Arga, cepat bawa piringnya kita pergi dari sini," Nanda menarik tangan anaknya keluar dari dapur, hal tersebut membuat Arga kebingungan. "Lho, Pa... kenapa ini?, ada apa sebenarnya," ngoceh Arga. "Ikut aja, atau kamu bakal nyesel nanti," Arga segera beranjak dan membawa piring berisi kue di tangannya. Sebelum pergi Nanda sempat mengatakan sesuatu. "Jangan ganggu kamu, siapa pun kamu itu." Rafael hanya bisa diam mendengar perkataan itu.
__ADS_1