Antara Dua Alam Yang Berbeda

Antara Dua Alam Yang Berbeda
Seoson 2 Part 3 Terkabul


__ADS_3

Arletta duduk di taman rumahnya sedang ia sibuk dengan PR menggambarnya. Pikirannya benar-benar tak fokus, iya terus kepikiran akan mata batin.Arletta berharap agar papa nya mengizinkan nya memiliki kemampuan itu, terus terang ia ragu bahwa papanya akan memenuhi keinginannya


"Yiit-yiit, yiit-yiit"


Mendadak ayunan yang tak jauh darinya bergerak dengan sendirinya. Membuat Arletta terus memandangi ayunan tersebut"gara-gara angin ya?.."gumamnya.


Tiba-tiba ia berpikir bahwa bagaimana mungkin ayunan itu bisa bergerak sedangkan tak ada angin yang berhembus dari tadi


"Udahlah let.., jangan mikir yang aneh-aneh! Mungkin saja itu kucing"menolong Arletta


Arletta kemudian melanjutkan menggambar kembali namun kadang-kadang matanya terus tertuju ke ayunan itu"kalau aja gue punya mata batin pasti gue udah tahu siapa yang gerakin tuh ayunan"gumam Arletta


Riska yang sedang duduk di kursi teras bersama Kiram papanya Arletta, pandangan mereka selalu tertuju pada Arletta yang menatap ayunan dengan kepala yang menggeleng-geleng.


"Kamu udah kasih tahu pengalaman milikmu ke letta?"tanya Kiram


"Udah mas..,masi aja dia keras kepala"jawab Riska


"Di liat liat gini.. kasian juga,ya.. kayak nya dia kepingin banget"Kiram mengambil secangkir teh hangat lalu meminum nya


"Pokoknya aku gak mau tau ya mas.., kamu jangan izinin letta.kamu tahu kan seberapa beresiko nya kemampuan itu?"Ujar Riska."Tau,sayang.., lagian kalau soal itu kan harus ada persetujuan dari kamu dulu.."kiram memandangi lekat wajah Riska seraya tersenyum.


Arletta duduk termenung di dekat ayunan mendadak ayunan itu bergoyang dengan sendirinya."Eh kok gerak?"ucap Arletta.ketika Arletta mencoba untuk mendekat ada ranting pohon yang akan terjatuh pada nya. Entah dari mana Riska datang dan segera menahan ranting pohon itu agar tidak mengenai Arletta


"Mama?"


"Kamu jangan main di sini sementara waktu, ya?"


"Lho? kenapa?"


"Pokoknya gak boleh, bisa bahaya nanti"seusai mengucapkan itu Riska menarik Arletta ke teras rumah.


"Kamu di sini dulu temenin papa, Mama mau panasin lauk"Riska segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Arletta dan Kiram di teras


"Mama aneh banget"ujar Arletta kemudian duduk di sebelah papa nya.


"Mama kamu gitu wajar saja, mama kamu pengen kamu gak kenapa napa"Kiram mengelus rambut Arletta lembut.


"Emangnya di taman kenapa, pah?"tanya Arletta


"Papa kurang tahu tapi kayaknya yang main di situ hantu kembar deh.., mereka usil banget kata Mama"ujar Kiram


"Hantu kembar? Kok bisa?"

__ADS_1


"Mereka teman masa kecil nya mama?."


Arletta memainkan jari telunjuknya ia kemudian menarik nafas panjang"pa"


"Hem?"


"Pah, letta pengen punya kemampuan melihat setan..."ujar Arletta


"Ngeliat setan? mata batin maksud kamu?"Arletta mengangguk iya


"Iya pa.., itu maksud letta, boleh nggak pa?"


Kiram menatap arleta yang memandanginya.


"Gak"jawaban itu membuat Arletta tak senang "boleh dong, pa.."


"Gak "singkat Kiram


"Please pa.."Arletta mengeluarkan jurus yang biasanya ampuh pada papanya yang tak lain adalah jurus memelaskan mata. Kiram tetap kokoh pendirian dan tetap menolak keinginan putrinya itu.


"Letta.. itu bahaya, papa dulu sampai kewalahan urus kemampuan Mama kamu, lagian kenapa kamu pengen banget itu? Bukannya udah nyaman kita hidup tanpa gangguan gitu?"


"Tapi pa_"


"Letta ke kamar dulu"selesai mengucap itu Arletta sekarang masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya. Kiranya menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap putrinya itu


Riska yang sudah selesai memanas lauk memandang Arletta yang berlari ke kamar dan membanting pintu keras. Riska langsung menebak apa yang terjadi, ia tahu betul bagaimana Arletta.


Dengan segera Riska menuju ke kamar Arletta yang ada di lantai 2, begitu masuk ke Riska mendapati Arletta yang sedang menangis memeluk bantal


"Kenapa sih nggak ada yang ngertiin letta"Isak Arletta


Riska duduk di sebelah putrinya itu dan mengelus kepalanya.


" Mama dan papa kayak gini demi kamu juga sayang.."


"Padahal cuma lihat hantu, bahayanya di mana mah?"


"Kamu udah gede sayang nanti kamu paham sendiri, oh iya nanti Om sama Tante kamu ke sini kita makan malam bersama."


Riska membuka pintu rumah ketika beberapa tamu menunggu di luar, Kiram dengan segera memeluk seseorang laki-laki yang tak lain adalah Abang dari Riska.


"Gimana kabar lo bang?"tanya Kiram

__ADS_1


"Alhamdulillah, gue baik-baik aja sehat walafiat"


"Bang Ari Kak Riri,masuk gih... Anak-anak juga"ujar Riska


Mereka semua kemudian masuk dan duduk di ruang tamu untuk berbincang sesaat"udah lama kita nggak ketemu ya Riska"ujar istri dari Abang Riska Arian, yaitu Aprili.


"Iya udah lama,si kembar juga udah pada gede-gede ya.."


"Haha, nggak usah dibilang lagi itu mah.. hampir bisa dinikahin ini"ucap aprili membuat Ria dan Rio nge-push.


"Masih dini mah! Kami kan mau kuliah dulu"ucap Ria membuat semua orang tertawa.


"Kan bisa juga sayang.."ujar Riska.


"Pokoknya nggak deh"


"Ah iya aku ada buat kue dan mie goreng juga ada, kemeja makan yuk!"ujar Riska.


"Wah Rio juga udah lapar nih Tan, dari tadi ini baru keroncongan mulu…!"Rio juga berhasil membuat semua orang tertawa


Di meja makan sudah tersedia berbagai makanan siap untuk disantap, selesai makan barulah Arian dan keluarganya menyadari bahwa Arletta tidak terlihat sedari tadi


"Lho? Arletta nya mana?"tanya Aprili.


"Di kamar kayaknya"jawab Kiram.


"Dia lagi ngambek gara-gara permintaannya nggak dikabulin." Riska membawa pencuci mulut untuk mereka


"Permintaan apa?"tanya Arian


"Huff... Dia pengen milikin mata batin, itu kan bahaya makanya kamu nggak izinin,tau-taunya ngambek"ujar Kiram


"Bener sih tapi ini bukannya permintaannya udah berlebihan ya? Takutnya letta ngelakuin yang nggak-nggak nantinya.. lebih baik ajukan syarat aja"Arian mulai mengupas apel yang diambilnya tadi


"Syarat? Syarat gimana?"tanya Kiram


"Gini nih.. kita kasih tes buat letta, kalau iya berhasil berarti kalian harus izinin tapi kalau dia gagal berarti ia nggak dapat izin, bereskan?"jelas Arian


"Tes gimana coba? Kamu masih macam-macam ya sama ponakanku!"ucap aprili


"Tenang tenang aja kok, sebelumnya kalian setuju kan?"punya Arian pada orang tua Arletta"iya setuju Bang"jawab Riska disambung-anggukkan dari Kiram.


Arian kemudian menyuruh Ria untuk memanggil Arletta dan Ria pun menurutinya. Tak lama Ria turun bersama dengan Arletta lantai 2 menuju ke tempat Riska dan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2