
Sekarang Arian pergi dan pulang sekolah menggunakan mobil Avanza white pemberian papa. Setiap pagi aku berangkat bersama Arian tidak lupa juga kami menjemput Aprili, terkadang aku kesal sendiri seperti nyamuk diantara mereka berdua.
" Bang, aku duluan, ya" ujarku. Bang Arian mengangguk kepalanya. Aku langsung menuju kelas, tiba-tiba aku sangat kanget, A-apaan itu, batinku. Aku melihat sosok bayangan hitam dengan bola mata merah yang menyala, lalu aku duduk di bangku berkonsentrasi untuk mengontrol mata batinku seperti yang telah diajarin oleh Arian. Ia tahu banyak tentang alam lain karena dulu mendiang kakek telah mengajari banyak hal padanya sehingga Arian lebih mudah mengontrol mata batinnya. Kelas masih terlihat sepi hanya Azka yang ada di sana, aku mulai menutup mataku dan membaca mantra ternyata aku berhasil melakukannya dan aku melihat dunia yang begitu gelap, Ayu ada di sana terlihat ada sebuah danau yang begitu indah. Di kenyataan, ini sangatlah buruk dan bayangan di pojok kelas ada disana, ia mendekat dan terus mendekat lalu tangannya menjulur akan menyentuh rambutku aku langsung berteriak.
Bug ...!, suara benturan lututku di meja. " Aaauu ...," Teriakku melihat begitu banyak tangan di kakiku, Azka langsung berlari menuju mejaku untung saja siswa yang lain belum pada masuk kelas.
" Riska!, kamu kenapa?" tanya Azka sambil tangannya memegang pundak ku. " Azka, banyak tangan di kakiku. Tolong aku, plis tolong tarik aku!, cepetan Azka ...." Aku meronta-ronta meminta bantuan Azka. " Tangannya sudah sampai ke lutut, cepat Azka ...." Azka yang masih bingung dengan permintaanku langsung menarik tubuhku ke luar dari kelas. Akhirnya aku terlepas dari tangan itu, aku terduduk dan sangat-sangat syok. Azka yang melihat itu langsung mencoba menenangkan aku.
" Azka, aku takut masuk kelas lagi, mendingan kita tunggu yang lain dulu ya," ucapku pada Azka.
" Lho, kenapa takut?" Tiba-Tiba Pak Anwar datang mengaketkanku. " N-ngak kok, Pak nggak ada papa ," Aku coba menyembunyikan dari pak Anwar.
" Jadi, kenapa takut?, tanya Pak Anwar. " Em ..., tadi kita lagi cerita takut kalau terlambat masuk kelas pak," alasan Azka mengalihkan pembicaraan. " Benar tuh Pak," Sambung aku memastikan lagi.
Pak Anwar menggeleng-gelengkan kepala setelah itu berlalu dari kami menuju tingkat dua, akhirnya kami pun menghela nafas lega.
" Tuh guru meresahkan banget ...," gumam Azka. Tanpa aku sadari ternyata bayangan itu masih mengikuti kemana pun aku pergi, aku sangat khawatir dengan bayangan itu.
__ADS_1
Pada ketika bell pulang sekolah sudah berbunyi, aku buru-buru menuju ke mobil yang terparkir di halaman luar sekolah. Setelah aku memasuki mobil bayangan hitam itu terus menerus memukuli pintu gerbang sekolah, sepertinya dia meminta seseorang untuk membukakannya padahal gerbang saat itu terlihat jelas masih terbuka lebar untuk siswa pulang. Arian pun masuk ke mobil di susul Aprili dari belakang, mereka kaget melihatku sudah berada dalam mobil.
" Lho, kok cepat banget hari ini, tumben biasanya kami yang menunggumu?" ujar Arian.
" Lagi pingin cepat pulang, Bang!" Mataku masih melihat bayangan hitam itu.
" Ah, iya ..., kamu lihat ngak di gerbang ada bayangan gitu?" ujar Arian lagi. " Liat, Bang bayangan itu pernah terlintas di UKS pada waktu itu. Nah sekarang dia ngikutin aku, ngapain coba?" Ungkapanku membuat Aprili jadi merinding. Tak lama kemudian mobil pun melaju pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung memasuki kamar dan mencoba untuk mengetes lagi cara mengontrol mata batin. Kali ini aku tidak melihat yang aneh-aneh, melainkan hanya Ayu yang berada disana, tapi ada beberapa isi pikiran disana. Ayu mengatakan kalau itu semua isi pikiran orang terdekatku, ada juga dari orang yang membenciku. Aku merasakan isi pikiran Tante Mira yang sedang melakukan ritual aneh untuk orang lain, kali ini Tante Mira tujuan bukan untuk kami, Pikiran Vino, ternyata dia sangat membenci pada Arian. Tiba-tiba ritualku pecah dengan mendengar suara ketukan pintu dari luar, ternyata Arian yang masuk, ada kesempatan bagiku untuk mengatakan semua yang aku alami tadi di sekolah.
Arian mengatakan kalau itu semua adalah roh yang ingin meminta bantuan padaku.
...---------------...
Jam istirahat pun tiba, Semua murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing, kecuali aku dan Azka. Gangguan dari bayangan itu semakin parah, jeut ka aku berjalan lambat, bayangan itu akan cepat, bila aku berjalan cepat bayangan itu akan lambat. Kebetulan pak Anwar masih di dalam ruangan kelas dan menatapku, lalu dia sengaja memintaku untuk mengambil kursi.
" Riska, tolong kamu ambil kursi kosong di pojok sana. Bapak mau taruh monitor di sana!" Permintaan pak Anwar bikin aku menelan saliva.
" Gimana nih ...,"gumamku sambil beranjak bangun dari tempat dudukku. Aku berjalan pelan ke arah pojok, bayangan itu siap mengeluarkan tangan-tangannya yang banyak.
__ADS_1
" Riska, jangan lambat cepetan, waktu terus berjalan nih!" tegas Pak Anwar.
" I-Iya Pak," Jarakku dan bayangan itu tinggal 3 meter lagi, rasanya sangat berat untuk melangkah terus ke depan.
" Permisi," Terdengar suara yang tidak asing di depan pintu kelas. Aku langsung menoleh ke arah suara itu.
" Arian?, ada apa kamu kemari?" tanya pak Anwar ke pada siswa yang berdiri di depan pintu kelas.
" Di kelas ini apa ada yang namanya Riska Ariani?" tanya Arian dan aku langsung saja menghampirinya. " Ada, Aku," ucapku dengan perasaan lega.
" Ada keperluan dengan Riska," tanya pak Anwar. " Kepala sekolah meminta saya untuk memanggil Riska ke ruang kantor," jelas Arian.
Akhirnya kami pergi melewati koridor, ternyata bayangan itu masih saja mengikuti aku di belakang, aku mempercepat melangkah.
" Kenapa jalannya cepat," tanya Arian. " Tuh, dibelakang," ucapku. Arian melihat kebelakang ternyata bayangan hitam itu. " Kita berhenti dulu," ujar Arian membuat aku jadi bingung. " Kenapa?, lihat bang bayangan itu makin mendekat," protesku pada Arian. " Udah, kamu diam saja biar Abang yang urus." Bayangan itu pun sampai di depan kami, dia mengulurkan tangannya.
" Nah, sekarang dia sudah dekat, coba kamu pegang salah satu tangannya. Tapi hati-hati aja, bisa-bisa kamu di bawa ke alam lain," ujar Arian. Aku melakukan apa yang bang Arian katakan, ternyata aku berhasil memegang salah satu tangannya dan mendadak bayangan itu menghilang.
__ADS_1
" lho, kok hilang Bang?" ucapku. " Nanti kamu bisa tes mata batin di rumah, dia datang lagi nanti, papa yang kasih tahu Abang semalam. Udahlah, yuk cepetan ke ruang kepala sekolah," ujar Arian yang tiba-tiba menarik tanganku." Eh, aku pikir tadi Abang boong pasal aku di panggil ke kantor!," Ujarku sambil melangkah setengah berlari.