
"Riska!!, bangun, nanti kesiangan, lho!," Teriak Mama dari luar kamar lalu masuk ke kamarku menggoyang-goyangkan tubuh.
"Em ..., ngak usah sekolah ya Ma, kemarin baru pulang dari camping masih capek dong, Ma," Ujarku dengan mata masih tertutup rapat.
"Ngak, cepetan bangun!, Bang Ari udah nungguin di luar!, kalau gak-----"
"Iya-Iya, Riska bangun sekarang!" aku langsung membuka mataku lebar-lebar lalu meloncat dari rancang.
"Ris, kita nginap bareng yuk!" Mauliza dan Azka mendekati mejaku pada ketika jam istirahat tiba.
"Nginap?" Tanyaku. "Iya, besokkan hari libur , di rumahku juga boleh, rumah Mauliza juga boleh atau rumahmu aja," Jelas Azka. "Tapi kalau di rumahku kayaknya sudah sering deh!, gimana kalau di rumah Azka?," Mauliza memberi pendapat.
"Boleh sih, aku boleh aja, tapi gimana kalau di rumahku aja, gimana?," Tanyaku pada mereka, aku tidak ingat kalau ada Arian di rumah. "Setuju!!!," Serentak keduanya menjawab.
Tiba-tiba perutku berbunyi tanda kelaparan, kami pun ke kantin untuk jajan.
"Ris, liat ini deh!," Mauliza menunjukkan sebuah foto Sultan dengan putri pada saat camping di gunung.
"Putusin aja Ris, ngapain simpen cowok kek gitu," Tambah Azka.
"Ada sih, kepikiran buat mutusin tapi liat dulu deh, kalau sudah terbukti di depan mataku sendiri dan dia tidak bisa mengelak lagi, baru aku ambil keputusan buat mutusin dia," Ujarku.
Tiba-Tiba Azka menunjukkan pada seorang cowok yang lagi duduk membelakangi kami, mejanya jauh dari meja tempat kami duduk. Cowok itu duduk bersama seorang gadis, dan setelah aku perhatikan dari belakang, posturnya seperti Sultan dan Putri.
"Udah Ris, labrak aja!," Ucap Mauliza membuatku mengangguk kepala.
"Tunggu-Tunggu," Aku mengambil hp dari kantongku dan langsung membuka aplikasi chat.
" P"
"Iya, yank, kenapa?"
" Lagi di mana?"
"Di kelas"
"Sama siapa?"
"Nanda"
"Oh"
"Emangnya ..., kenapa?"
"Cuma mau bilang sesuatu ...."
"Bilang aja"
__ADS_1
"Kita udahan ya!"
"Kok gitu?"
"Udah capek"
"Jangan gitu, dong!, salahku apa?"
"Masih nanya?, kamu suka bohong orangnya ..., bikin ngak betah tahu ngak?"
"Boong apa?, kayaknya aku tidak pernah boong deh!"
"Bentar ya, aku kesitu"
"Kesini?, ngapain?, ngak usah balik ke kelas dulu deh, kita lagi ada ujian kejantanan di kelas"
"Aku di kantin"
"Hah!!"
Aku beranjak menghampiri Sultan yang lagi melihat chat dariku. "Hai ...!" Sapaku dengan sinis, keduanya sangat kanget melihat aku hadir di depan mereka.
"Riska?!!, kok---"
"Ngak papa, terusin aja, ngak niat ganggu kok, kita kan sekarang cuma temenan!," Sinisku lagi membuat mereka salah tingkah.
"Mau salah faham apa enggak ..., yang penting aku udahan sama cowok yang kayak dia, jadi santai aja," Ujarku seraya menunjukkan ke arah Sultan.
"Aku bisa jelasin, Ris ..., Sultan memegang lenganku dan aku langsung menepisnya.
"Pergi dulu ya, ada yang lagi nungguin," Azka tercengang melihat caraku, aku langsung menghampiri mereka dan melanjutkan makan sama mereka.
Sultan duduk tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia melanjutkan bicaranya dengan putri, Bagiku itu tidak menjadi masalah karena aku sudah tidak mau lagi punya rasa pada Sultan.
Sepulangnya dari sekolah aku duduk santai di sofa menunggu kedatangan kedua temanku ke rumah. Tidak lama kemudian terdengar suara mereka dari balik pintu, aku segera membukakan pintu.
"Masuk," Ucapku pada mereka kemudian mereka pun masuk kedalam rumah. Sore itu kami lagi asyik-asyiknya ngobrol di dalam kamar dan tiba-tiba dikejutkan dengan ketukan pintu dari luar kamar, aku bangun dan membukakan pintu, ternyata Arian yang berada di balik pintu. Aku menjiplak jidatku melihat mereka tercengang padaku. Sumpah! aku lupa menceritakan kalau Arian itu Abangku dan sudah tinggal bersamaku.
"Bang Arian?!" Serempak keduanya. "Lho?, ada tamu ya?"Tanya Arian padaku.
"Iya ..., hehehe, kenapa kesini?, tanyaku pada Arian yang masih memakai baju seragam sekolah karena ada tugas tambahan dari sekolah sehingga pulangnya sore.
"Mama kemana?," ujar Arian.
"Mama tadi ke warung kak Mimi, katanya mau beli sayur," jawabku.
"Oh, nih punyamu tadi dikasih sama Rili di----,"
__ADS_1
"OMG!!!, Ris kamu sudah nikah?," Seru Mauliza salah faham."Sama Bang Arian, Ris?, gimana Kak Aprili ya?" Sambung Azka terlihat salah faham juga. "Eh, eh!, kalian tenang dulu, apa-apaan kalian, kawin sama Arian!," Cetus Ku dan Arian cuma bisa ketawa saja.
"Ris, jangan bilang kamu mau ngasih suprise ke kami bahwa kamu nikah sama Bang Arian?!," Mereka terus saja ngoceh.
"Kalian benar-benar salah faham lho!, Bang Arian itu bukan suamiku, tapi Abangku!, masak iya sih, aku nikah sama Abangku lagian dia pacar orang," Mereka berdua tercengang dan diam tanpa berkata-kata mendengar pernyataan dariku. Mereka menatap kami dengan serius membuatku ngeri sendiri.
"Mirip dikit ya?, tapi ..., bukannya kamu anak tunggal, Ris?," tanya Azka. "Itu bisa aku jelasin bentar lagi ya ...!," ujarku pada mereka.
"Dek, ini diambil, dong!, Rili ngasih ke kamu pas di sekolah tadi," ujar Arian yang menyodorkan sebuah paper bag padaku, lalu Arian pergi ke kamarnya.
Aku mendekati ranjang dan duduk di antara kedua temanku lalu meletakkan papel bag di sana, lalu mulai menceritakan semua tentang siapa Arian, sampai akhirnya mereka manggut-manggut mulai faham.
Arian duduk di sofa dengan memegang ponselnya, aku dan kedua temanku duduk ikutan duduk di sofa juga. Azka selalu mengarahkan pandangannya ke Arian begitu juga dengan Mauliza, Arian semakin bingung melihat pandangan Azka dan Mauliza karena dari tadi menatap dirinya.
"Kenapa, Dek?," Tanya Arian pada keduanya.
" Ngak papa, kok Bang cuma kagum aja," ujar Mauliza malu-malu. "Owh ...,"
"Ari!!," Panggil Mama dari dapur.
"Iya, Ma!, bentar," Arian kemudian beranjak menuju dapur, namun sebelum Arian ke dapur aku sempat meminjam ponsel miliknya.
Begitu aku nyalakan ponselnya, yang pertama aku lihat adalah fotoku masa kecil terpampang di layar utama.
"Ini fotomu kan, Ris?"Tanya Mauliza. "Iya," Lalu tanganku menuju ke galeri miliknya, ternyata banyak sekali foto -foto masa kecil kami dalam galerinya, entah dari mana Arian mendapatkannya.
"Abangmu kalau di lihat-lihat ganteng juga ya, Ris...," Ujar Azka sambil ketawa kecil.
"Pacar orang, lho!," Sambungku.
Tidak lama Bang Arian datang dan menghampiriku lalu membisikkan padaku bahwa dibelakang kami ada sosok roh yang sedang berdiri, pelan-pelan aku membalikkan badan dan---
"Deg!"
Lagi-lagi wajah roh itu tepat di depan wajahku membuat aku sangat terkejut. "Anjim!, serem amat mukamu!," Ucapku padanya. Melihat aku terkejut Azka dan Mauliza segera menjauh karena takut dan roh itu pun menghilang begitu saja.
"Udah ngak ada kok," Ujar Arian pada Azka dan Mauliza yang bersembunyi di belakang Arian.
"Bang, kalau ada setan jangan cuma ngagetin adiknya dong, lama-lama aku jantungan," Ngoceh ku, Arian hanya tertawa .
"Ha-ha-ha, ngak papa sekali-kali," ujar Arian. "Iihh!"
"Lho?, Bang Arian bisa liat juga?," tanya Mauliza.
"Bisa, tapi rahasiakan aja!," Ujar Arian kemudian mengambil ponselnya kembali.
"Anak-Anak!, udah larut malam nih!, udah bisa tidur!," Teriak Mama.
__ADS_1