
"Riska!!"
Aku membuka mataku dan mendapati mama dan Aryan di sampingku kini, aku sedang berada di kamar, bukan lagi di sekolah
“Riska? , Kamu udah sadar?"Mama tersenyum lega melihatku tersadar.
“lho?, Aku di rumah?"tanyaku. “kamu pingsan di UKS, karena jam pulang kamu belum juga sadar, terpaksa Abang bawa pulang kamu"jelas Arian.
“Bang Kiram mana?"tanyaku karena mendadak ingat akan Kiram
“udah pulang, lah..."
“oh..."
Mama ingin mengambilkan teh di dapur yang tadi sengaja disiapkan untuk kami. Keadaan seketika hening, jika saja aku membahas Kiram lebih lanjut, pasti Arian akan curiga. Jadi, aku memutuskan untuk mengotak-atik ponsel yang terletak di atas nakas
Ada banyak pesan yang masuk, begitu aku memeriksanya aku tersenyum kecil melihat isi pesan tersebut siapa lagi kalau bukan Kiram, Azka dan mauliza
<- Kiram Anggara Saputra
By
Udah sadar?
Jangan tidur terus dong...
Aku khawatir banget tadi..
Besok aku beliin coklat, deh
<- zezek
Di!
Badut!, sadar woi!
Kalau nga sadar sampe besok,
Auto kita kirim Al Fatihah buat kamu
<-maulidin
Riska
Riska
Riska
Udah sadar belum?
Mau ice cream?
Yok kita beli, kamu yang traktir ya." Arian mendadak merebahkan diri di kasurku membuatku menoleh ke arahnya.
“Senyum karena apa, tuh?" Tanya Arian seraya menatap langit kamarku. “Ish!, Abang kok malah rebahin diri di kasurku?"
__ADS_1
“Emangnya gak boleh?"
"Nggak! Ada kamar sendiri tuh" celutukku
“kamar kamu nyaman, tukeran, mau?"
“gak-gak-gak, gak mau. Kamar Abang banyak penghuninya" Arian hanya terkekeh kecil
“Tadi senyum-senyum tuh, kenapa?"
“ih, kepo!"
“cowok ya?"ucapan harian membuatku terkejut.
“mampus aku kalau ketahuan" batinku
“gak kok!, Ya kali aku pacaran"elak ku
Tak lama, Mama datang sambil memegang sebuah nampan berisi tiga gelas teh hangat juga sepiring biskuit
“Nih,ambil" ujar mama
Kami langsung mengambil masing-masing satu gelas teh, meminumnya kemudian meletakkan di atas nakas. Ketika aku ingin mengambil biskuit, Ariel langsung membawa kabur piring berisi biskuit tersebut
“ih!, Abang!,aku juga Pengan makan!" Aku segera beranjak dari kasur dan mengejar Arian yang terus memutari kamarku lalu meninggikan piring itu membuatku tak sampai karena terlalu tinggi
“satu aja,bang..!" Rengek ku
“Ambil aja kalau bisa"
“Ari..! Kasih ke Riska.."ujar Mama.
“Ari kasih kok, ma.., tapi dianya yang nggak ambil.."ujar Arian terkekeh.
“Gimana mau ambil, coba? Piringnya aja tinggi bet"
...****************...
Mauliza berlari dari segerombolan laki-laki musuh nanda. Iya kini menjadi incaran akibat nanda membunuh salah orang pasukan mereka Mauliza bersembunyi di belakang pohon besar yang tertutup dari pandangan. Mengambil ponselnya ada menghubungi ku
"Halo,Ris"
“Iya, kenapa?"
“Ris, aku dikejar sama musuh nanda..!, plis tolongin”..
“Hah?,dikejar?, sekarang kamu dimana?"
“Taman anggrek, di belakang pohon besar, aku sembunyi"
“Tapi, kamu kenapa dikejar, za"
“ Nanda membunuh salah satu seorang anggota musuhnya"
" Aku bakal segera kesana, kamu tunggu, aku di taman juga"
__ADS_1
“Iya,Ris"
Ponsel kini dimatikan dan disimpan di saku melihat keadaan sudah aman mauliza memutuskan mengintip apakah sudah tidak ada musuh lagi.
Terlihat Nanda berdiri tak jauh dari taman, ia segera lari mendekati Nanda, mendadak musuh menemukan mereka Nanda berantam hebat dengan mereka, karena sibuk berantam, Nanda hampir melupakan mauliza yang berdiri ketakutan
Aku segera sampai di posisi mauliza berada, baru saja ingin memanggil Mauliza tepat berada tak jauh dariku, seorang melemparkan batu secara brutal ke kepala mauliza, sedangkan Nanda masih saja sibuk berantam. Hingga akhirnya Mauliza mengeluarkan darah sampai ia pun pingsan dan di larikan ke rumah sakit.
"Mauliza!!" Aku duduk di kursi tunggu tepat di dekat ICU, rasa marah dan khawatir kini tercampur aduk. kiram mencoba menenangkan ku berkali-kali, namun rasa itu tak berubah sama sekali. Sesekali aku memandangi Nanda yang mondar-mandir di depan pintu ICU, aku memandangi nya dengan tatapan tajam dan marah.
“Riska..!" Panggil Azka yang berlari kecil mendekat ke arahku dengan wajah khawatir
“Ris, Mauliza gimana?" Tanya Azka dengan nada gelisah
“Dokter belum selesai” singkat ku. Azka duduk tepat di sampingku dengan kepala yang menunduk ke bawah, sesekali ia memijit pelipis nya dan Rama mencoba mengelus rambutnya yang sebahu itu.
“Nanda !,Lo tau kan apa yang tadi Lo lakuin?, Lo udah bahayain Mauliza!" Tegas Rama pada Nanda.
“Gue gak tau ini bakalan terjadi, ram!"
“Nanda!,Lo sebagai cowok harusnya bisa melindungi cewek Lo!, gue memang ga berhak ngatur-ngatur Lo, tapi Mauliza sahabat dari cewek gw, ngeliat Riska sama Azka gini Lo masih mau bilang Lo gatau ini bakalan terjadi?!" Kiram angkat bicara dengan tegasnya
“Gue sebenarnya ga..."
“Diam ngak!!, setelah semua jadi gini, kamu masih bisa bilang kayak gitu?!" Amarah Azka meledak seketika.
“Klek"
Pintu ICU mendadak terbuka, dokter keluar dari sana dengan wajah sedikit khawatir
“Dok!, Gimana keadaan Mauliza?!" Aku cepat-cepat menghadap dokter.“pasien masih kritis, benturan di kepalanya cukup keras dan kemungkinan pasien akan mengalami koma."
“Kita boleh masuk, dok?" Tanya Rama.
“Boleh, tapi maksimal tiga orang, saya permisi" Dokter segera pergi meninggalkan kami semua, ketika Nanda hendak mendorong pintu,aku segera menghadang nya.
“Mau kemana?, kamu pikir kamu bole masuk?, kamu ngak sadar kesalahanmu itu apa?, hah?!" Tanyaku.
“Benar kata Riska, kamu nggak boleh masuk!, Mauliza bakal lebih sakit lagi kalo kamu yang temui dia!" Ketus Azka
“gue berhak temui dia! Dia pacar..."
“Masih belum sadar?, kamu ngak bakal biarin Mauliza disakitin lagi" ujarku lalu aku dan Azka segera masuk menemui Mauliza
“Za.." lirih Azka.
Aku dan Azka menggenggam lembut tangan mauliza ia kini terbaring tak berdaya. Setelah kejadian itu kami mulai mendingini Nanda sampai Mauliza sadar dari komanya.
“ Padahal minggu lalu kamu ngajakin kita makan ice cream pas Riska pingsan. Sekarang kita makan ice cream yuk Za.. kamu yang bayar.. ya,hehe" perkataan Azka terasa agak menyedihkan. Sungguh aku begitu tidak percaya kalau hal ini bisa menimpa Mauliza.
"Ris, bagaimana ini?, apakah Mauliza bakal cepat sadar?," Ujar Azka yang sangat sedih melihat Mauliza terbaring tidak sadarkan diri.
"uhaa," Aku menghela nafas panjang.
"Ka, semuanya sudah terjadi, mau berbuat apa pun lagi tidak ada gunanya, sekarang kita doain saja semoga Mauliza itu baik-baik saja dan cepat sadar dari komanya. Akhirnya Azka mengusap air matanya yang keluar membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kamu bener Ris, sekarang kita harus doain kesembuhan Mauliza.