Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
38. Nyanyian Bersama Kiram


__ADS_3

"Duh, ngak sampe lagi ..,” aku terus meloncat hingga tanganku hampir menyentuh buah mangga matang yang tergantung di atas pohon,” ih .. plis dikit lagi. Tiba-tiba ada tangan yang mengambil buah tersebut lalu memberikannya padaku. "Kiram?” ucapku. “Makanya tumbuh tuh ke atas …” Pancingnya. “Abang kan cowok, wajarlah, sedangkan aku cewek rata-rata cewek tingginya memang begini,” Ucapku. Kiram hanya terbelalak saja melihatku mengoceh.


“Iya deh, iya,” Ucapnya. Aku mendadak menyadari sesuatu, sedang apa Kiram disini?, harusnya dia bersama Arian mengurus tugas yang di berikan oleh Buk Siti.


“Ngomong-ngomong, Bang Kiram ngapain disini?” tanyaku. “Dikasih tugas!” Aku bengong di buatnya. “Tugas apa?” tanyaku lagi. “Bang Arian suruh jagain kamu, katanya akhir-akhir ini kamu selalu jalan sama cowok, apalagi sama anak SMA jaya bangsa”Ujarnya membuatku terkejut, sudut pandangku pada kKiram menunjukkan kalau ia sedang serius aku menelan saliva.


“Apa-apaan tuh, abang Arian suruh Kiram jadi bodyguard, bener-bener deh" batinku sambil memijit keningku.


"Selamat sore anak-anak SMA kota Juang juga SMA jaya bangsa, saya harap kalian semua berkumpul ke tengah-tengah," Suara kepala sekolah menggema dengan suara mikrofon yang cukup nyaring.


Kami semua berkumpul ke tengah-tengah, ternyata pengumuman yang disampaikan Kiram tadi benar-benar ada, dan sekarang di sampaikan lagi oleh kepala sekolah.


"Untuk yang memainkan gitar dari SMA kota Juang, yaitu seluruh anggota OSIS. Kemudian dari kelas X ada Ramadhan, XII Vino Sahefal, X Nanda Fredyan, Syahril," Sampai nama Rajif pun disebutkan dalam pengumuman tersebut sampai akhirnya pengumuman pun selesai.


"Riska Ariani, silahkan mulai," Suara Buk Siti berhasil membuat jantungku berdetak kencang, aku yang duduk dekat gitaris berjumlah satu teman gitar Kiram. Secara kebetulan hasil undian yang keluar namanya, dialah yang menjadi pasangan bernyanyi dan siswa lain begitu juga.


"Lagu apa ?"Tanya Kiram padaku yang masih bingung memikirkan liriknya. Semua siswa menatap kami menunggu sebuah lagu dinyanyikan.


Renza tiba-tiba muncul dan memberi ide, kalau lagu yang sering kami nyanyikan untuk di nyanyikan saat itu. "Demon," Ucapku singkat. Kebanyakan dari siswa-siswi bingung dengan judul lagu yang aku ucapkan itu, namun Kiram langsung memetik gitar seolah-olah tahu, dan benar saja kalau ia tahu musik liriknya dan lagu terus berjalan sampai ke lirik yang Kiram ikut bernyanyi.


When the curtain's call


It's the last of all


When the lights fade out


All the sinners crawl


So they dug your grave


And the masquerade


Will come calling out


At the mess you've made


Don't wanna let you down

__ADS_1


But I am hell bound


Though this is all for you


Don't wanna hide the truth


Nyanyian kami nampak begitu kompak membuat semua siswa terhibur dan bersorak-sorai gembira hingga lagunya selesai dan aku langsung kembali ketempat sebelumnya.


"Riska!, kamu keren deh!" Azka langsung menghampiriku. tidak lama kemudian, aku merasa haus dan ingin mengambil air minum di dalam tenda yang tidak jauh dari tempat berkumpul. Lagi-lagi aku melihat sosok roh penasaran yang mengikuti aku dari belakang.


"Kenapa lagi sih?" Gumamku seraya menoleh ke belakang. Roh itu tidak merespon sedikit pun, aku terus berjalan hingga sampai ke tenda. Vino duduk di depan tenda miliknya, aku kaget di buatnya melihat dia termenung saja.


"Ngapain, Bang?," Vino melihat ke arahku dengan wajah datar.


"Meratapi nasib," Jawabnya singkat. "Oh, galau ya!" Gumamku lalu aku berlalu dari hadapannya.


...----------------...


Pagi hari aku dikejutkan oleh Rama dan Ihsan yang berlarian ke belakang tenda seperti orang dikejar-kejar.


"Kalian kenapa?"Tanya Azka.


Tiba-Tiba Pak Suwarman kepala sekolah SMA kota Juang menghampiri kami sambil memegang gunting di tangannya, kamu semakin penasaran apa yang terjadi pada mereka.


"Ada yang lihat Ramadhan sama Ihsan Putera kelas X?" Tanya pak Suwarman.


"Di sana Pak," Ucap Vino santai sambil menunjuk arah tangannya ke belakang tenda. Pak Suwarman langsung memegang keduanya kerah baju mereka dan langsung menarik dari tempat persembunyian.


"Ampun Pak!, plis Pak, jangan potong rambut saya," Ucap Rama.


"Plis Pak!, Kita minta maaf," Rama dan Ihsan terus saja memohon pada Pak Suwarman, Namun sayang Pak Suwarman tidak menghiraukan mereka dan Pak Suwarman memegang mereka semakin kuat.


"Kalian harus tanggung jawab, semua balon di tengah gunung kalian ledakkan, kalian berani berbuat, harus berani bertanggung jawab!" Tegas Pak Suwarman.


"Plis pak!, jangan gunting rambut kami, nanti kami tidak ganteng lagi!," Tambah Ihsan.


"Saya tidak peduli!," Jawab Pak Suwarman.

__ADS_1


Pak Suwarman kemudian memanggil Arian dan Kiram untuk memegangi mereka, dan gunting pun berlalu dari rambut mereka, hingga satu persatu rambut jatuh ke tanah, semua yang melihat ikut menertawakan mereka. "Hahaha, hahaha" Semua ketawa.


Seusai itu semua, Pak Suwarman meninggalkan mereka, sedangkan mereka masih duduk meratapi rambutnya yang jatuh di rumput.


"Salah sendiri!, ngapain sih pakek meledakkan balon segala, balon itu kan penting!" Sontak Azka kesal pada Rama.


"Gue duluan, ya," ujar Arian. "Iya."


Tiba-Tiba saja Riski datang dan tidak sengaja menabrak aku.


"Eh!!, sorry ngak sengaja," Ucap Riski seraya menarikku untuk berdiri.


"Iya ngak papa," ujarku sambil membersihkan bagian lututku dari debu.


"Lho ngak papa, Ris?," Tanya Nanda. "Ngak papa kok, cuma kaget aja tadi."


"Lho kenapa, Riski?" tanya Kiram. "Rokok gue ketinggalan, jadi takut di sita sama Buk Siti," ujar Riski. "Gue duluan ya, buru-buru nih!," Sambung Riski langsung pergi.


Selepas Riski pergi ada bayangan hitam di samping Mauliza tanpa dia sadari.


"Za, sini bentar," ujarku supaya bayangan itu menjauh.


"Kenapa?" tanya Mauliza mendekatiku.


"Ada yang lebih bayanganmu," bisikku. Mauliza sangat terkejut dan membuat dia merinding.


"Kalian kenapa, sih?" Tanya Azka penasaran melihat kami seperti itu. Mauliza membisik di telinga Azka, dan dia pun ikutan merinding.


"Kalian bahas apa?, kok bisik-bisik?" tanya Ikhsan. "Rahasia," jawab kami bertiga.


"Ris, temenin aku ke toilet, yuk ...!, kebelet nikah nih," Mauliza mendadak ingin buang air kecil. "Tengah malam begini?, yakin mau ke toilet?" tanyaku.


"Iya, Azka sudah tidur lagi, maunya kita bertiga aja," Kami pun terpaksa pergi berdua. Aura malam hari sangat sepi apalagi sesekali suara burung hantu di atas pohon membuat bulu kuduk kami berdiri.


Dari kejauhan, aku melihat di bawah pohon Pinus berdiri seorang wanita dengan rambut panjang lagi menunggu sesuatu, siapa lagi kalau bukan Kunti putih, ia tersenyum ngeri pada kami


"Aaauu!!!," Kami langsung lari terbirit-birit hingga ke toilet.

__ADS_1


"Huff ..., ngeri," Gumam Mauliza tersengah- sengah menahan nafas. "Hihihi ...hihihi," Suara tertawa Kunti memecahkan keheningan malam.


__ADS_2