
" Oh ..., jadi kamu bela anak itu?, bahkan kamu rela melepaskan jabatan ketua OSIS demi kamu bela anak itu. Saya kasihan melihat Aprili, dia tetap mau menolong selingkuhan pacarnya," ujar Pak Anwar seraya menatap ke arah Aprili.
" Tahu apa, Bapak?, saya nggak seberengsek itu pada Aprili!, asal Bapak tahu Riska itu adalah adik kandung saya sendiri!," Ungkapan Arian membuat pak Anwar sangat syok mendengarnya.
Tiba-Tiba suara Pak Anwar berubah menjadi Tante Mira lagi, Arian sangat terkejut. " Ngak mungkin kamu Abangnya!, Abang dia sudah aku suruh Nina untuk dihabisin dan mayatnya di buang ke sungai. Kamu pasti mengada-ada!," Ujar Tante Mira yang tadi berwujud Pak Anwar.
" Sudah aku duga, kamu bukan pak Anwar tapi Tante Mira si dukun jahat," Ujar Arian sangat marah.
" Bang!," panggil seseorang dari arah kanan yang ternyata adalah Kiram dengan laki-laki paruh baya bersamanya. Laki-laki itu adalah wakil kepala sekolah yaitu Om Doni, suami Tante Mira.
" Gue sudah bawa Pak Doni, kebetulan gue tadi dengar semua dan langsung memanggil kepala sekolah, tapi yang ada cuma wakil kepala," Jelas Kiram. Tante Mira sepertinya sangat syok melihat Om Doni yang berdiri di samping Kiram. Tante Mira mencubit pipinya sendiri dan berpikir ini cuma mimpi.
" Nina nggak Setega itu buat bunuh keponakannya sendiri, Mira, Aku kecewa liat kamu seperti ini. Dulu aku selamat dari kecelakaan itu, namun kamu dibutakan dengan amarah sehingga berpikir aku sudah mati!" jelas Om Doni.
Ng-Ngak, ngak mas, aku nga--."
" Kenapa?, gak ada alasan lagi, buat kamu. Selama ini aku yang membesarkan Arian bersama dengan Nina dan suaminya, andai kamu tak berulah mungkin kita pasti tetap bersama." jelas Om Doni. " Mas!, plis kita bakalan bersama-sama lagi khan?," pinta Tante Mira." Tangkap dia!," Om Doni menyuruh polisi yang ia sembunyikan dari tadi untuk menangkap Tante Mira.
" Mas!, dengerin aku dulu, Mas." Tante Mira terus saja meminta Om Doni agar tidak ditangkap, tapi Om Doni tidak menghiraukan lagi. Lalu Tante Mira di bawa polisi, sedangkan aku langsung di larikan ke rumah sakit. Tidak ketinggalan Kiram juga ikut bersama kami, sedangkan Om Doni mengurus laporan Tante Mira di kantor polisi.
" Ari, gimana?, gimana keadaan Riska?," tanya Mama pada Arian yang terlihat sangat khawatir.
" Dokter belum keluar, Ma," jawab Arian sambil menenangkan Mama. Waktu aku sadar, ternyata aku sudah berada di ruang rawat inap. Aku membukakan mata yang aku dapati di sampingku adalah Aprili. " Kamu sudah sadar?," tanya Aprili, aku menatapnya. " Tunggu ya, aku panggil semua dulu." Bergegas Aprili keluar ruangan untuk memanggil keluargaku. Tidak lama kemudian Papa, Mama dan seorang dokter masuk ruangan.
__ADS_1
" Riska, syukurlah kamu sudah sadar nak, Mama sangat khawatir tadi," ujar Mama sambil membelai rambutku.
" Sebenarnya saya bingung tentang penyakit anak bapak, apa ia pernah menelan koin?, karna di dalam jantungnya seperti terdapat koin, tapi ... dia baik-baik saja, dan sekarang hasil pemeriksaan terkini koin itu menghilang!." Ungkapan dokter membuat orang tuaku sangat kaget.
Arian dan Kiram masuk ke dalam ruangan, mereka langsung berdiri di sampingku. " Udah mendingan?," tanya Kiram. Aku hanya tersenyum dan mengangguk memberi isyarat pada Kiram bahwa aku baik-baik saja.
" Kata dokter koin yang dikirim oleh Tante Mira tadi si sekolah, sudah tidak ada lagi, dan sekarang aku cuma butuh istirahat selama tiga hari, mungkin ini karena aku banyak memuntahkan darah sehingga aku lemas dan badanku demam tinggi," jelasku pada Mereka.
" Memang, iya?," tanya Arian. " Iya ...!," Arian langsung memegang keningku. " Lah iya, panas banget, ini bikin lemas ngak?," Pertanyaan Arian bikin Aprili mencubitnya.
" Ya-iyalah, namanya orang lagi sakit juga, adikku aja dulu sampai seminggu dirawat, lho ...," ujar Aprili melihat Arian meringis. Kiram berjanji tidak akan membocorkan pada siapapun tentang kejadian ini semua.
Keesokan harinya, pada waktu pulang sekolah , Kiram datang lagi menjengukku seorang diri.
" Iya, Bang Arian mungkin bentar lagi datang, Mama sama Papamu mana?," tanya Kiram sejak tadi belum melihatnya. " Mada dan Papa pulang bentar." Kiram mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang ia bawa. " Apaan tuh, bang?," tanyaku melihatnya menyorongoh plastik. " Buah, dimakan, ya," ujarnya.
" Lho, ngak usah repot-repot, bang." Kiram hanya tersenyum. " Nggak papa, oh iya, gue balik dulu ya, Bang Arian sepertinya mau kesini temani kamu." Aku menyerngitkan keningku. " Kok cepat banget pulangnya?," tanyaku. "Takut di taboh Arian, karna berduaan bareng adik ceweknya." Ucapan Kiram membuat mataku terbelalak.
" Hhh ..., kok serius amat mukanya, bercanda kok, lagi ada kerjaan makanya mau balik sekarang." Aku lega mendengar alasan Kiram. Setelah itu Kiram langsung pergi keluar dari ruanganku. Aku mengambil ponselku dan membuka akun Instagram, dan aku sangat terkejut melihat Kiram sudah Follback akunku.
...----------------...
Beberapa hari kemudian aku sudah boleh masuk sekolah, begitu masuk ke dalam ruangan kelas Azka langsung memelukku erat-erat diikuti pelukan Mauliza juga. Sumpah aku sangat kangen sama mereka semua.
__ADS_1
" Kemana aja selama ini, Ris ...?, nggak ada kabar lagi, kita kangen ,tau?" ujar AKa. " Iya bener tuh, kita kanget banget," tambah lagi Mauliza.
" Aku masuk rumah sakit, makanya nga---," Belum selesai aku ngomong. " Kok ngak bilang, sih!," jawab Azka yang memotong pembicaraanku.
" Aku ngak dikasih pegang hp sama bokap, istirahat total, Azka," jelasku pada mereka.
" Permisi ...!" Tiba-Tiba kak Aprili menyapaku. "Eh, kenapa Kak?," tanyaku. " Ada kelupaan sesuatu nggak?" Aprili balik bertanya padaku, aku tambah bingung tapi aku melihat di tangan Kak Aprili ada kotak makan siangku akhirnya aku baru ingat.
" Ah, iya bekalku kelupaan tadi."
" Nih, ketinggalan di dalam mobil tadi, udah ya Arian menunggu kakak disana." " Iya, Kak makasih." Akhirnya Kak Aprili pun meninggalkan aku dan kawan-kawan.
" Kayaknya kamu dekat sangat sama Kak Aprili, deh," ujar Mauliza. " Sejak kapan, Ris?," tanya Azka. " Udah lama, mungkin," ujarku.
Akhirnya kami masuk ke kelas setelah bell berbunyi dan pelajaran pun dimulai sampai jam istirahat tiba.
" Ris," Panggil Mauliza. " Hem!, sini bentar, Azka juga." Mauliza mengajak kami sedikit menjauh dari meja tempat Sultan duduk, ia lagi sibuk dengan hpnya.
" Sorry nih, Ris, menurutku nih! Sultan sepertinya nggak setia deh!," Ujar Mauliza membuat kami terkejut. " Masa, sih?." Azka tidak percaya dengan perkataan Mauliza.
" Kamu tahu Ris, selama kamu tidak sekolah, Sultan sering main sama cewek lain, lebih-lebih lagi saya tengok dari tadi dia asyik main hp aja." Perkataan Mauliza ada benarnya juga, aku juga merasakan, Sultan hari ini lain dari biasanya. Apa benar ya?
Bersambung ....!
__ADS_1