Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
47. Kiram Kecelakaan


__ADS_3

“NGAPAIN DISINI?"ketus Azka ketika melihat Nanda di ruangan.


“gue mau ketemu mauliza"


"Gak, kamu lebih baik segera"tambah ku


“klo gak?"singkat Nanda "kita bakal panggil security"


Terpaksa nannda pergi dari sana menjauh dari ruangan


“Za, masih belum mau sadar, ya?"


Sepulang dari rumah sakit, kami menghabiskan waktu bersama pacar masing-masing di taman


“Riska" ayu tiba-tiba muncul di hadapanku.


“Suman sudah mati"


Perkataan ayu membuatku terkejut bukan main juga tak percaya. “ini beneran Ris, Aldi dan aku udah mastiin, dia mati ketimpa pohon pas hujan kemarin lusa" jelas ayu. “jadi... Masalah udah kelar sekarang?"


“Iya"."yes!"


"Lho?,kamu kenapa?" Tanya kiram mendekatiku


“dukun yang buat aku melihat kepala itu udah mati, senang banget akhirnya dia ga bisa nyantet lagi.."


“Aku turut senang" ujar Kiram tersenyum seraya mengelus rambut panjangku yang di ikat


Di tengah itu semua, cuaca mendadak mendung. Gerimis turun mengenai kulitku, “kayaknya bakal turun hujan,deh" ujarku.


“kita pulang aja yuk, entar kejebak lagi" ucap Kiram begitu ucapan Kiram selesai, hujan turun dengan lebatnya.


Kami segera lari untuk berteduh di sebuah minimarket, kebetulan motor Kiram ada di depan minimarket.walaupun motonya disana,tetap saja akan basah kuyup.


“tau gini aku bawa mobil aja tadi" ujar Kiram.


“ tapi kan nggak enak...,ngak bisa nikmatin angin jalanan juga ga ribet.."balasku. “bukan masalah ga enak, sayang... kalau hujan kan sama aja ga bisa pulang.." Kiram merangkul ku sambil menyelipkan rambutku di belakang telingaku.


“Iya deh,iya." Tiba-tiba ada sesosok menyerupai ku berjalan menerobos hujan. Sosok itu tembus pandang, tapi kiram masakan dapat melihatnya. Ia melerai rangkulannya dan menatap sosok yang menyerupai ku itu dengan tatapan khawatir.


“yang.., jangan terobos hujan..!" Kiram berjalan mengikuti sosok itu membuat ku bingung. “Kiram!” panggilku tak di gubris. “kiram!" Lagi-lagi tak di gubris


“lho?,mbak, itu pacarnya?, kok jalan sendiri di tengah hujan gini?" Tanya salah seorang karyawan minimarket

__ADS_1


“Berarti cuma Kiram yang bisa lihat, dong..." Batinku.


Aku segera menyusul Kiram, namun sosok itu menuju jalan raya membuat Kiram ikut menyusul


“Riska..! Jangan kesana..!bahaya..!" Teriak Kiram


“Kiram..!jangan kesana itu bukan aku..!" Teriakku


Sosok itu berdiri tepat di tengah jalan,sebuah mobil mendekat ke arah sosok itu.kiram segera berlari seperti ingin menyelamatkan sosok itu


“Kiram..!!,jangan kesana..!!" Aku segera berlari menyusul Kiram yang menuju ke arah jalan raya


Mobil mendekat,Kiram berlari di tengah jalan ingin menyelamatkan sosok itu dan....


“Tit-tit!!" Klakson mobil


“Brukk!!"


“Kiram!!!"


Darah bercucuran mengelir bersama air hujan, jalanan di penuhi dengan darah seakan sedang hujan darah.kiram terkapar di tengah itu semua, matanya tertutup rapat juga banyak orang berdatangan ingin meliha itu semua


“Ram..! bangun..!" Air mata mulai turun bersama derasnya hujan yang membasahi pipiku


“Kiram..!!"


“Nak.." panggil wanita itu, aku segera menoleh ke arah wanita itu sambil menyapu air mata di pipiku.


“Iya,Tante, kenapa ya?" Wanita itu duduk tepat di sampingku


“Kamu pacar nya Kiram,ya?" Tanya wanita itu di sambut anggukan dari ku, wanita itu tersenyum lalu memegang kedua tanganku


“Tante, mamanya Kiram, makasih ya..udah mau jadi pacar nya Kiram"


Mataku melotot seketika, “Mamanya Kiram?" Bantinku, “tante mamanya Kiram?" Tanyaku di balas anggukan dari nya."Nama Tante Shifa,nama kamu siapa?"


“Riska,Tante" , “Nama yang bagus",“makasih Tante"


Aku bingung, mengapa Shifa (mamanya Kiram) menghampiriku, bukankah harusnya ia menemani Kiram di ruang ICU yang sedang kritis?


Shifa menatap lurus ke depan namun genggamannya tak berubah, tetap menggenggam tanganku


“Tante terkejut begitu mendengar Kiram kecelakaan"

__ADS_1


Aku hanya menundukkan pandanganku ke arah lututku. Penuturan shifa begitu menyedihkan ia tak jarang mengeluarkan air mata dari tadi saat bercerita


“Tante..maafin Riska..Kiram kecelakaan karena Riska gak kuat kuat buat halangin Kiram agar gak ke jalan raya.." ujar ku lirih,Shifa menatap lekat ke arah ku


“Riska, sebenarnya apa tujuan Kiram ke sana..?,Tante selalu saja sibuk sampai tak mendengar curahan Kiram tentang masalahnya.." ujar shifa


“Tante,Riska pengen jujur ke Tante"


Aku menceritakan semua kisah tentang diriku, semua kisah yang ku lalui dengan mata batinku. Shifa dengan setianya masih menunggu ceritaku usai, aku juga menceritakan tentang kejadian yang terjadi beberapa jam yg lalu mengenai alasan Kiram kecelakaan


“Gitu Tante..maafin Riska.."


Shifa langsung memelukku dengan air mata yang bercucuran “Tante ga nyalahin kamu,Riska..,Tante tau pasti kamu jalanin hari dengan berat selama ini. Makasih banyak udah mau nerima putra tante"


“yang harusnya berterima kasih itu Riska, Kiram udah mau nerima Riska apa adanya, Riska ngerasa selama ini selalu ada nyusahin kiram.."


Shifa kemudian mengajakku untuk bertemu Kiram di ruang ICU. Seorang laki-laki paruh baya duduk di depan ruangan itu. Ia mengarahkan pandangannya pada kami


“Mas..,ini pacarnya Kiram namanya Riska..dia yg udah bawa Kiram ke sini" ujar shifa


Laki-laki itu segera beranjak dari duduknya, dan mendekati kami, “Makasih karena udah bawa Kiram kesini dengan tepat waktu, Dokter bilang..., kalau aja ia telat dua menit saja..ia..",“om, ngak usah berterimakasih.." lirihku.


Seusai berbincang sesaat, aku masuk ke dalam ruangan ICU di mana Kiram terbaring dengan berbagai alat medis di sekujur tubuhnya.


“Jadi..segitu sayang kamu sama aku?, seharusnya ga usah sampe gitu aku juga senang, Ram.."


Mendadak ponselku berdering menampilkan kontak dengan tulisan “Abang"


“tante, Riska angkat telpon dulu,ya.." Shifa hanya mengangguk. Aku berjalan ke sudut ruangan dan langsung menekan tombol hijau di benda pipih tersebut


“Hallo, bang.."


“Riska,kok belum pulang?,ini udah sore,lho..kejebak hujan,ya?"


“em..itu..aku lagi di rumah sakit bang.."


“Rumah sakit?,siapa yang sakit?"


Aku memejamkan mata lalu menarik nafas perlahan, rasanya tak sanggup bila mengatakan semuanya


“Kiram kecelakaan,bang..Abang kesini ya? Jemput aku.." lirihku


“Apa?, Kiram kecelakaan?!"

__ADS_1


Arian berlari kecil di koridor rumah sakit menghampiriku, sebuah ruangan ia membuka pintu ruangan itu dan mendapati ku, Kiram dan 2 orang paruh baya. Arian segera meyalimi keduanya bergiliran


“Arian?.." ucap Shifa melihat Arian. Pandangan harian tertuju pada Kiram yang tengah berbaring di ranjangnya juga diriku yang duduk tak jauh dari sana. Arian cukup dikenali oleh orang tua Kiram karena sering datang ke rumah Kiram untuk menyelesaikan tugas osis nya


__ADS_2